Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 5-6

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8

Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 5

Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 5
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 5

اِسْمُهُ وَكُنْيَتُهُ:

هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ الإِمَامُ ٱلْجَلِيلُ أَبُو حَامِدٍ ٱلطُّوسِيُّ ٱلْغَزَّالِيُّ، حُجَّةُ ٱلْإِسْلَامِ، وَمُجْتَهِدُ ٱلدِّينِ، ٱلَّذِي يَتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى دَارِ ٱلسَّلَامِ، جَامِعُ أَنْشَطَاتِ ٱلْعُلُومِ، وَٱلْبَارِزُ فِي ٱلْمَنْقُولِ مِنْهَا وَٱلْمَفْهُومِ!!

كَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ضِرْغَامًا، إِلَّا أَنَّ ٱلْأُسُودَ تُضَامُ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَتَوَارَى، وَبَدْرًا تَمَامًا إِلَّا أَنَّ هُدَاهُ يُشْرِقُ نَهَارًا، وَبَشَرًا مِنَ ٱلْخَلْقِ، وَلَكِنِ ٱلطَّوْدَ ٱلْعَظِيمَ، وَبَعْضَ ٱلْخَلْقِ، وَلَكِنْ مِثْلَ مَا بَعْضِ ٱلْحَجَرِ ٱلدُّرِّ ٱلنَّظِيمِ.

جَاءَ وَٱلنَّاسُ إِلَى رَدِّ فِرْيَةِ ٱلْفَلَاسِفَةِ أَحْوَجُ مِنَ ٱلظُّلَمَاءِ لِمَصَابِيحِ ٱلسَّمَاءِ، وَأَفْقَرُ مِنَ ٱلْجَدْبَاءِ إِلَى قَطَرَاتِ ٱلْمَاءِ، فَلَمْ يَزَلْ يُنَافِحُ عَنِ ٱلدِّينِ ٱلْحَنَفِيِّ بِجَلَادِ مَقَالِهِ، وَيَحْمِي حِرْزَةَ ٱلدِّينِ، وَلَا يُلَطِّخُ بِدَمِ ٱلْمُعْتَدِينَ حَدَّ نِصَالِهِ، حَتَّى أَصْبَحَ ٱلدِّينُ وَثِيقَ ٱلْعُرَى، وَٱنْكَشَفَتْ غَيَاهِبُ ٱلشُّبُهَاتِ، وَمَا كَانَتْ إِلَّا حَدِيثًا مُفْتَرًى.

هَذَا مَعَ وَرَعٍ طَوَى عَلَيْهِ ضَمِيرَهُ، وَخَلْوَةٍ لَمْ يَخْتَرْ فِيهَا غَيْرَ ٱلطَّاعَةِ سَمِيرَهُ، وَتَجْرِيدٍ تَرَاهُ، بِهِ وَقَدْ تَوَحَّدَ فِي بَحْرِ ٱلتَّوْحِيدِ وَيَاهِي.

تَرَكَ ٱلدُّنْيَا وَرَاءَ ظَهْرِهِ، وَأَقْبَلَ عَلَى ٱللَّهِ بِعَمَلِهِ فِي سِرِّهِ وَجَهْرِهِ

Terjemahan Bahasa Indonesia:

Nama dan Julukannya:

Ia adalah Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, imam agung yang mulia, Abu Hamid ath-Thusi al-Ghazali, hujjah Islam, mujtahid agama, yang dengan ilmunya seseorang dapat menempuh jalan menuju Darussalam (surga). Ia adalah penghimpun segala cabang ilmu, dan unggul dalam ilmu yang bersumber dari riwayat dan pemahaman!!

Ia, semoga Allah meridhainya, adalah seekor singa garang; namun singa pun tunduk di hadapannya dan bersembunyi. Ia seperti bulan purnama, namun cahayanya menyinari siang hari. Ia manusia biasa dari ciptaan Allah, namun seperti gunung yang agung. Sebagian orang seperti batu, tetapi ia seperti batu permata yang tersusun rapi.

Ia datang pada masa manusia sangat membutuhkan pembelaan terhadap agama dari serangan para filsuf, sebagaimana malam gelap membutuhkan cahaya langit, dan tanah kering merindukan tetesan air. Ia senantiasa membela agama hanif (Islam) dengan kekuatan ucapannya, menjaga benteng agama, tanpa menodai pedangnya dengan darah para pelanggar. Hingga agama menjadi kukuh kembali, dan kabut keraguan tersingkap, yang sebelumnya hanyalah kebohongan yang tersebar.

Semua itu ia lakukan dengan hati yang penuh takwa, dalam kesendirian yang hanya diisi dengan ketaatan sebagai teman setia. Ia dalam keadaan zuhud dan pengasingan, hingga tenggelam dalam samudra tauhid yang dalam.

