Ketika Logika Menang! Tapi Adab Hilang Di Zaman Modern – Di tengah derasnya arus media sosial, muncul fenomena baru yang seolah menjadi cermin dari arah moral masyarakat kita. Orang semakin pintar berlogika, tapi semakin miskin dalam perkara adab.
Kasus yang menimpa salah satu stasiun televisi nasional baru-baru ini, yang dinilai menyinggung kehidupan santri. Hanyalah satu contoh kecil dari benturan nilai yang lebih besar antara budaya adab dan budaya logika bebas.

Benturan Nilai Antara Adab Pesantren Dan Logika Modern
Kita sekarang ini hidup di zaman di mana segalanya harus “masuk akal.” Orang menilai sesuatu itu semata-mata dari sisi rasionalnya, tanpa mereka itu mau memahami makna yang lebih dalam lagi. Akibatnya, banyak yang keliru cara menafsirkan tradisi di pesantren.
Pengabdian santri kepada kiai, misalnya, mereka menganggapnya sebagai bentuk ketundukan secara buta atau bahkan perbudakan spiritual.
Padahal, dalam pandangan di pesantren, khidmah (pengabdian) justru adalah latihan untuk menundukkan ego dan belajar ikhlas. Dari situlah lahir kemerdekaan jiwa, bukan kebodohan, tapi kebijaksanaan.
Ketika Akal Menjadi Tuhan Dan Adab Ditinggalkan
Masalahnya, masyarakat modern seperti sekarang ini, kini mereka terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai krisis otoritas moral. Dulu, orang mencari pedoman hidup itu kepada para ulama, guru, dan kiai. Sekarang, mereka lebih percaya kepada kreator konten atau tokoh media sosial.
Dari perpindahan pusat otoritas inilah yang membuat nilai-nilai luhur itu kehilangan ruang hidupnya. Akibatnya, yang berilmu memilih diam, sementara yang belum paham justru paling lantang berbicaranya.
Padahal, dalam tradisi Islam Nusantara, logika dan adab itu tidak pernah saling meniadakan. Keduanya malah justru berjalan secara beriringan. Logika menjaga manusia itu dari kesesatan berpikir, sedangkan adab menjaga manusia dari kesombongan dalam berpikir.
Baca Juga:

Ketika Akhlak Diuji Di Era Digital: Refleksi Kasus Trans7 & Nilai Santri https://sabilulhuda.org/ketika-akhlak-diuji-di-era-digital-refleksi-kasus-trans7-nilai-santri/
Ketika seseorang belajar ilmu tanpa adab, ia akan menjadi pandai, tapi mudah menghina. Namun ketika ia belajar ilmu dengan adab, ia akan menjadi bijak dan mampu menghormati perbedaan.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan,
“Akal itu seperti lampu, tapi tanpa adab, lampu itu bisa membakar pemiliknya.”
Kalimat itu terasa sangat relevan hari ini. Banyak orang memakai akalnya untuk menyalakan api perdebatan, bukan untuk menerangi jalan kebaikan. Padahal, hakikatnya akal adalah alat untuk memahami, bukan untuk menjatuhkan.
Peran Santri Dan Ulama Dalam Mencerahkan Dunia Maya
Fenomena yang kita lihat sekarang ini dari caci maki terhadap ulama, ejekan terhadap pesantren, hingga penghinaan terhadap simbol keagamaan, sebenarnya bukan semata persoalan media. Tetapi ini adalah gejala perubahan budaya.
Kita sedang menyaksikan masyarakat yang bergeser dari tradisi yang berakar pada rasa hormat menuju budaya yang di dorong oleh ego kebebasan. Semuanya ingin di dengar, tapi sedikit yang mau mendengarkan.
Namun, di balik keprihatinan ini, tersimpan peluang yang besar. Kaum santri dan para kiai justru memiliki peran yang strategis untuk memperbaiki arah wacana publik.
Caranya bukan dengan marah, tetapi dengan berkarya bisa dengan menulis, berdialog, dan menghadirkan narasi positif di ruang digital. Karena bila orang beradab diam, maka ruang itu akan diisi oleh kebodohan yang fasih.
Akhirnya, Zaman Ini Butuh Orang Beradab, Bukan hanya Pandai Saja
Sebagaimana di ingatkan Husain Ja’far,
“Puncak akhlak seseorang adalah ketika ia bisa berakhlak kepada orang yang tidak berakhlak.”
Mungkin inilah ujian zaman kita sekarang: apakah kita masih mampu menjaga akhlak di tengah dunia yang kehilangan rasa hormat.
Akhirnya, kita boleh cerdas setinggi langit, tapi tanpa adab, kecerdasan itu tidak akan memberi cahaya.
Dan barangkali, tugas terbesar generasi santri hari ini adalah sederhana namun agung: mengajarkan bahwa adab bukan sisa masa lalu, tapi penuntun masa depan.
Baca Juga: Wamenag: Santri Laksana ‘Sayap Burung’, Ilmu dan Akhlak Harus Seimbang













