Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 36 Part 1

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8

جهنم، احد من السيف، و ادق من الشعر، تزل عنه اقدام الكافرين، بحكم الله فتهوي بهم إلى النار، وتثبت عليه اقدام المؤمنين فيساقون إلى دار القرار.

و ان تؤمن (١) بالحوض المورود، حوض «محمد» ﷺ، يشرب منه المؤمنون قبل دخول الجنة، و بعد جواز الصراط.

أقول:

فعلى قدر الاستقامة على صراط الشريعة في الدنيا، يكون الثبات و النجاة على الصراط في الآخرة. اللهم ثبت اقدامنا يوم تزل فيه الاقدام. اه محمد.

(١) و اختلف هل هو قبل الصراط او بعده، أو هما حوضان احدهما قبله، و الآخر بعده؟

و روى أحمد باسناد حسن، عن ابن عمر رضي الله عنهما قال:

«حوضي كما بين عدن و عمان: ابرء من الثلج، و احلى من العسل، و اطيب ريحا من المسك، اكوابه مثل نجوم السماء، من شرب منه لم يظمأ بعدها ابدا».

اول الناس ورودا صعاليك المهاجرين.

قال قائل: من هم يا رسول الله؟

قال: «الشعثة رؤوسهم، الشجية وجوههم، الدنسة ثيابهم، لا تفتح لهم السدد، و لا ينكحون المنعمات، الذين يعطون كل الذي عليهم، و لا يأخذون كل الذي لهم».

قوله: «الشجية وجوههم» بفتح الشين المعجمة، وكسر الحاء

Cara baca:

مِنْ جَهَنَّمَ، أَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ، وَأَدَقُّ مِنَ الشَّعَرِ، تَزِلُّ عَنْهُ أَقْدَامُ الْكَافِرِينَ، بِحُكْمِ اللَّهِ فَتَهْوِي بِهِمْ إِلَى النَّارِ، وَتَثْبُتُ عَلَيْهِ أَقْدَامُ الْمُؤْمِنِينَ فَيُسَاقُونَ إِلَى دَارِ الْقَرَارِ.

وَأَنْ تُؤْمِنَ (١) بِالْحَوْضِ الْمَوْرُودِ، حَوْضِ «مُحَمَّدٍ» ﷺ، يَشْرَبُ مِنْهُ الْمُؤْمِنُونَ قَبْلَ دُخُولِ الْجَنَّةِ، وَبَعْدَ جَوَازِ الصِّرَاطِ.

أَقُولُ:

فَعَلَى قَدْرِ الِاسْتِقَامَةِ عَلَى صِرَاطِ الشَّرِيعَةِ فِي الدُّنْيَا، يَكُونُ الثَّبَاتُ وَالنَّجَاةُ عَلَى الصِّرَاطِ فِي الْآخِرَةِ. اللَّهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا يَوْمَ تَزِلُّ فِيهِ الْأَقْدَامُ. اهـ مُحَمَّدٌ.

(١) وَاخْتُلِفَ هَلْ هُوَ قَبْلَ الصِّرَاطِ أَوْ بَعْدَهُ، أَوْ هُمَا حَوْضَانِ أَحَدُهُمَا قَبْلَهُ، وَالْآخَرُ بَعْدَهُ؟

وَرُوِيَ أَحْمَدُ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:

«حَوْضِي كَمَا بَيْنَ عَدَنَ وَعُمَانَ: أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، وَأَطْيَبُ رِيحًا مِنَ الْمِسْكِ، أَكْوَابُهُ مِثْلُ نُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهَا أَبَدًا».

أَوَّلُ النَّاسِ وُرُودًا صَعَالِيكُ الْمُهَاجِرِينَ.

قَالَ قَائِلٌ: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

قَالَ: «الشَّعْثَةُ رُؤُوسُهُمْ، الشَّجِيَّةُ وُجُوهُهُمْ، الدَّنِسَةُ ثِيَابُهُمْ، لَا تُفْتَحُ لَهُمُ السُّدَدُ، وَلَا يُنْكَحُونَ الْمُنَعَّمَاتُ، الَّذِينَ يُعْطُونَ كُلَّ الَّذِي عَلَيْهِمْ، وَلَا يَأْخُذُونَ كُلَّ الَّذِي لَهُمْ».

قَوْلُهُ: «الشَّجِيَّةُ وُجُوهُهُمْ» بِفَتْحِ الشِّينِ الْمُعْجَمَةِ، وَكَسْرِ الْحَاءِ

Teks ini membahas beberapa keyakinan fundamental dalam akidah Islam. Khususnya tentang Shirat (jembatan di atas neraka), Al-Haudh (telaga Nabi), dan ciri-ciri orang-orang yang berhak atasnya.

