Kancil! Sarang Tawon Dan Harimau Bonyok

 Kancil! Sarang Tawon Dan Harimau Bonyok
 Kancil! Sarang Tawon Dan Harimau Bonyok
 Kancil! Sarang Tawon Dan Harimau Bonyok
 Kancil! Sarang Tawon Dan Harimau Bonyok

Kancil! Sarang Tawon dan Harimau Bonyok – Pada suatu siang yang panas di hutan Pawangan, seekor kancil kecil nan cerdik sedang duduk di bawah pohon sambil menggambar peta hutan pakai ranting.

“Aku harus cari jalan pintas ke ladang mentimun… tapi jangan sampai lewat sarang Harimau,” gumamnya sambil meringis. Harimau terkenal galak, tapi juga agak… lemot.

Tiba-tiba, dari semak belukar, terdengar suara “GROARRRRR!!!”

“Waduh!” Kancil melompat dan menyembunyikan peta di balik daun telinga.

Keluar dari balik semak, muncullah Harimau berbadan besar, mata sipit karena ngantuk terus. Dan gigi taring yang sering di pakai untuk tusuk gigi… eh, maksudnya untuk menggertak hewan lain.

“Kancil!” raung harimau sambil menendang sebatang pohon jambu yang malang. “Sudah lama aku mengidamkan kamu jadi… menu utama makan siangku!”

Kancil menelan ludah. “Aduh… nasi belum matang, lauk sudah datang.”

Tapi ia cepat berpikir. Ia tahu, jika melawan Harimau secara fisik, tamatlah riwayat. Tapi kalau pakai akal? Hm… ini baru seru.

Tipuan Manis ala Kancil

Dengan wajah pura-pura tenang, Kancil berkata,

“Wahai Raja Rimba yang tampan dan luar biasa…”

Harimau mendengus bangga, “Lanjutkan.”

“Aku… sebenarnya bukan kancil biasa,” lanjut Kancil sambil berdiri tegap. “Aku sedang dalam misi rahasia dari Dewa hutan.”

Baca Dongeng:

“Misi? Apa itu bisa di makan?” tanya Harimau curiga.

“Bukan! Ini serius! Aku di suruh mengawal kantong emas berisi madu ajaib dari langit.  Siapa yang memakan madu Ajaib ini dia akan kuat Sekai sakti dan segala keinginannya pasti terkabul. Tapi karena berat dan sakral, aku sembunyikan dulu.”

Harimau langsung ngiler. “Madu ajaib?! Di mana?!”

Kancil menunjuk ke atas pohon besar di dekat mereka. Di sana, tergantung sarang tawon raksasa yang menghitam dan berdengung pelan.

“Itu kantong titipan dewa,” kata Kancil tenang. “Tapi jangan di sentuh. Siapa pun yang bukan kancil, kalau menyentuh kantong emas itu akan di hukum oleh… Dewa Penjaga Langit!”

“Penjaga… siapa?”

“Penjaga Langit!” ulang Kancil sambil menirukan suara seram. “Dia bisa berubah jadi ribuan makhluk bersayap yang menyengat!”

Harimau mulai goyang. Tapi rasa lapar lebih kuat daripada rasa takut. “Ah, mana mungkin! Aku ini harimau! Aku raja! Masa kalah sama… penjaga kantong madu terbang!”

Kancil senyum. “Kalau tak percaya, silakan ambil. Tapi tolong tunggu aku pergi dulu. Aku tidak ingin melihat seseorang… tersengat hingga pantatnya bengkak seperti nangka.”

“HA! Berlebihan!”  Harimau tertawa, lalu melompat ke arah sarang tawon. Dengan kaki depan, ia menampar sarang itu seperti mainan bola.

Bencana Berdengung

ZRAAAAAAAAKK!!!

Dalam sekejap, ribuan tawon keluar seperti banjir dari langit. Suaranya berdengung seperti konser rock lebah. Kancil langsung kabur ke semak sambil nyengir.

Harimau belum sempat mengunyah napas, sudah…

“PRRAKK!! PRUUUUUUK!! AAAAAK!!”

Ia lari ke sana ke mari, berguling-guling, lompat ke sungai, masuk lumpur, bahkan berusaha menari limbo di bawah akar pohon. Tapi semua sia-sia.

Tawon-tawon mengejarnya seperti utang cicilan. Pantatnya di sengat bolak-balik sampai… merah merona, seperti tomat yang kebanyakan make up.

Di balik semak, Kancil sudah rebahan sambil makan kacang hutan.

“Kasihan si harimau. Tadi sombong amat, sekarang guling-guling beneran,” ucapnya sambil tertawa terbahak.

Setelah tawon pergi dan Harimau tercebur ke kolam lumpur, Kancil menghampiri dengan wajah penuh simpati palsu.

“Wahai Harimau, kukira kamu kuat. Tapi ternyata… kamu cuma cocok jadi pembalut madu.”

Harimau menatap kancil dengan mata memerah (bukan karena marah, tapi karena kelilipan tawon). “Kau menipuku!”

“Eh, siapa suruh tamak dan sok gagah? Itu bukan sarang emas, itu sarang nyengat,” ujar Kancil dengan santun. “Lain kali, kalau lihat kantong aneh, tanya dulu… atau minimal… bau dulu!”

Harimau hanya bisa merintih sambil mengoles lumpur di bokongnya.

Akhir cerita:

Sejak hari itu, Harimau  tidak pernah mengejar Kancil lagi. Bahkan kalau ketemu, ia pura-pura jadi batu. Dan Kancil? Ia jadi legenda. Di hutan Plawangan, anak-anak tupai sampai burung jalak sering main drama berjudul “Sarang Tawon dan Harimau Bonyok”.

Pesan Moral:

Kalau ingin makan siang, jangan langsung percaya kantong misterius. Apalagi kalau kantongnya berdengung. Dan satu lagi: jangan remehkan kancil, apalagi yang bisa bikin harimau menangis sambil oles balsem!

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Oleh: Izzayumna