Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 38 Part 2

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8

Keyakinan Ahlussunnah: Keluarnya Ahli Tauhid dari Neraka dan Syafaat yang Menyelamatkan

Ahlussunnah wal Jama‘ah memiliki keyakinan agung yang membedakan mereka dari kelompok-kelompok yang menyimpang dalam memahami hakikat iman, keadilan Allah, dan rahmat-Nya. Salah satu dari keyakinan ini adalah bahwa siapa pun yang meninggal dalam keadaan bertauhid (mengesakan Allah).

Maka ia tidak akan kekal di neraka, meskipun ia harus menjalani azab terlebih dahulu. Lebih dari itu, syafaat (pertolongan dan permohonan ampun) dari para nabi, ulama, syuhada, dan kaum mukminin adalah bagian dari karunia Allah yang akan menjadi sebab keselamatan banyak jiwa dari neraka.

Hal ini dirangkum dalam sebuah kalimat akidah yang diriwayatkan dari para ulama Salaf:

وَتُؤْمِنُ بِإِخْرَاجِ الْمُوَحِّدِينَ مِنَ النَّارِ بَعْدَ الِانْتِقَامِ، حَتَّى لَا يَبْقَى فِي جَهَنَّمَ مُوَحِّدٌ بِفَضْلِ اللَّهِ تَعَالَى.

“Dan engkau meyakini bahwa orang-orang yang bertauhid akan dikeluarkan dari neraka setelah menerima balasan, hingga tidak tersisa seorang pun yang bertauhid di dalam Jahannam, karena karunia Allah Ta‘ala.”

Keadilan dan Rahmat Allah dalam Neraka dan Syurga

Keyakinan ini berpijak pada prinsip bahwa Allah adalah Maha Adil sekaligus Maha Penyayang. Orang-orang yang beriman namun melakukan dosa besar tanpa bertaubat bisa saja diazab di neraka, namun tidak akan kekal seperti orang kafir.

Kekekalan di neraka hanya berlaku bagi orang-orang yang mengingkari tauhid dan mati dalam keadaan syirik atau kufur.

Firman Allah ﷻ:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni selain dari dosa itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48)

Ayat ini menjadi landasan bahwa ada orang-orang yang berdosa besar tapi tetap bertauhid, dan mereka berhak atas ampunan atau syafaat, meskipun bisa saja harus melalui azab terlebih dahulu.

Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 38 Part 1

Hisab Penampakan dan Pemeriksaan Amal

Sebelum seseorang dimasukkan ke dalam surga atau neraka, ia akan mengalami hisab (perhitungan amal). Dalam proses ini, ada orang-orang yang hanya diperlihatkan amalnya (al-‘arḍ) secara ringkas, dan ada yang diperiksa secara rinci.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ.

“Barang siapa diperiksa (secara rinci) hisabnya, niscaya ia akan disiksa.”

Lalu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya:

“Bukankah Allah berfirman: ‘Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, maka ia akan dihisab dengan hisab yang ringan’?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

إِنَّمَا ذَاكَ الْعَرْضُ، وَلَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَلَكَ.

“Itu hanyalah penampakan (amal), bukan hisab yang rinci. Dan tidak ada seorang pun yang diperiksa secara rinci pada hari kiamat kecuali pasti binasa.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)

Dari hadis ini tampak bahwa rahmat Allah-lah yang menyelamatkan, bukan sekadar amal semata.

Syafaat Rahmat yang Diperantarakan

Di antara bentuk rahmat terbesar Allah adalah diberikannya izin syafaat kepada para nabi dan hamba-hamba pilihan-Nya. Dalam kalimat akidah disebutkan:

وَتُؤْمِنُ بِشَفَاعَةِ الْأَنْبِيَاءِ، ثُمَّ الْعُلَمَاءِ، ثُمَّ الشُّهَدَاءِ، ثُمَّ سَائِرِ الْمُؤْمِنِينَ، كُلٌّ حَسَبَ مَنْزِلَتِهِ عِندَ اللَّهِ تَعَالَى.

“Dan engkau meyakini adanya syafaat dari para nabi, kemudian para ulama, lalu para syuhada, lalu seluruh kaum mukminin — masing-masing sesuai kedudukannya di sisi Allah Ta‘ala.”