Mari kita bedah setiap bagian secara rinci.

Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 35

Bagian 1: Gambaran Shirat (Jembatan Di Atas Neraka)

مِنْ جَهَنَّمَ، أَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ، وَأَدَقُّ مِنَ الشَّعَرِ، تَزِلُّ عَنْهُ أَقْدَامُ الْكَافِرِينَ، بِحُكْمِ اللَّهِ فَتَهْوِي بِهِمْ إِلَى النَّارِ، وَتَثْبُتُ عَلَيْهِ أَقْدَامُ الْمُؤْمِنِينَ فَيُسَاقُونَ إِلَى دَارِ الْقَرَارِ.

Terjemahan: “Dari Jahannam (Neraka), ia (Shirat) lebih tajam dari pedang, dan lebih halus dari rambut. Tergelincir darinya kaki-kaki orang kafir, dengan ketetapan Allah lalu mereka terjatuh ke Neraka. Dan kokoh di atasnya kaki-kaki orang mukmin, lalu mereka digiring menuju Darul Qarar (Negeri Keabadian/Surga).”

Penjelasan:

Bagian ini menggambarkan dengan detail sifat Shirat, sebuah jembatan yang akan dilalui oleh seluruh manusia pada hari Kiamat. Ini adalah salah satu keyakinan pokok dalam akidah Ahlusunnah wal Jamaah.

1. “Dari Jahannam…”:

Ini menunjukkan bahwa Shirat adalah jembatan yang terentang di atas neraka Jahannam. Ini menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang akan langsung masuk surga tanpa melewati neraka terlebih dahulu dalam arti melewati jembatan di atasnya.

Bahkan, orang mukmin pun akan melalui jembatan ini, meskipun mereka akan berhasil melewatinya dengan selamat.

2. “…Lebih tajam dari pedang, dan lebih halus dari rambut.”:

Deskripsi ini memberikan gambaran tentang betapa sulit dan menantangnya melewati Shirat. Ketajamannya melambangkan kesulitan dan bahaya, sementara kehalusannya menunjukkan betapa rapuh dan tidak stabilnya pijakan di atasnya.

Ini bukanlah jembatan fisik biasa yang dapat dilalui dengan mudah. Sebaliknya, ia melambangkan cobaan spiritual yang ekstrim. Ini juga merupakan ujian keimanan dan amal perbuatan seseorang di dunia.

Seberapa cepat atau lambat seseorang melewatinya, bahkan apakah ia akan tergelincir atau tidak, sangat bergantung pada cahaya keimanan dan amalnya.

3. “Tergelincir darinya kaki-kaki orang kafir, dengan ketetapan Allah lalu mereka terjatuh ke Neraka”:

Ini adalah nasib bagi orang-orang kafir. Karena kekufuran dan dosa-dosa mereka, kaki mereka tidak akan dapat bertahan di atas Shirat. Tergelincirnya mereka adalah bagian dari ketetapan dan keadilan Allah.

Mereka akan langsung jatuh ke dalam api neraka Jahannam yang berada di bawah Shirat. Ini menunjukkan bahwa Shirat berfungsi sebagai filter terakhir yang memisahkan antara penghuni surga dan penghuni neraka.

4. “Dan kokoh di atasnya kaki-kaki orang mukmin, lalu mereka digiring menuju Darul Qarar (Negeri Keabadian/Surga)”:

Sebaliknya, bagi orang-orang mukmin, Allah akan mengokohkan kaki-kaki mereka di atas Shirat. Kekokohan ini adalah karunia dari Allah sebagai balasan atas keimanan dan amal saleh mereka di dunia.

Setelah berhasil melewati Shirat, mereka akan digiring langsung menuju Darul Qarar, yaitu Surga, tempat kebahagiaan abadi. Istilah “Darul Qarar” (Negeri Keabadian) sangat tepat untuk Surga, karena sekali seseorang memasukinya, ia akan kekal di dalamnya tanpa akhir.

Konsep Shirat dalam Akidah: Keyakinan terhadap Shirat didasarkan pada banyak dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun Al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebut “Shirat” dengan nama tersebut.

Dalam konteks jembatan ini, namun ada ayat-ayat yang mengisyaratkan hal ini, dan hadis-hadis Nabi ﷺ menjelaskannya secara gamblang. Shirat adalah bagian dari hari Kiamat yang agung, di mana setiap jiwa akan diuji dan diperhitungkan amalnya.

Kelancaran seseorang melewati Shirat sebanding dengan tingkat keimanannya, ketakwaan, dan amal salehnya di dunia. Ada yang melewatinya secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda, ada yang berlari, ada yang berjalan, bahkan ada yang merangkak, tergantung pada amalnya.

