وهما فتانا القبر وسؤالهما اول فتنة بعد الموت، وان تؤمن بعذاب القبر، وانه حق وحكمة وعدل على الجسم والروح على من يشاء(١).
وتؤمن(٢) بالميزان ذي الكفتين واللسان، وصفته في العظم مثل طباق السموات والارض، وتوزن فيه الاعمال
(١) روي عن ابن مسعود رضي الله تعالى عنه عن النبي ﷺ انه قال: (وان الموتى ليعذبون في قبورهم، حتى إن البهائم لتسمع أصواتهم). رواه الطبراني في الكبير بإسناد حسن.
ومن انس رضي الله تعالى عنه ان رسول الله ﷺ قال: (لولا ان لا تدافنوا لدعوت الله ان يسمعكم عذاب القبر).
(٢) لثبوت ذلك في الكتاب والسنة قال تعالى: ﴿وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ﴾.
وهو ذو كفتين ولسان، توزن فيه الاعمال فعلا وقولا.
واختلف في انه واحد، او متعدد، وفي ان للكافر وزنا او لا؟
وفي ان الموزون صحف الاعمال، او اجسام لها على قدر الاعمال في الثواب والعقاب فيه خلاف.
يكفينا الايمان بالوزن والميزان من غير تعيين.
وهو ميزان حق له لسان وكفتان كما تقدم:
١- احداهما نيرة وهي اليمنى المعدة للحسنات.
٢- والاخرى مظلمة، وهي اليسرى المعدة للسيئات.
وقال تعالى: ﴿وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ﴾.
٢٤
Cara Baca:
وَهُمَا فَتَّانَا الْقَبْرِ، وَسُؤَالُهُمَا أَوَّلُ فِتْنَةٍ بَعْدَ الْمَوْتِ،
وَأَنْ تُؤْمِنَ بِعَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَنَّهُ حَقٌّ وَحِكْمَةٌ وَعَدْلٌ عَلَى الْجِسْمِ وَالرُّوحِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ.
وَتُؤْمِنَ بِالْمِيزَانِ ذِي الْكَفَّتَيْنِ وَاللِّسَانِ، وَصِفَتُهُ فِي الْعِظَمِ مِثْلُ طِبَاقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ،
وَتُوزَنُ فِيهِ الْأَعْمَالُ.
وَهُمَا فَتَّانَا الْقَبْرِ، وَسُؤَالُهُمَا أَوَّلُ فِتْنَةٍ بَعْدَ الْمَوْتِ،
Baca Juga:

Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 33 https://sabilulhuda.org/kajian-kitab-bidayatul-hidayah-halaman-33/
Keduanya adalah penguji kubur (yakni: Munkar dan Nakir), dan pertanyaan mereka adalah fitnah (ujian) pertama setelah kematian.
وَأَنْ تُؤْمِنَ بِعَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَنَّهُ حَقٌّ وَحِكْمَةٌ وَعَدْلٌ عَلَى الْجِسْمِ وَالرُّوحِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ.
Dan bahwa engkau beriman kepada azab kubur, dan bahwa ia adalah benar, penuh hikmah dan adil, atas tubuh dan ruh, atas siapa yang Dia kehendaki.
وَتُؤْمِنَ بِالْمِيزَانِ ذِي الْكَفَّتَيْنِ وَاللِّسَانِ، وَصِفَتُهُ فِي الْعِظَمِ مِثْلُ طِبَاقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ،
Dan engkau beriman kepada neraca (timbangan) yang memiliki dua daun timbangan (kafatan) dan lidah (lisan), yang sifat besarnya seperti lapisan langit dan bumi.
وَتُوزَنُ فِيهِ الْأَعْمَالُ.
Dan padanya ditimbanglah amal-amal perbuatan.
Bagian Catatan Kaki Hadis
(١) رُوِيَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:
«وَإِنَّ الْمَوْتَى لَيُعَذَّبُونَ فِي قُبُورِهِمْ، حَتَّى إِنَّ الْبَهَائِمَ لَتَسْمَعُ أَصْوَاتَهُمْ».
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ.
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ:
«لَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا، لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ عَذَابَ الْقَبْرِ».
رُوِيَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ…
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
«وَإِنَّ الْمَوْتَى لَيُعَذَّبُونَ…
“Sesungguhnya orang-orang mati benar-benar disiksa di dalam kubur mereka, sampai-sampai binatang pun mendengar suara mereka.”
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ…
Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam kitab al-Kabīr dengan sanad yang hasan.
وَعَنْ أَنَسٍ…
Dan dari Anas رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا…
“Seandainya kalian tidak akan berhenti menguburkan jenazah satu sama lain, niscaya aku akan memohon kepada Allah agar memperdengarkan kalian azab kubur.”
