Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 35

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8

بقدرة الله تعالى، والميزان، يوزن مثاقيل الذر والخردل، تحقيقا لتمام العدل، وتطرح صحائف الحسنات، في صورة حسنة في كفة النور، فيثقل بها الميزان على قدر درجاتها عند الله بفضل الله، وتطرح صحائف السيئات في كفة الظلمة، فيخف بها الميزان بعدل الله.

وأن تؤمن بأن الصراط حق، وهو جسر ممدود على

= وقال سبحانه:

فمن ثقلت موازينه فأولئك هم المفلحون ومن خفت موازينه فأولئك الذين خسروا أنفسهم بما كانوا بآياتنا يظلمون

١) هذه اللفظة معربة وليست بعربية
٢) أقول: الصراط: لغة: الطريق الواضح، وشرعا: جسر ممدود على متن جهنم، يرده الأولون والآخرون قال تعالى: وإن منكم إلا واردها
وفي حافتيه كلاليب تأخذ من أمرت به إلى النار.
وروي مرفوعا:
يضرب الصراط بين ظهري جهنم، فأكون أنا وأمتي أول من يجزه، ولا يتكلم يومئذ إلا الرسل، ودعوى الرسل يومئذ: اللهم سلم
ورفعت المرور عليه بعد الحساب فمن تعداه نجا.

٣٥

Cara baca : 

بِقُدْرَةِ اللهِ تَعَالَى، وَالْمِيزَانِ، يُوزَنُ مَثَاقِيلُ الذَّرِّ وَالْخَرْدَلِ،

Dengan kekuasaan Allah Ta‘ala, dan adanya mīzān (timbangan), ditimbanglah sesuatu seberat zarrah (debu kecil) dan biji sawi.

تَحْقِيقًا لِتَمَامِ الْعَدْلِ، وَتُطْرَحُ صَحَائِفُ الْحَسَنَاتِ،

Sebagai bentuk penyempurnaan keadilan, maka diletakkanlah lembaran catatan amal kebaikan,

فِي صُورَةِ حَسَنَةٍ فِي كَفَّةِ النُّورِ، فَيَثْقُلُ بِهَا الْمِيزَانُ عَلَى قَدْرِ دَرَجَاتِهَا

Dalam rupa yang indah di sisi timbangan cahaya, sehingga memberatkan timbangan itu sesuai derajatnya,

عِنْدَ اللهِ بِفَضْلِ اللهِ، وَتُطْرَحُ صَحَائِفُ السَّيِّئَاتِ فِي كَفَّةِ الظُّلْمَةِ،

Di sisi Allah dengan keutamaan-Nya, dan diletakkan pula lembaran catatan dosa dalam timbangan kegelapan,

فَيَخِفُّ بِهَا الْمِيزَانُ بِعَدْلِ اللهِ.

Maka menjadi ringanlah timbangan itu dengan keadilan Allah.

وَأَنْ تُؤْمِنَ بِأَنَّ الصِّرَاطَ حَقٌّ، وَهُوَ جِسْرٌ مَمْدُودٌ عَلَى…

Dan hendaknya engkau beriman bahwa shirāṭ (jembatan) itu benar adanya, yaitu jembatan yang dibentangkan di atas…

Baca Juga:

Ayat Al-Qur’an:

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

Maka barang siapa yang berat timbangan [kebaikannya], maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang ringan timbangan [kebaikannya], maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri karena mereka berlaku zalim terhadap ayat-ayat Kami. (QS. Al-A‘rāf: 8–9)

Catatan:

(١) هٰذِهِ ٱللَّفْظَةُ مُعَرَّبَةٌ وَلَيْسَتْ بِعَرَبِيَّةٍ

(1) Kata ini (الميزان) berasal dari bahasa non-Arab yang diserap, bukan asli bahasa Arab.

(٢) أَقُولُ: الصِّرَاطُ: لُغَةً: ٱلطَّرِيقُ ٱلْوَاضِحُ، وَشَرْعًا: جِسْرٌ مَمْدُودٌ عَلَىٰ مَتْنِ جَهَنَّمَ، يَرِدُهُ ٱلْأَوَّلُونَ وَٱلْآخِرُونَ، قَالَ تَعَالَىٰ: وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا

Artinya:
(2) Aku berkata: Shirāṭ secara bahasa artinya jalan yang jelas. Dan secara syar‘i: jembatan yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam, dilalui oleh orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan akan mendatanginya.” (QS. Maryam: 71)

وَفِي حَافَتَيْهِ كَلَالِيبُ تَأْخُذُ مَنْ أُمِرَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ.

Di kedua sisinya terdapat pengait-pengait yang mencengkeram siapa saja yang diperintahkan untuk dilempar ke dalam neraka.

