
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7
صِفَةُ وَالِدِهِ
وَيُحْكَى أَنَّ أَبَاهُ كَانَ فَقِيرًا صَالِحًا، لَا يَأْكُلُ إِلَّا مِنْ كَسْبِ يَدِهِ
فِي عَمَلِ غَزْلِ الصُّوفِ، وَيَطُوفُ عَلَى الْمُتَفَقِّهَةِ وَيُجَالِسُهُمْ، وَيَتَوَفَّرُ
عَلَى خِدْمَتِهِمْ، وَيَجِدُ فِي الْإِحْسَانِ إِلَيْهِمْ، وَالتَّفَقُّهِ بِمَا يُمْكِنُهُ
عَلَيْهِمْ، وَأَنَّهُ كَانَ إِذَا سَمِعَ كَلَامَهُمْ بَكَى وَتَضَرَّعَ، وَسَأَلَ اللهَ أَنْ
يَرْزُقَهُ ابْنًا وَيَجْعَلَهُ فَقِيهًا.
وَيَحْضُرُ مَجَالِسَ الْوَعْظِ، فَإِذَا طَابَ وَقْتُهُ بَكَى. وَسَأَلَ اللهَ أَنْ
يَرْزُقَهُ ابْنًا وَعَظًا، فَاسْتُجِيبَ اللهُ دَعْوَتُهُ.
أَمَّا أَبُو حَامِدٍ: فَكَانَ أَلْفَةَ أَقْرَانِهِ، وَإِمَامَ أَهْلِ زَمَانِهِ، وَفَارِسَ
مِيدَانِهِ، كَلِمَةٌ شَهِدَ بِهَا الْمُوَافِقُ وَالْمُخَالِفُ.
قُدُومُهُ نَيْسَابُورَ وَمُلَازَمَتُهُ لِإِمَامِ الْحَرَمَيْنِ:
ثُمَّ إِنَّ الْغَزَالِيَّ قَدِمَ نَيْسَابُورَ، وَلَازَمَ “إِمَامَ الْحَرَمَيْنِ”، وَجَدَّ
وَاجْتَهَدَ حَتَّى بَرَعَ فِي الْمَذَاهِبِ، وَالْخِلَافِ، وَالْجَدَلِ، وَالْمَنْطِقِ،
وَقَرَأَ الْحِكْمَةَ، وَالْفَلْسَفَةَ، وَأَحْكَمَ كُلَّ ذَلِكَ، وَفَهِمَ كَلَامَ أَرْبَابِ هَذِهِ
الْعُلُومِ، وَتَصَدَّى لِلرَّدِّ عَلَيْهِمْ، وَإِبْطَالِ دَعَاوِيهِمْ.
وَصَنَّفَ فِي كُلِّ فَنٍّ مِنْ هَذِهِ الْعُلُومِ كِتَابًا، أَحْسَنَ تَأْلِيفَهُ،
وَأَجَادَ وَضْعَهُ وَتَرْصِيفَهُ.
Artinya dalam Bahasa Indonesia:
Sifat Ayahnya
Diceritakan bahwa ayahnya adalah orang miskin yang saleh. Ia tidak makan kecuali dari hasil kerja tangannya sendiri, yakni dengan memintal wol. Ia suka mengunjungi para penuntut ilmu dan duduk bersama mereka, serta melayani mereka dengan sungguh-sungguh, dan berusaha berbuat baik kepada mereka, serta mempelajari ilmu semampunya dari mereka.
Jika ia mendengar perkataan mereka, ia menangis dan merendah diri, lalu memohon kepada Allah agar dikaruniai seorang anak dan dijadikan sebagai ahli fikih.
Ia juga menghadiri majelis-majelis nasihat. Jika suasananya menyentuh hati, ia menangis, dan kembali memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang ahli nasihat. Maka Allah mengabulkan doanya.
Adapun Abu Hamid (Imam Al-Ghazali), ia adalah yang paling menonjol di antara teman-temannya, pemuka umat pada zamannya, dan pendekar di medan ilmunya — sebuah pengakuan yang disepakati oleh kawan maupun lawan.
Kedatangannya ke Naisabur dan Menjadi Murid Imam al-Haramain
Kemudian, Imam Al-Ghazali datang ke Naisabur dan belajar kepada “Imam al-Haramain”. Ia bersungguh-sungguh dan giat belajar hingga menguasai berbagai mazhab, perbedaan pendapat, debat, logika, membaca ilmu hikmah (filsafat), dan filsafat, serta mendalami semua itu. Ia memahami ucapan para pakar ilmu tersebut, kemudian membantahnya dan membatalkan klaim-klaim mereka.