Syafaat Rasulullah ﷺ dan Telaga Haudh

Rasulullah ﷺ diberikan syafaat terbesar untuk umatnya, dan pada hari kiamat beliau akan menantikan umatnya di Telaga (Haudh) yang luas dan bercahaya.

Diriwayatkan dalam hadis dari Abdullah bin Amr:

جَلَسْتُ إِلَى قَوْمٍ قَدْ بَايَعُوا النَّبِيَّ ﷺ… نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: إِنَّكُمْ وَارِدُونَ الْحَوْضَ، وَوَرَدَ اللَّهُ رَجُلٌ مِنْ أُمَّتِي أَكْثَرَ مِنْكُمْ…

(“Aku duduk bersama suatu kaum yang telah berbaiat kepada Nabi ﷺ. Mereka berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya kalian akan mendatangi telaga (haudh), dan Allah mendatangkan seorang lelaki dari umatku yang lebih banyak amalnya daripada kalian.’”) (HR. Ahmad dan lainnya, dengan variasi)

Telaga ini adalah tempat pertama perjumpaan Rasulullah ﷺ dengan umatnya setelah kebangkitan, dan siapa yang minum darinya sekali, tidak akan haus selamanya.

Orang Bertauhid Tidak Kekal di Neraka

Pokok dari keyakinan ini ditegaskan kembali:

وَمَنْ بَقِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَفِيعٌ أَخْرَجَهُ فَضْلُ اللَّهِ، وَلَا يُخَلَّدُ فِي النَّارِ مُوَحِّدٌ، بَلْ يَخْرُجُ مِنْهَا كُلُّ مَنْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ الْإِيمَانِ.

“Dan siapa pun dari kaum mukminin yang masih tersisa dan tidak memiliki pemberi syafaat, maka ia akan dikeluarkan oleh karunia Allah; tidaklah orang yang bertauhid kekal di neraka. Bahkan akan keluar darinya setiap orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah (atom) dari iman.”

Hadis shahih dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu menyebutkan:

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ.

“Akan keluar dari neraka orang-orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah dari iman.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ini adalah dalil eksplisit bahwa orang bertauhid yang berdosa tidak akan kekal di neraka, selama masih ada iman di dalam hatinya, meskipun sekecil apapun.

Kesalahan Khawarij dan Mu‘tazilah

Kelompok Khawarij dan Mu‘tazilah berpendapat bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan tidak mendapatkan syafaat. Pendapat ini ditolak oleh Ahlussunnah karena bertentangan dengan banyak hadis sahih.

Ibnu Taimiyah berkata:

“Syafaat telah ditetapkan dalam banyak riwayat mutawatir, dan tidak ada seorang pun yang memiliki iman, walaupun sebesar zarrah, yang kekal di neraka.” (Majmū‘ al-Fatāwā)

Rahmat Allah Lebih Luas dari Murka-Nya

Keyakinan ini menanamkan pengharapan (raja’) kepada rahmat Allah dan kewaspadaan (khauf) terhadap azab-Nya. Meskipun seorang muslim bertauhid yakin tidak kekal di neraka, namun ia tidak boleh meremehkan dosa, karena siksa neraka adalah sangat pedih dan hanya bisa diselamatkan dengan taubat dan amal saleh.

Nabi ﷺ bersabda dalam hadis Qudsi:

إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي

“Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Keyakinan bahwa tidak ada orang bertauhid yang kekal di neraka adalah bagian dari akidah Ahlussunnah wal Jama‘ah. Ia berdasar pada Al-Qur’an, hadis-hadis shahih, dan ijma‘ ulama.

Syafaat para nabi dan orang-orang saleh adalah bentuk kasih sayang Allah, dan siapa pun yang memiliki iman seberat atom dalam hati, pada akhirnya akan dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga-Nya.

Semoga Allah mengokohkan hati kita di atas tauhid, memberi taufik untuk selalu bertaubat, dan mengumpulkan kita dalam barisan orang-orang yang mendapat syafaat dan rahmat-Nya. آمين.