KARENA DIA MAHA PEMURAH – Mari kita bercermin sejenak.
Pernahkah diberi sesuatu yang sudah rusak atau cacat?
Misalnya, baju lusuh, atau gelas dan piring yang retak—akankah kita menerimanya dengan senang hati?
Namun, tanpa kita sadari, sering kali mempersembahkan kepada Allah sesuatu yang serupa: ibadah yang cacat.
Melakukan shalat dengan pikiran yang ke mana-mana.
Bersedekah sambil ingin dipuji.
Berdoa hanya ketika sedang butuh.
Lalu merasa sudah cukup, bahkan merasa layak masuk surga.
Terlalu percaya diri, padahal ibadah kita penuh kekurangan. Padahal tahu, Allah adalah Tuhan Yang Maha Indah dan Maha Sempurna.
Apakah layak menghadap-Nya dengan amalan yang dikerjakan asal-asalan, dipenuhi keluhan, tanpa kekhusyukan, tanpa kesungguhan?
Namun di sinilah letak kasih sayang Allah.
Dia adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dia menerima amal kita yang penuh cela itu bukan karena nilainya di mata manusia.
Namun, karena nilai niat dan kesungguhan hati.
Sungguh, ada dua hal yang membuat amal sederhana menjadi agung di sisi Allah:
- Niat yang tulus, bahwa ibadah itu dilakukan semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji, atau karena ikut-ikutan.
- Kesungguhan dan ikhtiar terbaik, bahwa menjalankan ibadah dengan hati, dengan usaha semampu kita dan bukan dengan kemalasan.
Jika kedua hal ini ada dalam ibadah, meski terlihat sederhana dan jauh dari sempurna, maka insya Allah, amal itu diterima.
Namun, bila ibadah dilakukan tanpa keikhlasan dan kesungguhan, maka ia tak bernilai apa-apa.
Ia akan tertolak.
Ia akan sia-sia.
Dalil dari hadist dan Ayat Al-Quran.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Sungguh, betapa pemurahnya Allah.
Ia tidak menuntut kesempurnaan, tapi ketulusan dan kesungguhan.
Ia melihat usaha hamba-Nya yang datang dengan hati penuh harap, meski dengan amal yang sederhana.
Ia menyambut yang lemah tapi jujur, yang terbata tapi bersungguh-sungguh.
Maka mari benahi ibadah kita.
Jangan fokus pada besar atau kecilnya amal, tapi pastikan niatnya lurus dan dilakukan dengan sepenuh hati.
Karena Allah, Tuhan yang Maha Pemurah, lebih mencintai hamba yang jujur dalam kekurangan daripada yang sombong dalam amalnya.
Jangan lelah untuk terus memperbaiki diri. Seburuk apa pun masa lalu, selama mau meluruskan niat dan bersungguh-sungguh dalam taubat serta amal, Allah akan membuka pintu ampunan-Nya lebar-lebar. Allah menegaskan di dalam Al Qur’an:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini adalah pelukan langit bagi jiwa yang merasa tak layak. Maka, selama nafas masih berhembus, jangan pernah ragu untuk kembali. Karena Dia, Maha Pemurah, selalu menunggu kita pulang.
Ditulis oleh: Ki Prawoto AW













