Kisah Cinta Salman Al Farisi

Cinta adalah suatu hal yang tidak akan pernah habis sampai kapanpun. Dari banyaknya kisah manusia hanya ada dua akhir dari cinta, yaitu bahagia atau kecewa. Berani mencintai berarti berani mengambil risiko untuk patah hati. Mungkin kita pernah mendengar istilah menelikung cinta. Atau seseorang harus menghadapi kenyataan pahit, bahwa orang yang kita cintai justru memilih sahabat kita sendiri untuk dinikahi. Tak dapat dibayangkan bagaimana perasaan itu.
Tahukah anda bahwa kisah tersebut sudah terjadi lebih dari 1000 tahun yang lalu itu terjadi pada sahabat Rasulullah, yaitu Salman Al farisi. Darinya kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran sebagai seorang mukmin yang sejati. Kisah tersebut termaktub dlm kitab Shifat Al Shafwah karya Ibnu Al Jauzi.
Salman alfarizi adalah seorang mantan budak dari Isfahan Persia. Kisah cinta Salman terjadi di Madinah setelah dia menjadi muslim dan jadi sahabat dekat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau diam-diam menaruh hati kepada seorang gadis Anshor.
Maka untuk menyempurnakan sunnah Rasulullah Salman bertekad untuk melamar gadis pujaannya tersebut. Namun dia tidak berani melamarnya, karena dia seorang imigran sehingga merasa asing dengan tempat tinggalnya sekarang yaitu Madinah. Bagaimana cara melamar dan adat atau tradisi mengkhitbah wanita di Madinah.
Kemudian Salman Al farisi mendatangi sahabatnya yang merupakan penduduk asli Madinah yaitu Abu Darda’.
Dia bermaksud meminta bantuannya untuk mengakhitbah wanita pujaannya tersebut. Mendengar rencana Salman tersebut, Abu Darda’ sangat sangat girang,”subhanallah walhamdulillah.” Dia memeluk Salman dan bersedia membantu dan mendukung.
Setelah beberapa beberapa hari mempersiapkan segala sesuatunya, Salman Al farisi pun mendatangi rumah wanita tersebut dengan didampingi oleh Abu Darda’. Setibanya dirumah itu keduanya diterima dengan baik oleh tuan rumah.
“Saya adalah Abu Darda’ dan ini adalah sahabat saya dari Persia Salman Al farisi. Allah telah memuliakan Salman dengan Islam. Salman juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Dia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah SAW, bahkan beliau telah menganggap Salman sebagai ahlul bait atau keluarganya. Saya mewakili saudara saya Salman untuk melamar Putri anda,”kata Abu Darda’ kepada ayah wanita tersebut untuk menjelaskan maksud kedatangannya.
Mendengarnya si tuan rumah merasa terhormat. Kedatangan dua orang sahabat dekat Rasulullah dan salah satunya bermaksud melamar putrinya.
“Sebuah kehormatan bagi kami menerima kedatangan sahabat Rasulullah dan sebuah kehormatan bagi keluarga kami jika mempunyai menantu dari kalangan sahabat Rasulullah,” Ujar ayah si wanita
Meskipun yang datang adalah seorang ayah tetap meminta persetujuan sang Putri.
“Jawaban lamaran ini menjadi hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu kami serahkan sepenuhnya kepada putri kami,” ujarnya kepada Abu Darda’ dan Salman Alfarizi.
Sang ayah memberikan isyarat kepada putri dan ibunya dari balik hijabnya. Mewakili sang Putri ibunya pun berkata, “mohon maaf kami perlu berterus terang. Putri kami menolak lamaran Salman.”
Jawaban itu tentu saja menghancurkan hati Salman tetapi beliau tetap tenang.
Tak sampai di situ ibundanya pun melanjutkan jawabannya,” Karena kalian berdualah datang dan mengharapkan ridho Allah, Saya akan menyampaikan bahwa putri saya akan menjawab iya apabila Abu Darda’ punya keinginan yang sama dengan Salman.”
Kalau pria pada umumnya pastilah hatinya hancur berkeping-keping,dan patah hati yang amat sangat. Bagaimana tidak, wanita yang dilamarnya malah memilih sahabatnya sendiri, yang menemani datang melamar. Tetapi Salman adalah pria yang saleh, dari kalangan sahabat Rosululloh. Dengan ketegaran hati Salman menjawab dengan girang, ” Allohu Akbar,”
Siapa sangka dalam keadaan patah hati Salman tidak membenci sahabatnya. Dia justru turut berbahagia. Perasaan tegar dan ikhlas menghantarkan Salman untuk melepaskan harapannya ,” semua mahar dan nafkah yang telah aku persiapkan ini aku serahkan kepada Abu Darda’ dan aku sendiri yang akan menjadi saksi pernikahan mereka.”
Begitu besar dan mulianya hati Salman Al Farisi, meski kisah cintanya tidak seperti yang dia inginkan. Dia sadar bahwa cintanya kepada manusia tidak boleh melemahkan imannya kepada Alloh SWT.
Salman tahu artinya persahabatan sejati. Tidak ada sedikitpun rasa benci di dalam hatinya kepada Abu Darda’, justru dia berbahagia saat sahabatnya itu berbahagia. Apalagi Rosululloh yang membuat ikatan persaudaraan antara keduanya.
Maka benar sabda Rasulullah,” tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri,” ( HR Bukhari).
Itulah kisah cinta Salman Al Farisi, dari beliau kita belajar tentang keikhlasan dan arti persahabatan sejati yang didasari dengan iman.

(Bu Yayuk)

Artikel yang Direkomendasikan