Keputusan Akhir

Perkenalkan namaku Dita, aku lahir disebuah keluarga yang sangat menjunjung tinggi ajaran agama islam. Terlebih lagi, abi atau ayahku merupakan ketua pimpinan pondok pesantren yang banyak sekali santrinya. Biasanya para santri memanggil beliau dengan sebutan Buya. Beliau selalu bersikap tegas dan adil dalam mendidik para santri juga anak-anaknya. Tak segan-segan beliau memberi hukuman sama terhadap santri juga putra putrinya ketika melakukan perbuatan yang melanggar aturan agama. Seperti meninggalkan kewajiban sholat, mengaji, dan melakukan kejahatan seperti mencuri, membully yang lemah, juga berpacaran di lingkungan pesantren.

   Sehingga dari situlah santri-santri sangat menghormati abi. Bahkan terkadang aku pun juga ikut dihormati oleh para santri. Padahal aku sendiri merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Biarpun niat mereka baik, tetap saja hal itu menggangguku. Bagaimana aku mau tidak terganggu? Wajar saja jika abi yang mendapat penghormatan itu, sebab beliau memiliki ilmu  luas dan juga merupakan seorang kiyai di pesantren. Sedangkan aku, masih harus banyak belajar. Lebih malunya lagi ketika mereka memanggilku dengan tambahan Mbak padahal usia mereka lebih tua dariku. Oleh karena itu aku lebih suka menghabiskan waktu didalam rumah. Bahkan dari SD – SMA,  aku lebih memilih sekolah diluar pesantren dan bukan memilih sekolah yang ada di pesantren.

   Sebentar lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan tingkat SMA. Entahlah aku masih bimbang dengan apa yang akan kulakukan setelah kelulusan nantinya. Kata abi, aku harus masuk ke perguruan tinggi di Makkah atau Madinah. Tapi, umi tidak mau jika aku pergi jauh. Mungkin karena aku anak terakhir dan satu-satunya putri dari kedua orangtuaku. Apalagi kedua kakak laki-lakiku sudah menikah. Haduh jadi pusing kalau mikirin kedepannya. Lebih baik sekarang aku belajar untuk mempersiapkan ujian besok pagi.

   Empat hari kemudian, aku telah menyelesaikan ujian kelulusanku. Pengumumannya sendiri akan diberitahukan satu minggu yang akan datang. Selama satu minggu itu juga, aku harus memutuskan untuk lanjut kuliah atau memenuhi keinginanku. Memikirkan keinginan saja aku belum tau mau apa. Hemm apa aku nurut aja ya buat lanjut sekolah di luar negeri? Tapi, nanti umi gimana?. Ah sudahlah masih satu minggu juga, buat santai ajalah.

   Nah berhubung aku sudah tidak ada kegiatan, tiba-tiba saja aku ingin mencoba berkeliling disekitar pesantren. Mungkin, terakhir kali aku mau berkeliling pesantren waktu aku masih SD. Lingkungan pondok ini ada dua bagian. Sebelah kanan dari depan rumahku adalah asrama putri. Sedangkan sebelah kiri depan rumahku adalah asrama putra. Di tengahnya terdapat sebuah jalan yang membatasi kedua asrama tersebut.

   Berhubung aku perempuan, sudah pasti aku memilih menuju asrama putri. Selama berjalan mendekati pintu masuk lingkungan asrama, ada saja santriwati yang memanggilku dan memberikan senyuman hormat yang biasanya membuatku tak nyaman. Tapi biarlah sekali-kali aku tanggapi sapaan mereka, dengan membalas senyum dan sapaan yang mereka lontarkan kepadaku.

“Assalamu’alaikum, eh ada mbak Dita. Monggo mbak mampir ke kamar kami. Jarang sekali mbak berkunjung kemari, adakah sesuatu yang mbak Dita butuhkan? Kami siap membantu lho mbak.” Kata salah seorang santri yang kebetulan berpapasan denganku

“Waalaikumussalam… Hehe iya mbak lagi pengen jalan-jalan aja ini. Kebetulan nih, mbak temenin aku ngobrol ya?” Pintaku

“Wah, nggih purun mbak. Monggo mlebet teng dalem riyin mbak” kata santri lain sembari menarik halus lenganku menuju kamar mereka.

Kunjunganku di kamar santri justru membuat para santri yang awalnya sedang melakukan aktivitas masing-masing, berkumpul mendekat. Hingga seolah-olah aku ini mau memberikan pelajaran pada mereka.

“Aduh, maaf mbak-mbak ini saya cuma mau ngobrol aja kok. Kalau yang ada keperluan silahkan dilanjutkan saja kegiatannya. Yang nggak ada kerjaan bolehlah merapat.” Ucapku pada mereka.

“Tak apalah mbak, santai aja. Kita juga pengen ngobrol sama mbak Dita. Kerjaan kita mah bisa dilanjut nanti.”

Maka ada kurang lebih dua jaman aku berbincang pada para santriwati. Banyak sekali cerita mereka yang kini membuatku semakin mantap untuk memutuskan pilihan. Bukan meneruskan sekolah di luar negeri, bukan pula sekolah di dalam negeri. Melainkan, mondok tahfiz. Ya…memang sebelumnya, terbesit di benak ku untuk melanjutkan hafalanku. Hanya saja saat itu aku masih bimbang. Jika dipikir-pikir lagi melanjutkan pendidikan memang sangat penting. Akan tetapi itu bisa kulakukan ditahun setelah aku bisa menyelesaikan hafalan ku.

Sekembalinya dari asrama santri, aku langsung menuju kamar abi dan umi. Kemudian aku utarakan apa yang sudah kuputuskan. Mendengar hal itu, abi dan umi menyetujuinya. Bahkan mereka senang dengan keputusan ku.

Malam itu, ku persiapkan semua kebutuhanku. Abi telah memilihkan pondok tahfiz yang lumayan jauh dari kota kelahiranku. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah ku untuk tetap teguh pada apa yang ku putuskan. Umi pun juga tak masalah jauh dariku, asal tidak beda negara umi ikhlas melepas ku.***

(Isnawati)