وَرُوِيَ مَرْفُوعًا:

Dan diriwayatkan secara marfū‘:

يُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَانِي جَهَنَّمَ، فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي أَوَّلُ مَنْ يُجِيزُهُ،

Shallāllāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: Shirāṭ dibentangkan di antara punggung neraka Jahannam, maka akulah dan umatku yang pertama melaluinya.

وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ إِلَّا الرُّسُلُ، وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ: اللَّهُمَّ سَلِّمْ.

Tidak ada yang dapat berbicara pada hari itu kecuali para rasul, dan doa mereka saat itu adalah: “Ya Allah, selamatkanlah.”

وَوُقِتَ الْمُرُورُ عَلَيْهِ بَعْدَ الْحِسَابِ، فَمَنْ تَعَدَّاهُ نَجَا.

Dan waktu melewati shirāṭ adalah setelah hisab, barang siapa yang berhasil melewatinya, maka ia telah selamat.

Penjelasan:

Timbangan Amal (Mīzān) dan Shirāṭ menurut Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah

1. Keyakinan terhadap Mīzān (الميزان): Timbangan Amal

Dalam teks tersebut ditegaskan bahwa mīzān (الميزان) atau timbangan amal adalah suatu kebenaran yang harus diyakini. Ini merupakan bagian dari rukun iman yang keenam: iman kepada hari kiamat, yang mencakup semua peristiwa akhirat termasuk hisab (perhitungan amal), mīzān (timbangan), dan pembalasan.

Disebutkan bahwa:

“يُوزَنُ مَثَاقِيلُ الذَّرِّ وَالْخَرْدَلِ”

Ditimbanglah seberat zarrah (debu kecil) dan biji sawi.

Ini menunjukkan kesempurnaan keadilan Allah, di mana tidak ada amal yang luput, sekecil apapun, baik atau buruk. Bahkan amal seberat debu pun akan diperhitungkan:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

Lembar amal (ṣaḥā’if al-a‘māl) akan ditimbang. Amal baik akan muncul dalam rupa indah dan terang, diletakkan di kafah an-nūr (timbangan cahaya), dan memberatkan timbangan karena karunia Allah. Sebaliknya, amal buruk diletakkan di kafah aẓ-ẓulmah (timbangan kegelapan), dan meringankan timbangan karena keadilan Allah.

2. Timbangan Amal

Ahlus Sunnah meyakini bahwa timbangan amal adalah nyata, bukan hanya kiasan atau metafora. Timbangan ini memiliki dua sisi (كفّتان) dan lisan (لسان), sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat.

Timbangan ini mampu menimbang amal, bahkan dalam bentuk catatan (ṣaḥīfah), dan memberikan hasil yang menunjukkan mana yang lebih berat amal baik atau amal buruk. 

1. كفّتان (Kaffatān) – Dua sisi timbangan

Kata “كفّتان” adalah bentuk ganda (dual) dari “كفّة”, yang artinya sisi atau piringan timbangan.

Jadi maksudnya:
Timbangan tersebut seperti timbangan tradisional kuno (misalnya neraca), yang memiliki dua sisi kanan dan kiri.

Satu sisi untuk amal baik (الحسنات)
Satu sisi untuk amal buruk (السيئات)

Amal baik dan buruk seseorang akan ditimbang di kedua sisi ini. Yang lebih berat akan menentukan nasib akhir seseorang (masuk surga atau neraka).

2. لسان (Lisān) – Lidah atau jarum penunjuk

Secara bahasa, “لسان” artinya lidah. Tapi dalam konteks timbangan, “lisān” merujuk pada:

Jarum penunjuk keseimbangan pada timbangan
Yakni bagian kecil yang menunjukkan apakah timbangan condong ke kiri atau ke kanan—lebih berat amal baik atau lebih berat amal buruk.

Nabi ﷺ bersabda:

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman: Subḥānallāh wa biḥamdih, Subḥānallāh al-‘Aẓīm.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, timbangan ini bukan simbolis, tapi akan benar-benar terjadi di akhirat kelak.

Jadi, maksud “timbangan ini memiliki dua sisi (كفّتان) dan lisan (لسان)” adalah bahwa:

Timbangan amal di akhirat adalah nyata,
Ia memiliki dua piringan: satu untuk amal baik dan satu untuk amal buruk,
Dan ada “lidah” atau jarum yang menunjukkan berat sebelahnya.

Dan dari sanalah akan tampak siapa yang beruntung (فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ) dan siapa yang merugi (فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ).

3. Shirāṭ: Jembatan di Atas Neraka

Selanjutnya, teks tersebut menyatakan bahwa seorang Muslim wajib meyakini adanya ṣirāṭ (الصراط), yaitu jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam.

“وَأَنْ تُؤْمِنَ بِأَنَّ الصِّرَاطَ حَقٌّ، وَهُوَ جِسْرٌ مَمْدُودٌ عَلَى مَتْنِ جَهَنَّمَ”
“Dan hendaknya engkau beriman bahwa shirāṭ itu benar adanya, yaitu jembatan yang terbentang di atas permukaan Jahannam.”