Bagian 2: Keyakinan Tentang Al-Haudh (Telaga Nabi)

وَأَنْ تُؤْمِنَ (١) بِالْحَوْضِ الْمَوْرُودِ، حَوْضِ «مُحَمَّدٍ» ﷺ، يَشْرَبُ مِنْهُ الْمُؤْمِنُونَ قَبْلَ دُخُولِ الْجَنَّةِ، وَبَعْدَ جَوَازِ الصِّرَاطِ.

Terjemahan: “Dan agar engkau beriman (1) kepada Al-Haudh Al-Mawrud (Telaga yang didatangi), yaitu telaga ‘Muhammad’ ﷺ, orang-orang mukmin akan minum darinya sebelum masuk Surga, dan setelah melewati Shirat.”

Penjelasan:

Bagian ini membahas keyakinan tentang Haudh (telaga) Nabi Muhammad ﷺ, yang juga merupakan salah satu keyakinan penting dalam akidah Islam.

1. “Dan agar engkau beriman (1) kepada Al-Haudh Al-Mawrud…”:

Haudh (Telaga) Nabi Muhammad ﷺ adalah sebuah telaga khusus yang dianugerahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ di padang Mahsyar. Istilah “Al-Mawrud” berarti “yang didatangi” atau “yang dikunjungi”, menunjukkan bahwa manusia akan berbondong-bondong mendatanginya untuk minum.

2. “…Haudh Muhammad ﷺ…”:

Ini menegaskan kepemilikan telaga tersebut oleh Nabi Muhammad ﷺ sebagai kemuliaan baginya dan umatnya. Telaga ini adalah salah satu bentuk syafaat khusus Nabi bagi umatnya.

3. “…orang-orang mukmin akan minum darinya sebelum masuk Surga, dan setelah melewati Shirat”:

Ini adalah poin penting mengenai waktu dan tujuan Haudh. Disebutkan bahwa kaum mukmin akan minum darinya setelah melewati Shirat dan sebelum masuk Surga. Minuman dari Haudh ini memiliki keistimewaan luar biasa: siapa pun yang meminumnya tidak akan pernah merasa haus lagi selamanya.

Ini adalah penyegar dan penyempurna kenikmatan bagi mereka yang telah melewati ujian Shirat dan akan segera memasuki Surga. Keterangan ini juga menjawab pertanyaan yang sering muncul mengenai urutan peristiwa di hari Kiamat.

Catatan Kaki (1):

(١) وَاخْتُلِفَ هَلْ هُوَ قَبْلَ الصِّرَاطِ أَوْ بَعْدَهُ، أَوْ هُمَا حَوْضَانِ أَحَدُهُمَا قَبْلَهُ، وَالْآخَرُ بَعْدَهُ؟

Terjemahan: “(1) Dan diperselisihkan apakah ia (Haudh) sebelum Shirat atau sesudahnya, ataukah ada dua telaga, salah satunya sebelum Shirat dan yang lainnya sesudahnya?”

Penjelasan: Catatan kaki ini menunjukkan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai waktu pasti keberadaan Haudh. Pendapat yang kuat, sebagaimana yang disebutkan dalam teks utama, adalah bahwa Haudh itu ada setelah melewati Shirat.

Namun, ada juga pendapat lain yang menyebutkan sebelum Shirat, atau bahkan ada dua Haudh, satu sebelum dan satu sesudah. Perbedaan pendapat ini adalah hal yang wajar dalam ilmu-ilmu Islam, dan yang terpenting adalah keyakinan akan keberadaan Haudh itu sendiri sebagai bagian dari akidah.

Bagian 3: Hubungan Antara Istiqamah Dunia Dan Keberhasilan Di Akhirat

أَقُولُ: فَعَلَى قَدْرِ الِاسْتِقَامَةِ عَلَى صِرَاطِ الشَّرِيعَةِ فِي الدُّنْيَا، يَكُونُ الثَّبَاتُ وَالنَّجَاةُ عَلَى الصِّرَاطِ فِي الْآخِرَةِ. اللَّهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا يَوْمَ تَزِلُّ فِيهِ الْأَقْدَامُ. اهـ مُحَمَّدٌ.

Terjemahan: “Saya berkata: Maka, sesuai dengan kadar keistiqamahan di atas jalan syariat di dunia, akan ada keteguhan dan keselamatan di atas Shirat di akhirat. Ya Allah, kokohkanlah kaki-kaki kami pada hari di mana kaki-kaki tergelincir. Selesai (oleh) Muhammad.”

