Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 37 Part 2

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8

2. Hisab (Perhitungan Amal) pada Hari Kiamat:

Bagian kedua dari teks ini berfokus pada keyakinan akan hari perhitungan (hisab) dan bagaimana manusia akan berbeda dalam menghadapinya.

“وَأَنْ تُؤْمِنَ بِالْحِسَابِ وَتَفَاوُتِ الْخَلْقِ فِيهِ”

(Dan engkau beriman kepada hisab (perhitungan amal) dan perbedaan manusia di dalamnya.) Ini adalah pilar akidah Islam. Iman kepada Hari Kiamat mencakup iman kepada hisab, di mana setiap perbuatan, baik kecil maupun besar, akan di perhitungkan oleh Allah SWT.

Ayat ini menekankan bahwa manusia akan menghadapi hisab dengan tingkatan yang berbeda-beda, menunjukkan keadilan dan hikmah Allah.

“إِلَى مُنَاقَشٍ فِي الْحِسَابِ، وَإِلَى مُتَسَامِحٍ فِيهِ، وَإِلَى مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ، وَهُمُ الْمُقَرَّبُونَ”

(Ada yang diperdebatkan dalam hisab, ada yang diampuni, dan ada yang masuk surga tanpa hisab, yaitu orang-orang yang di dekatkan (kepada Allah).) Ini adalah klasifikasi manusia dalam menghadapi hisab:

Munakasah (di perdebatkan):

Ini adalah hisab yang ketat, di mana Allah akan mengaudit setiap dosa dan kesalahan. Orang yang dihisab secara ketat ini kemungkinan besar akan menghadapi kesulitan besar. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dihisab secara detail, maka dia akan binasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini bukan berarti mereka pasti masuk neraka, tetapi prosesnya akan sangat sulit dan menegangkan.

Mutasamih (diampuni/dimaafkan):

Ini adalah hisab yang ringan, di mana Allah memaafkan banyak dosa karena rahmat-Nya dan kebaikan hamba tersebut. Ini adalah hisab yang di harapkan oleh sebagian besar kaum muslimin.

Baca Juga:

Kajian kitab Bidayatul Hidayah

Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 37 Part 1 https://sabilulhuda.org/kajian-kitab-bidayatul-hidayah-halaman-37-part-1/

Masuk surga tanpa hisab:

Ini adalah tingkatan tertinggi, yaitu bagi al-muqarrabun (orang-orang yang di dekatkan kepada Allah). Mereka adalah hamba-hamba Allah yang paling tulus, paling takwa, dan paling banyak amal kebaikannya, sehingga Allah memasukkan mereka ke surga tanpa melalui proses hisab yang panjang.

Mereka adalah para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin tertentu yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah. Ini adalah puncak rahmat Allah.

“فَيُسْأَلُ مَنْ يَشَاءُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ عَنْ تَبْلِيغِ الرِّسَالَةِ”

(Maka akan ditanya siapa saja yang di kehendaki dari para nabi tentang penyampaian risalah.) Bahkan para nabi pun akan ditanya tentang amanah yang mereka emban, yaitu penyampaian risalah. Ini menunjukkan keadilan Allah dan bahwa tidak ada seorang pun yang luput dari pertanyaan.

Namun, pertanyaan kepada para nabi ini bukan untuk menghukum, melainkan untuk menegaskan bahwa mereka telah melaksanakan tugasnya, dan ini akan menjadi saksi bagi umat-umat mereka.

“وَمَنْ شَاءَ مِنَ الْكُفَّارِ عَنْ تَكْذِيبِ الْمُرْسَلِينَ”

(Dan siapa saja yang di kehendaki dari orang-orang kafir tentang pendustaan mereka terhadap para rasul.) Orang-orang kafir akan di tanya tentang alasan mereka mendustakan para rasul dan ajaran kebenaran.

Pertanyaan ini akan menjadi penegasan atas kekafiran mereka dan keadilan hukuman yang akan mereka terima. Ini menunjukkan bahwa Allah telah menyampaikan kebenaran melalui para utusan-Nya, namun mereka memilih untuk menolaknya.

“وَيُسْأَلُ الْمُبْتَدِعَةُ عَنِ السُّنَّةِ”

(Dan akan ditanya ahli bid’ah tentang sunnah.) Ahli bid’ah adalah orang-orang yang mengada-adakan hal baru dalam agama yang tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Mereka akan ditanya mengapa mereka menyimpang dari Sunnah Nabi ﷺ dan menciptakan praktik-praktik baru. Ini menegaskan pentingnya berpegang teguh pada ajaran Nabi yang murni.

“وَيُسْأَلُ الْمُسْلِمُونَ عَنِ الْأَعْمَالِ”

(Dan akan ditanya kaum muslimin tentang amal perbuatan mereka.) Secara umum, semua umat Islam akan ditanya tentang amal perbuatan mereka, baik ibadah maupun muamalah, baik yang wajib maupun sunnah. Ini mencakup segala aspek kehidupan, menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh.

3. Penjelasan Catatan Kaki:

Teks ini juga menyertakan catatan kaki yang menjelaskan beberapa istilah dan merujuk pada hadits.

“(١) الْمُهِمَّةُ بَعْدَهَا يَاءٌ مُوَحَّدَةٌ هُوَ مِنَ الشُّحُوبِ وَهُوَ تَغَيُّرُ الْوَجْهِ مِنْ جُوعٍ، أَوْ هَزَالٍ، أَوْ تَعَبٍ.”