Makna Shirāṭ

Kata ṣirāṭ secara bahasa berarti jalan yang jelas. Namun secara istilah (syar‘i), shirāṭ adalah jembatan yang sangat halus dan tajam, di bentangkan di atas neraka. Semua manusia akan melewatinya setelah proses hisab dan mīzān.

Firman Allah:

وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan pasti mendatanginya (neraka), hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketetapan yang pasti terjadi.” (QS. Maryam: 71)

Menurut Ahlus Sunnah, maksud ayat ini adalah semua manusia akan melewati shirāṭ, yang di bentangkan di atas neraka. Yang beriman akan selamat, sedangkan yang kafir dan penuh dosa akan jatuh ke dalamnya.

4. Keadaan di Shirāṭ

Dalam teks di jelaskan bahwa:

“وَفِي حَافَتَيْهِ كَلَالِيبُ تَأْخُذُ مَنْ أُمِرَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ”

“Di kedua sisi shirāṭ terdapat pengait-pengait yang mencengkeram siapa saja yang telah di perintahkan untuk di lemparkan ke neraka.”

Ini menggambarkan kengerian hari itu. Tidak semua orang bisa melewati shirāṭ dengan selamat. Ada yang terpeleset, ada yang tergores, dan ada yang terjatuh karena dosa-dosa mereka.

Nabi ﷺ bersabda:

“Shirāṭ lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” (HR. Muslim secara makna dalam banyak riwayat)

5. Orang Pertama yang Menyeberang Shirāṭ

Dalam teks tersebut di sebutkan:

“فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي أَوَّلُ مَنْ يُجِيزُهُ، وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ إِلَّا الرُّسُلُ، وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ: اللَّهُمَّ سَلِّمْ”

“Maka akulah (Nabi ﷺ) dan umatku yang pertama menyeberanginya. Dan tidak ada yang bisa berbicara pada hari itu kecuali para rasul. Dan doa para rasul hari itu adalah: Ya Allah, selamatkanlah.”

Hadis ini menunjukkan kemuliaan umat Muhammad ﷺ sebagai umat pertama yang melewati shirāṭ. Dalam keadaan sangat mengerikan, semua Nabi hanya berdoa “Allāhumma sallim” (Ya Allah, selamatkanlah).

6. Siapa yang Selamat Menyeberang?

Akhir dari teks berbunyi:

“وَوُقِتَ الْمُرُورُ عَلَيْهِ بَعْدَ الْحِسَابِ، فَمَنْ تَعَدَّاهُ نَجَا.”

“Dan waktu melewati shirāṭ itu adalah setelah hisab. Maka barang siapa berhasil melewatinya, maka ia telah selamat.”

Keselamatan di shirāṭ adalah ukuran akhir dari nasib seseorang di akhirat. Orang-orang beriman yang amalnya di terima akan melewati shirāṭ dengan cepat: ada yang secepat kilat, angin, kuda, atau unta, sesuai keimanan dan amalnya.

Sebaliknya, orang-orang yang berdosa akan tertahan, di sambar pengait, dan di jatuhkan ke neraka.

Hikmah 

Mengimani mīzān dan shirāṭ memberikan beberapa pelajaran besar dalam hidup:

Keadilan Allah itu sempurna – tidak ada yang luput dari perhitungan, bahkan sebesar zarrah.

Amal baik sekecil apapun tidak sia-sia – setiap dzikir, sedekah, niat, dan amal shaleh akan masuk dalam timbangan.

Dosa harus di sucikan di dunia – melalui tobat dan amal baik, karena jika tidak, akan menjadi beban di akhirat.

Hari akhir sangat nyata dan menakutkan – dan hanya dengan rahmat Allah dan syafaat Nabi ﷺ seseorang bisa selamat.

Pentingnya mengikuti sunnah dan meneladani Nabi – karena beliaulah pemimpin yang pertama melewati shirāṭ bersama umatnya.

Penutup 

Mengimani mīzān dan shirāṭ adalah bagian dari akidah Islam. Keduanya menggambarkan keadilan, rahmat, dan kedahsyatan hari akhirat. Sudah selayaknya kita mempersiapkan diri dengan amal shaleh, taubat, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ تَثْقُلُ مَوَازِينُهُ، وَتُضِيءُ صَحَائِفُهُ، وَيَسْلَمُ فِي اجْتِيَازِ الصِّرَاطِ، وَيَفُوزُ بِرِضْوَانِكَ وَجَنَّاتِ النَّعِيمِ. آمِينَ.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berat timbangan amal baiknya, terang catatan amalnya, selamat dalam melewati shirāṭ, dan memperoleh ridha-Mu serta surga-Mu yang penuh kenikmatan. Āmīn.”

Oleh: Ki Pekathik