Kehilangan yang Mempersatukan

Di malam hari yang sunyi, aku berdiri di depan pintu kamar. Sembari memandang indahnya bintang yang tak pernah lelah menghiasi malam. Saat tengah malam tiba mataku masih belum bisa terpejam, padahal semua teman-temanku sudah menutup bola mata mereka. Mungkin karena terlalu banyak masalah yang sedang ku pikirkan hingga aku tak bisa terlelap, ada-ada saja masalah dalam hidupku ini. padahal, aku ingin sehari saja tanpa masalah. Namun, aku hanyalah manusia biasa yang hanya bisa berharap. Aku hanya bisa berdoa dan hanya Allah yang dapat menentukan setiap takdir yang terjadi dalam hidupku.

Dimalam yang sangat dingin namun tidak membuatku menggigil ini, kupandangi langit gelap yang tak berawan. Aku melihat sebuah bintang  yang cahayanya sangat terang, dimana terangnya melebihi bintang lainnya. Aku ingin sekali mengambil bintang itu dan mengeggamnya di kedua tanganku, namun hal itu tidak akan mungkin terjadi. Oleh sebab itu, aku hanya bisa melihat keindahannya saja. Tapi aku juga memiliki bintang sendiri dihatiku. Yaitu kedua orang tuaku dan juga sahabat-sahabat yang setia menemaniku, dalam keadaan suka maupun duka. Itu merupakan anugerah yang telah diberikan Allah kepadaku dan patut aku syukuri.

Di tengah malam aku mulai mengantuk ,aku pun memutuskan untuk tidur karena beberapa jam lagi akan masuk waktu subuh ,aku menutup pintu kamar dan jendela terlebih dahulu agar tidak terlalu dingin, kemudian aku menjatuhkan badanku ke tempat tidurku yang hanya beralaskan karpet. Beberapa jam kemudian aku pun terbuai dalam mimpi.

Beberapa jam kemudian, menjelang subuh sekitar jam 03.50 aku  terbangun karena terkejut ada yang mengetuk pintu kamarku, tubuhku refleks berdiri dan tanpa pikir panjang bergegas menuju pintu, membukanya. Tepat ketika aku membuka pintu kamar, aku cukup terkejut. Ternyata itu sahabatku yang bernama Munir, biasanya jika tidak ada hal yang terlalu penting dia tidak pernah datang dengan targesa-gesa seperti ini.

“Mur!Mur!, ini bener-bener gawat, HPku yang aku simpan di dalam lemari hilang. ” Munir mengatakannya dengan tatapan memelas dan lagak seperti orang kebingungan.

“Lah, kok bisa hilang? kamu lupa simpan kali?  Coba di ingat-ingat lagi.” ucapku dengan ekspresi seadanya, karena baru bangun tidur dan masih mengantuk

“Udah Mur! Aku ingat  terakhir  naruh di lemari.’” cetusnya semakin kebingungan.

 Tidak lewat dari tiga puluh detik, tiba-tiba ada salah satu santri lain yang marah mendengar suara perbincangan mereka.

“Hehhh! Kalian ini pada ngapain sih! Baru enak-enak ngimpi malah berisik, tahu waktu dong kalau berantem!” kata Rofif dengan wajah kesal.

Setelah Rofif berkata seperti itu, suasananya menjadi senyap kembali senyap. Tiba-tiba Munir menghela nafas panjang, memutar badannya dan berjalan pergi. Setelah badan Munir menghilang dibalik pintu kamar sebelah, Muri juga kembali ke kamarnya karena tak ada lagi urusan.

  Setelah merebahkan badan di kasur dengan posisi duduk, Muri pun berkata kepada teman di sebelahnya yang terbangun akibat mendengar teriakan Rofif tadi.

“Hei teman-teman!, Munir itu sahabat kita, teman kita, dan saudara kita. Kenapa kalian gak pada kasihan sama Munir? apa salah Munir sama kalian?” ucapku dengan nada jengkel karena sudah tidak tahan dengan kelakuan teman-teman sekamarku yang kelewat nakal ini.

“Muri, Apa kamu lupa? dulu Munir pernah ngomong apa ke kita?” tanya Rofif yang ternyata belum tidur lagi dan mengubah posisi menjadi duduk.

“Memangnya Munir pernah bilang apa? Kalo itu hal buruk, aku udah lupain dan enggak aku permasalahin lagi.” kata Muri santai.

“Kamu itu memang pelupa ya Mur, Munir dulu pernah bilang kalau kita itu jarang salat subuh. Dan Aku malu dikatai begitu.” kata Rofif sambil melipat tangan dan bermuka marah.

“Apa kalian lupa atas kebaikan Munir ke kalian? Munir aja baik sama kita. Kenapa kita enggak pernah berbuat baik ke Munir? Bagiku kata-kata Munir itu motivasi buat kita.” aku berusaha memahamkan teman-teman atas apa yang sudah Munir lakukan kepada aku dan teman-teman.

Semua terdiam mendengar ucapanku barusan, teman-teman merasa bersalah kepada Munir. Dan mulai sadar tentang apa yang sudah mereka lakukan. Beberapa menit setelah teman-teman berunding, mereka memutuskan untuk membantu Munir menemukan HP-nya, termasuk Rofif. Dia juga ikut membantu walaupun tidak suka dengan Munir. Semua pergi ke kamar Munir dan membantunya mencari HP.

Karena terlalu fokus mencari HP milik Munir, mereka tidak sadar jam sudah menunjukkan pukul 4.15. Semua yang mencari HP Munir mulai putus asa,  Rofif sampai mencarinya di kamarnya sendiri. Namun hasilnya nihil, Rofif kembali ke kamar Munir dan duduk di kasurnya. Merasa ada yang mengganjal di pantatnya, Rofif membuka selimut yang ia duduki. Semua terkejut termasuk Munir, Rofif menemukan HP Munir yang ternyata ada di balik selimut. ”Astagfirullah, tadi aku sudah mencari di situ enggak merasakan apa-apa padahal!” ucap Munir dengan tertawa sedikit malu.

Akhirnya, Rofif menyerahkan HP itu kapada Munir dan berkata. “Munir… Maaf ya sebelumnya, aku gak suka sama kamu. Tapi apa yang tadi dikatakan Muri dikamarku membuatku sadar kalau aku yang salah.” sesal Rofif sambil meminta maaf.

“Iya, Aku juga minta maaf atas hal buruk yang sudah aku katakan kepadamu dan teman-teman dulu. ” Jawab Munir dengan lega dan senyum lebar .

Jika azan subuh tidak berkumandang, mereka semua pasti sudah berbincang-bincang tentang kesalahan-kesalahan yang sudah lalu. Tapi sayangnya, semua sepakat untuk bergegas menuju masjid bersama-sama.

“Terkadang Kita perlu sadar diri.

Dekat sekalipun, bukan Berarti kita spesial untuknya

Teman tertawa , bagaikan air di daun kedelai

Walau tercurah tak berkesan,

Tapi sahabat sejati bagaikan air lalu

Walau dicincang ia tak akan terputus.

Meskipun tak di pegang”.***

( MURI )