Ia menulis kitab dalam setiap cabang ilmu tersebut dengan karangan yang terbaik, susunan yang sempurna, dan penyusunan yang rapi.
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 8
مَوَاهِبُهُ:
وَكَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ شَدِيدَ الذَّكَاءِ، سَدِيدَ النَّظَرِ، عَجِيبَ
الفِطْرَةِ، مُفْرِطَ الْإِدْرَاكِ، قَوِيَّ الْحَافِظَةِ، بَعِيدَ الْغَوْرِ، غَوَّاصًا عَلَى
المَعَانِي الدَّقِيقَةِ، جَبَلَ عِلْمٍ، مُنَاظِرًا يُحْجَاجًا. وَلَمَّا أَلَّفَ
الغَزَالِيُّ كِتَابَ «المُنْخُولِ فِي الْأُصُولِ» قَالَ لَهُ أُسْتَاذُهُ: «دَفَنْتَنِي وَأَنَا
حَيٌّ».
إِقَامَتُهُ عَلَى التَّدْرِيسِ:
وَأَقَامَ عَلَى تَدْرِيسِ الْعِلْمِ وَنَشْرِهِ، بِالتَّعْلِيمِ وَالْفَتْيَا وَالتَّصْنِيفِ
مُدَّةً: عَظِيمَ الْجَاهِ، زَائِدَ الْحَشْمَةِ، عَالِيَ الرُّتْبَةِ، مَسْمُوعَ الْكَلِمَةِ،
مَشْهُورَ الْاِسْمِ، تُضْرَبُ بِهِ الْأَمْثَالُ، وَتُشَدُّ إِلَيْهِ الرِّحَالُ، إِلَى أَنْ
شَرَفَتْ نَفْسُهُ عَنِ الدُّنْيَا فَرَفَضَ مَا فِيهَا مِنَ التَّقَدُّمِ وَالْجَاهِ، وَتَرَكَ كُلَّ
ذَلِكَ وَرَاءَ ظَهْرِهِ.
رِحْلَتُهُ وَسِيَاحَتُهُ:
وَقَصَدَ بَيْتَ اللهِ الحَرَامِ فَحَجَّ، وَتَوَجَّهَ إِلَى الشَّامِ فِي ذِي
القَعْدَةِ، سَنَةَ ثَمَانٍ وَثَمَانِينَ، وَاسْتَتَابَ أَخَاهُ فِي التَّدْرِيسِ، وَجَاوَرَ
بَيْتَ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ عَادَ إِلَى دِمَشْقَ وَاعْتَكَفَ فِي زَاوِيَةٍ بِالْجَامِعِ
الْأُمَوِيِّ الْمَعْرُوفَةِ الْيَوْمَ بِالْغَزَالِيَّةِ نِسْبَةً إِلَيْهِ.
Artinya dalam Bahasa Indonesia:
Bakat dan Kecerdasannya:
Ia (Imam al-Ghazali) — semoga Allah meridhainya — di kenal sangat cerdas, tajam dalam berpikir, memiliki pandangan yang dalam, sangat tajam dalam menangkap sesuatu, kuat hafalannya, dalam pengetahuannya, dan penyelam terhadap makna-makna yang halus.
Ia adalah gunung ilmu, seorang ahli debat dan argumen yang luar biasa. Ketika ia menulis kitab “Al-Munkhūl fī al-Uṣūl”, gurunya berkata kepadanya: “Engkau telah menguburku padahal aku masih hidup.”
Kesungguhannya dalam Mengajar:
Ia mencurahkan waktunya untuk mengajar dan menyebarkan ilmu, dengan mengajar, memberi fatwa, dan menulis buku selama masa yang panjang. Ia memiliki kedudukan yang agung, sangat di segani, tinggi martabatnya, ucapannya didengar, namanya terkenal, di jadikan peribahasa, dan orang-orang menempuh perjalanan untuk menemuinya.
Hingga akhirnya, jiwanya menginginkan kehidupan akhirat dan ia pun meninggalkan semua kenikmatan dunia, kedudukan, dan kehormatan yang pernah ia raih, serta melepaskan semuanya dari belakang punggungnya.
Perjalanan dan Pengembaraannya:
Ia pergi ke Baitullah (Mekah) untuk berhaji, lalu menuju Syam (Suriah) pada bulan Dzulqa’dah tahun 488 H. Ia menyerahkan tugas mengajar kepada saudaranya, lalu tinggal dekat Baitul Maqdis (Yerusalem).
Kemudian kembali ke Damaskus dan beriktikaf di salah satu sudut Masjid Umayyah, yang kini di kenal dengan nama “al-Ghazāliyyah” yang di nisbatkan kepadanya.