Ia meninggalkan dunia di belakang punggungnya, dan menghadap Allah dengan amalnya, dalam rahasia maupun terang-terangan.

Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 6

مَوْلِدُهُ وَنَشْأَتُهُ:

وُلِدَ «بِطُوسَ» سَنَةَ خَمْسِينَ وَأَرْبَعِمِائَةٍ، وَكَانَ وَالِدُهُ يَنْزِلُ الصُّرُوفَ وَيَبِيعُ فِي دُكَّانِهِ بِـ«طُوسَ»، فَلَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، وَصَّى بِهِ وَبِأَخِيهِ أَحْمَدَ إِلَى صَدِيقٍ لَهُ مُتَصَوِّفٍ مِنْ أَهْلِ الْخَيْرِ، وَقَالَ لَهُ:

إِنَّ لِي تَأَسُّفًا عَظِيمًا عَلَى تَعَلُّمِ الْخَطِّ، وَأَشْتَهِي اسْتِدْرَاكَ مَا فَاتَنِي فِي وَلَدَيَّ هَذَيْنِ، فَعَلِّمْهُمَا وَلَا عَلَيْكَ أَنْ تَنْفِقَ فِي ذَلِكَ جَمِيعَ مَا خَلَّفْتُهُ لَهُمَا!!

فَلَمَّا مَاتَ أَقْبَلَ الصُّوفِيُّ عَلَى تَعْلِيمِهِمَا، إِلَى أَنْ فَنِيَ ذَلِكَ الْوِزْرُ الَّذِي كَانَ خَلَّفَهُ لَهُمَا أَبُوهُمَا، وَتَعَذَّرَ عَلَى الصُّوفِيِّ الْقِيَامُ بِقُوتِهِمَا، فَقَالَ لَهُمَا:

ٱعْلَمَا أَنِّي قَدْ أَنْفَقْتُ عَلَيْكُمَا مَا كَانَ لَكُمَا، وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْفَقْرِ وَالتَّجْرِيدِ، يَبْحَثُ لَا مَالَ لِي، فَأَوْصَيْتُكُمَا بِهِ، وَأَصْلَحَ مَا أَرَى لَكُمَا أَنْ تَلْجَآ إِلَى مَدْرَسَةٍ، فَإِنَّكُمَا مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ، فَيَحْصُلَ لَكُمَا قُوتُ بِهِمَّتِكُمَا عَلَى وَقْتِكُمَا، فَفَعَلَا ذَلِكَ!!

وَكَانَ هُوَ السَّبَبَ فِي سَعَادَتِهِمَا وَعُلُوِّ دَرَجَتِهِمَا.

وَكَانَ الْغَزَّالِيُّ يَحْكِي هَذَا وَيَقُولُ:

«طَلَبْنَا الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ، فَأَبَى أَنْ يَكُونَ إِلَّا للهِ».

Terjemahan Bahasa Indonesia:

Kelahiran dan Masa Tumbuhnya:

Ia dilahirkan di Ṭūs pada tahun 450 H, dan ayahnya tinggal di kota tersebut sebagai penukar uang dan berdagang di tokonya di Ṭūs. Ketika ajal menjemput sang ayah, ia berwasiat kepada seorang sahabat sufi dari kalangan orang saleh agar mengasuh kedua putranya—yakni Imam al-Ghazali dan saudaranya Ahmad—dan berkata kepadanya:

“Aku sangat menyesal karena belum sempat belajar menulis, dan aku sangat ingin agar kekuranganku itu ditebus oleh anak-anakku ini. Maka ajarilah mereka, dan jangan ragu untuk menghabiskan seluruh harta yang kutinggalkan untuk mereka!!”

Setelah ayah mereka wafat, sang sufi pun mencurahkan perhatiannya dalam mendidik keduanya, sampai habislah seluruh harta peninggalan ayah mereka. Lalu, sang sufi pun tidak sanggup lagi menanggung biaya hidup mereka, dan ia berkata kepada keduanya:

“Ketahuilah, aku telah menghabiskan semua yang menjadi milik kalian. Aku hanyalah seorang fakir yang hidup dalam kezuhudan, tidak memiliki harta apa pun. Aku telah berusaha menunaikan amanat itu, dan kini yang paling baik untuk kalian adalah masuk ke madrasah, karena kalian adalah penuntut ilmu. Dari situ, kalian bisa mendapatkan makan dengan semangat dan waktu kalian sendiri.”

Lalu mereka pun melakukannya!!

Hal itulah yang menjadi sebab kebahagiaan dan tingginya derajat mereka.

Dan Imam al-Ghazali sering mengisahkan hal ini seraya berkata:

“Kami menuntut ilmu bukan karena Allah, namun ilmu itu menolak kecuali untuk Allah semata.”