Ini adalah penjelasan linguistik tentang kata “المهمة” (al-muhimmah) yang di sebutkan di suatu tempat (kemungkinan dalam konteks lain yang tidak di tampilkan di sini, atau ini adalah catatan internal penulis).

Ini menjelaskan bahwa kata tersebut mengacu pada kondisi wajah yang pucat atau berubah karena lapar, kurus, atau kelelahan. Ini adalah penjelasan kamus untuk memudahkan pemahaman.

“قَوْلُهُ: «لَا تُفْتَحُ لَهُمُ السُّدَدُ» أَيْ لَا تُفْتَحُ لَهُمُ الْأَبْوَابُ.”

Ini adalah penjelasan frasa “لَا تُفْتَحُ لَهُمُ السُّدَدُ” (tidak di bukakan bagi mereka jalan-jalan buntu). “السدد” secara harfiah berarti sumbatan atau jalan buntu. Penjelasannya adalah bahwa “tidak di bukakan bagi mereka pintu-pintu.”

Yang mungkin merujuk pada pintu-pintu rahmat, pintu-pintu surga, atau jalan keluar dari kesulitan. Ini sering di kaitkan dengan orang-orang yang durhaka atau kafir.

Baca Juga:

4. Hadits Empat Pertanyaan Di Hari Kiamat:

Bagian terakhir menyajikan hadits penting dari Mu’adz bin Jabal dan Aisyah radhiyallahu ‘anhuma yang menjelaskan empat pertanyaan mendasar yang akan dihadapi setiap hamba di Hari Kiamat.

“عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَنْ تَزُولَ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ:” (Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia di tanya tentang empat perkara:”) Ini adalah hadits yang sangat penting yang menjadi dasar muhasabah (introspeksi) bagi setiap muslim.

Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat bergerak maju atau lolos dari posisi hisab sebelum menjawab empat pertanyaan ini dengan baik.

“١ – عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ.”

1. (Tentang umurnya, untuk apa ia habiskan). Pertanyaan pertama adalah tentang keseluruhan umur seseorang. Ini mencakup setiap detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun yang di berikan Allah. Apakah umur itu di habiskan untuk beribadah, belajar, bekerja yang halal, berbuat baik.

Atau justru untuk hal-hal yang sia-sia, maksiat, atau merugikan? Ini menekankan nilai waktu dan tanggung jawab manusia terhadapnya.

“٢ – وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ.”

2. (Tentang masa mudanya, untuk apa ia usangkan). Pertanyaan kedua adalah tentang masa muda secara spesifik. Masa muda adalah masa puncak kekuatan fisik, mental, dan emosional. Ini adalah masa di mana seseorang memiliki energi paling besar untuk berkarya, belajar, dan beribadah.

Mengapa masa muda di sebutkan secara terpisah? Karena ia adalah periode yang paling krusial dan penuh potensi. Apakah masa muda itu di gunakan untuk mencari ilmu, berjuang di jalan Allah, berbakti kepada orang tua, atau justru untuk bersenang-senang dalam kemaksiatan, kelalaian, dan hal-hal yang tidak bermanfaat?

“٣ – وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، وَفِيمَا أَنْفَقَهُ.”

3. (Tentang hartanya, dari mana ia peroleh, dan untuk apa ia belanjakan). Pertanyaan ketiga terkait dengan harta. Ada dua aspek yang di tanyakan:

“مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ” (dari mana ia peroleh):

Ini menanyakan tentang sumber harta. Apakah di peroleh dari cara yang halal (jual beli, usaha, gaji yang sah) atau dari cara yang haram (riba, suap, mencuri, korupsi)? Islam sangat menekankan pentingnya mencari rezeki yang halal.

“وَفِيمَا أَنْفَقَهُ” (dan untuk apa ia belanjakan):

Ini menanyakan tentang penggunaan harta. Apakah dibelanjakan untuk hal-hal yang baik (sedekah, nafkah keluarga, pendidikan, pembangunan masjid) atau untuk hal-hal yang haram (judi, minuman keras, foya-foya)? Ini menunjukkan bahwa harta adalah amanah yang harus di pertanggungjawabkan penggunaannya.

“٤ – وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ؟”. رَوَاهُ الْبَزَّارُ وَالطَّبَرَانِيُّ.”

4. (Tentang ilmunya, apa yang ia amalkan dengannya?” Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Ath-Thabrani). Pertanyaan keempat adalah tentang ilmu. Ini bukan sekadar tentang berapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi lebih pada bagaimana ilmu itu diamalkan.

Apakah ilmu yang dimiliki (ilmu agama, ilmu dunia) di gunakan untuk kebaikan, untuk mendekatkan diri kepada Allah, untuk memberi manfaat kepada orang lain. Atau justru di simpan saja, atau bahkan di gunakan untuk hal-hal yang merugikan?

Ilmu yang tidak di amalkan bagaikan pohon tanpa buah. Ini menekankan pentingnya mengamalkan ilmu yang dimiliki.

Kesimpulan:

Teks ini merupakan ringkasan akidah Islam yang fundamental, dimulai dengan gambaran Telaga Nabi yang indah sebagai pengharapan bagi kaum mukmin. Kemudian di lanjutkan dengan realitas hisab yang akan di hadapi semua manusia, lengkap dengan berbagai kategorinya.

Puncaknya adalah hadits empat pertanyaan yang menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk senantiasa berintrospeksi dan mempersiapkan diri menghadapi Hari Kiamat dengan sebaik-baiknya.

Teks ini mendorong umat Islam untuk memanfaatkan umur, masa muda, harta, dan ilmu mereka di jalan Allah agar dapat menghadapi hisab dengan ringan dan meraih surga-Nya.

Oleh: Ki Pekathik