Ketika Orang Tua Terlalu Menuntut Anak Berprestasi

Ilustrasi seorang ibu sedang menasihati anaknya yang tampak sedih, menggambarkan tekanan orang tua yang terlalu menuntut anak berprestasi.
Curhat anak tentang tekanan orang tua agar selalu berprestasi, menggambarkan pentingnya komunikasi yang lembut dan saling memahami dalam keluarga.

Sabilulhuda, Yogyakarta: Ketika Orang Tua Terlalu Menuntut Anak Berprestasi – Ada banyak keluarga, tuntutan orang tua agar anak berprestasi itu sering kali terdengar seperti bentuk kasih sayangnya mereka terhadap anaknya. “Kamu harus dapat nilai bagus,” atau “Coba masuk universitas terbaik, ya.” Kalimat yang tampak sederhana ini, tanpa kita sadari, bisa menjadi beban besar bagi anaknya.

Maka tak jarang, hal ini dapat membuat anak anak mereka itu mengalami tekanan, overthinking, bahkan muncul rasa jauh dari orang tuanya sendiri.

Fenomena ini bukanlah hal yang baru. Seperti yang di sampaikan oleh Dr. Aisyah Dahlan, bahwa banyak anak itu merasa kehilangan ruang aman di rumahnya karena merasa mereka selalu dituntut oleh kedua orang tuanya. Padahal, dalam ajaran Islam sendiri, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

“Katakanlah kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui dan sukai.”

Artinya, dalam mendidik anak pun, penting untuk menyesuaikan pendekatannya sesuai dengan kondisi, minat, dan kemampuan anak tersebut.

Antara Harapan Dan Tuntutan

Perlu kita pahami, bahwa tidak semua harapan orang tua itu salah. Orang tua yang bekerja keras ingin melihat anaknya sukses tentu ini hal yang wajar. Namun, yang sering menjadi masalah adalah cara menyampaikan harapan tersebut.Harapan yang terlalu sering kita ulang ulang kepada anak tanpa rasa empati bisa terasa seperti tekanan.

Baca Juga:

Ilustrasi ibu berhijab berbicara lembut dengan anak laki-lakinya dalam suasana hangat, menggambarkan proses memahami watak bawaan anak.

Memahami Watak Bawaan Anak Untuk Membentuk Karakter Yang Kuat https://sabilulhuda.org/memahami-watak-bawaan-anak-untuk-membentuk-karakter-yang-kuat/

Bagi anak yang cenderung sensitif atau introvert, nasihat dari orang tua itu bisa ia artikan sebagai tuntutan yang besar. Dari sinilah sehingga muncul perasaan cemas, takut gagal, bahkan kehilangan motivasi untuk belajar.

Sementara di sisi lain, orang tua pun kerap berada dalam tekanannya mereka  sendiri. Mulai dari masalah ekonomi, pekerjaan, hingga tanggung jawab yang besar dalam membiayai pendidikan anaknya tersebut. Dalam kondisi stres seperti itu bisa membuat mereka lebih mudah menuntut, tanpa sadar efeknya pada psikologis anak.

Mengatasi Rasa Tertekan Dan Trust Issue

Anak yang terus menerus merasa tidak cukup baik bisa mengalami trust issue, atau sulit percaya pada orang lain, termasuk kepada orang tuanya sendiri. Mereka takut curhat karena khawatir mereka tidak didengar atau malah di salahkan.

Padahal, komunikasi dua arah antara anak dan orang tua adalah kuncinya. Jika anak tidak bisa terbuka pada orang tua, ia akan mencari tempat lain untuk mencurahkan isi hatinya. Bisa teman, media sosial, bahkan mereka dapat memendamnya sendiri hingga berujung stres.

Menurut Dr. Aisyah, penting bagi anak untuk belajar memaafkan orang tua yang mungkin belum memahami ilmu parenting. Sementara itu orang tua juga perlu terus belajar agar mereka bisa memahami dunia anak yang kini penuh dengan hal hal yang baru.

Baca Juga:

anak mendengarkan bacaan al-qur’an bersama ibu di rumah, parenting islami, keluarga muslim bahagia

Manfaat Dahsyat Memperdengarkan Bacaan Al-Qur’an Pada Anak https://sabilulhuda.org/manfaat-dahsyat-memperdengarkan-bacaan-al-quran-pada-anak/

Langkah Untuk Membangun Koneksi Kembali

  • Mulai dari mendengarkan tanpa menghakimi. Anak hanya butuh di dengar, bukan selalu di beri solusi.
  • Berikan harapan, bukan tekanan. Katakan, “Ibu percaya kamu bisa berusaha yang terbaik,” bukan “Kamu harus dapat A, ya!”
  • Berikan ruang untuk gagal. Dari kegagalan itu, anak dapat belajar lebih mandiri dan mengenal dirinya sendiri.
  • Luangkan waktu bersama. Seperti makan malam tanpa gawai bisa mempererat hubungan.

Dalam pendidikan parenting itu bukan soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang mau belajar dan dapat memahami lebih dulu. Anak yang merasa di dengar, mereka akan tumbuh lebih percaya diri dan tenang.

Sementara orang tua yang belajar dalam memahami kondisi anaknya, mereka akan menemukan bahwa cinta tak selalu harus di wujudkan dalam bentuk tuntutan.

Baca Juga: PRINSIP DALAM MENDIDIK ANAK