Penjelasan:

Bagian ini adalah intisari dari pelajaran moral dan spiritual dari konsep Shirat. Penulis (yang nampaknya bernama Muhammad, berdasarkan tanda “اهـ محمد”) menekankan hubungan sebab-akibat antara kehidupan dunia dan akhirat.

1. “Maka, sesuai dengan kadar keistiqamahan di atas jalan syariat di dunia, akan ada keteguhan dan keselamatan di atas Shirat di akhirat.”:

Ini adalah kaidah emas. Shirat di akhirat adalah cerminan dari Shirat (jalan) syariat di dunia. “Istiqamah” berarti konsisten dan teguh dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sesuai dengan ajaran syariat Islam.

Siapa yang istiqamah di jalan kebenaran di dunia, meniti jalan yang lurus (Shirat al-Mustaqim), maka Allah akan menganugerahkan kepadanya keteguhan dan keselamatan saat melewati Shirat di akhirat. Sebaliknya, siapa yang menyimpang di dunia, akan kesulitan atau tergelincir di akhirat.

Ini adalah pengingat penting bahwa kehidupan di dunia adalah ladang untuk bercocok tanam amal yang akan dipanen di akhirat.

2. “Ya Allah, kokohkanlah kaki-kaki kami pada hari di mana kaki-kaki tergelincir.”:

Ini adalah doa yang sangat relevan dan mendalam, yang seharusnya menjadi doa setiap Muslim. Mengingat dahsyatnya Shirat dan potensi tergelincir, memohon keteguhan kepada Allah adalah hal yang paling utama.

Frasa “hari di mana kaki-kaki tergelincir” merujuk pada hari Kiamat, khususnya saat melewati Shirat, di mana banyak kaki akan tergelincir ke neraka.

Bagian 4: Hadis Mengenai Haudh (Telaga Nabi)

وَرُوِيَ أَحْمَدُ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «حَوْضِي كَمَا بَيْنَ عَدَنَ وَعُمَانَ: أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، وَأَطْيَبُ رِيحًا مِنَ الْمِسْكِ، أَكْوَابُهُ مِثْلُ نُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهَا أَبَدًا».

Terjemahan: “Dan diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad hasan, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: ‘Telagaku (Haudhi) lebarnya seperti jarak antara Aden dan Oman: lebih dingin dari salju, lebih manis dari madu, dan lebih harum dari misik. Gelas-gelasnya seperti bintang-bintang di langit. Barang siapa minum darinya, tidak akan haus lagi selamanya.”

Penjelasan:

Bagian ini menyajikan sebuah hadis Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan sanad yang hasan (baik), dari Abdullah bin Umar. Hadis ini memberikan deskripsi yang lebih rinci tentang Haudh Nabi ﷺ.

1. “Haudhi (Telagaku) lebarnya Seperti Jarak Antara Aden Dan Oman”:

Ini adalah perumpamaan untuk menggambarkan luasnya telaga tersebut. Aden adalah sebuah kota di Yaman, dan Oman adalah sebuah negara di Jazirah Arab. Jarak antara keduanya sangatlah jauh, menunjukkan betapa besar dan luasnya telaga Nabi, mampu menampung banyak umatnya.

2. “Lebih dingin dari salju, lebih manis dari madu, dan lebih harum dari misik”:

Ini adalah deskripsi tentang sifat-sifat air telaga.

Lebih dingin dari salju: Menunjukkan kesegaran yang luar biasa, menghilangkan dahaga dan menyegarkan jiwa.

Lebih manis dari madu: Menunjukkan rasa yang sangat lezat, jauh melebihi kenikmatan minuman apapun di dunia.

Lebih harum dari misik: Menunjukkan aroma yang sangat wurni dan menyenangkan, jauh dari bau tak sedap apapun. Sifat-sifat ini menggambarkan minuman surgawi yang sempurna, yang jauh melampaui segala minuman di dunia ini.

3. “Gelas-gelasnya seperti bintang-bintang di langit”:

Perumpamaan ini menggambarkan jumlah gelas yang sangat banyak, bersinar, dan indah. Seolah-olah setiap orang yang datang ke telaga itu akan menemukan gelas yang siap sedia, sebanyak bintang di langit. Ini juga bisa melambangkan keindahan dan kemilau gelas-gelas tersebut.

4. “Barang siapa minum darinya, tidak akan haus lagi selamanya”:

Ini adalah janji agung bagi mereka yang beruntung meminum dari Haudh Nabi. Dahaga fisik dan mungkin juga dahaga spiritual akan hilang selamanya, menandai awal kehidupan abadi yang penuh kenikmatan di Surga.

Bersambung

——