Kering Tempe

    Matahari menyapa dari ufuk timur. Disebuah pondok pesantren, seorang ibu paruh baya tengah membangunkan santriwati dari tidur lelap mereka. Vira, salah seorang santriwati di pondok tersebut bergegas bangun untuk menunaikan sholat subuh. Selepas sholat, Vira dan santri lainnya melakukan tadarus Al-Qur’an bersama. Kemudian setelah itu, mereka akan mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Usai mandi pagi dan sarapan, Vira  berangkat menuju sekolah dasar tempatnya menuntut ilmu. Ia berangkat menuju sekolah dengan berjalan kaki.

    Sampai di sekolah, Vira langsung masuk ke kelasnya dan membalas sapaan hangat dari teman sebangkunya yang bernama Wina. Tak berapa lama, bel tanda dimulainya pelajaran berbunyi. Vira mengikuti pembelajaran dihari itu dengan sungguh-sungguh. Selang beberapa waktu kemudian, bel istirahat berbunyi. Wina mengajak Vira untuk memakan bekal yang dibuatkan ibunya. Sebab Vira sendiri lupa untuk membawa bekal. Untung ia memiliki teman yang baik, yang tidak segan berbagi makanan padanya.

Wina: “Vir ayo makan, aku bawa bekal nih!”

Vira: “Iya Win, waaah bawa bekal apa tuh Win?”

Wina: “Ini namanya kering tempe Vir, buatan ibuku. Enak lho!”

Vira: “hmmm, iya nih dari tampilannya aja sudah kelihatan enak. Boleh aku mencobanya?.”

Wina: “iyap, boleh banget Vir!” (Sambil menunjukkan senyum manisnya)

     Setelah mencicipi kering tempe buatan ibu Wina, Vira jadi ingin mencoba membuat masakan yang sama. Ia pun berencana akan membujuk mbak Dina yang bertugas memasak di pondok untuk membuat kering tempe seperti buatan ibu Wina. Selama pelajaran setelah istirahat, Vira sudah tidak fokus karena menantikan bel pulang. Ia ingin segera kembali ke pondok untuk mengatakan keinginannya itu.

      Waktu telah menunjukkan pukul 12.00, saatnya pulang kembali ke rumah masing-maisng. Halaman sekolah telah penuh dengan anak-anak yang berlarian untuk kembali ke rumah mereka. Begitupun dengan Vira, yang juga bersemangat untuk segera sampai di pondok dan menyampaikan keinginannya.

    Tanpa melepas seragam terlebih dulu, Vira langsung menghampiri mbak Dinaang sedang menyiapkan peralatan masak di dapur.

Vira: “Assalamualaikum mbak Dina, hari ini masak apa?”

Mbak Dina: “Waalaikumussalam, duh baru pulang sekolah kok gak ganti baju dulu langsung ke dapur nanya masak apa?. Emang kenapa Vir?” (tanya mbak Dina dengan lembut)

Vira: “itu lho mbak, aku pengen makan masakan seperti yang dibuat ibu Wina. Soalnya tadi tu aku lupa bawa bekal Mbak. Terus Wina nawarin bekal makanan yang dia bawa dan rasanyaaa uenak banget mbak. Aku jadi pengen makan lagi.”

Mbak Dina: “Ooo gitu to, lah memangnya Wina bawa bekal apa Vir?

Vira: “emm, namanya kalau nggak salah…. Kering tempe mbak!” (Kata Vira sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya mengingat nama bekal makanan yang dibawa Wina).

Mbak Dina: “Ooo kering tempe rupanya, tepat sekali Vir. Hari ini mbak mau masak kering tempe.”

Vira: “wah asikkk. Aku boleh ikut bantuin kan mbak?”

Mbak Dina: “iya boleh, tapi sekarang Dina ganti baju dulu ya…”

Vira: “siap mbak!” (Kata Vira dengan semangat sambil menghormat pada Mbak Dina).

   Vira pun bergegas ke kamar dan mengganti seragam dengan pakaian biasa yang ia kenakan untuk bermain. Setelah itu, ia pun menuju dapur dan mulai membantu mbak Dina masak. Dimulai dari memotong tempe menjadi bentuk persegi tipis kecil-kecil hingga megupas bumbu-bumbu yang dibutuhkan. Kemudian potongan tempe digoreng hingga kering. Selesai menggoreng tempe mbak Dina lanjutkan dengan menumis bumbu

   Aroma bumbu yang ditumis, mengeluarkan bau sedap. Tidak terasa, mereka telah selesai membuat kering tempe. Vira sudah tidak sabar untuk makan kering tempe yang baru saja matang. Pasti nikmat dengan nasi yang juga hangat. Duhhh Vira benar-benar sudah tidak sabar. Ia pun memohon pada Mbak Dina untuk makan lebih awal.

Vira: “mbak,Vira sudah nggak sabar pengen makan nih. Vira makan duluan ya mbak”

Mbak Dina: “eits, nanti dulu! Kita makannya tunggu yang lainnya ya. Pasti rasanya tambah nikmat kalau bareng-bareng” (bijum mbak Dina agar Vira bersabar untuk menunggu waktu makan bersama).

Vira: “iya deh mbak. Vira tunggu sampai waktu makan bersama.”

    Tak berapa lama kemudian, para santri sudah mulai berdatangan di ruang makan. Vira pun segera mengambil jatah makannya. Vira makan dengan lahap. Bahkan, ia ingin nambah lagi. Vira merasa senang sekali bisa membantu dan belajar masak pada mbak Dina. Apalagi ketika melihat masakan yang dibuatnya dimakan dengan lahap oleh para santri. Walaupun hanya membantu sedikit, ia berjanji akan terus belajar hingga ia bisa pandai memasak seperti mbak Dina.***

( NISA )