Bagian Iman kepada Timbangan (lanjutan):
(٢) لِثُبُوتِ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ﴾،
وَهُوَ ذُو كَفَّتَيْنِ وَلِسَانٍ، تُوزَنُ فِيهِ الْأَعْمَالُ فِعْلًا وَقَوْلًا.
وَاخْتُلِفَ فِي أَنَّهُ وَاحِدٌ، أَوْ مُتَعَدِّدٌ، وَفِي أَنَّ لِلْكَافِرِ وَزْنًا أَوْ لَا؟
وَفِي أَنَّ الْمَوْزُونَ صُحُفُ الْأَعْمَالِ، أَوْ أَجْسَامٌ لَهَا عَلَى قَدْرِ الْأَعْمَالِ فِي الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ، فِيهِ خِلَافٌ.
يَكْفِينَا الْإِيمَانُ بِالْوَزْنِ وَالْمِيزَانِ مِنْ غَيْرِ تَعْيِينٍ.
وَهُوَ مِيزَانٌ حَقٌّ، لَهُ لِسَانٌ وَكَفَّتَانِ كَمَا تَقَدَّمَ:
١- أَحَدُهُمَا نَيِّرَةٌ، وَهِيَ الْيُمْنَى الْمُعَدَّةُ لِلْحَسَنَاتِ.
٢- وَالْأُخْرَى مُظْلِمَةٌ، وَهِيَ الْيُسْرَى الْمُعَدَّةُ لِلسَّيِّئَاتِ.
قَالَ تَعَالَى: ﴿وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ﴾.
(٢) لِثُبُوتِ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ…
(2) Karena telah tetap (sah) dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
قَالَ تَعَالَى: ﴿وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ﴾
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan timbang-timbangan pada hari itu adalah benar.”
وَهُوَ ذُو كَفَّتَيْنِ وَلِسَانٍ…
Dan ia (timbangan) memiliki dua daun timbangan dan lidah, padanya ditimbang amal-amal perbuatan, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
وَاخْتُلِفَ فِي أَنَّهُ وَاحِدٌ…
Para ulama berselisih apakah timbangannya satu atau lebih?
وَفِي أَنَّ لِلْكَافِرِ وَزْنًا أَوْ لَا؟
Dan apakah orang kafir memiliki timbangan atau tidak?
وَفِي أَنَّ الْمَوْزُونَ…
Dan apakah yang ditimbang itu lembaran-lembaran amal, ataukah makhluk yang berbentuk sesuai kadar amal mereka dalam pahala dan siksa?
فِيهِ خِلَافٌ…
Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat.
يَكْفِينَا الْإِيمَانُ بِالْوَزْنِ وَالْمِيزَانِ مِنْ غَيْرِ تَعْيِينٍ.
Cukuplah bagi kita untuk beriman pada adanya penimbangan dan timbangan tanpa menetapkan secara rinci.
وَهُوَ مِيزَانٌ حَقٌّ…
Dan ia adalah timbangan yang benar, memiliki lidah dan dua daun timbangan sebagaimana telah disebutkan:
١- أَحَدُهُمَا نَيِّرَةٌ، وَهِيَ الْيُمْنَى الْمُعَدَّةُ لِلْحَسَنَاتِ.
Pertama: Yang bercahaya, yaitu daun kanan, yang disediakan untuk (menimbang) kebaikan.
٢- وَالْأُخْرَى مُظْلِمَةٌ، وَهِيَ الْيُسْرَى الْمُعَدَّةُ لِلسَّيِّئَاتِ.
Kedua: Yang gelap, yaitu daun kiri, yang disediakan untuk (menimbang) kejahatan.
قَالَ تَعَالَى: ﴿وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ﴾
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan Kami letakkan timbangan-timbangan keadilan pada hari kiamat.”

Penjelasan:
Dalam ajaran Islam, kehidupan setelah kematian dari jasad merupakan permulaan fase baru yang penuh ujian, keadilan, dan pembalasan yang sempurna. Salah satu bagian terpenting dalam rukun iman adalah beriman kepada hari akhir, yang mencakup peristiwa-peristiwa setelah kematian: dari alam barzakh hingga hari kebangkitan.
Tulisan di atas menegaskan tiga poin utama dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah: fitnah kubur, azab kubur, dan mīzān (timbangan amal) di hari kiamat.
1. Fitnah Kubur: Ujian Pertama Setelah Kematian
Kalimat “وَهُمَا فَتَّانَا الْقَبْرِ، وَسُؤَالُهُمَا أَوَّلُ فِتْنَةٍ بَعْدَ الْمَوْتِ” (Keduanya adalah penguji kubur dan pertanyaannya adalah fitnah pertama setelah kematian) merujuk kepada dua malaikat yang dikenal sebagai Munkar dan Nakir.
Kedua malaikat ini datang kepada setiap orang yang meninggal dunia, lalu mengajukan tiga pertanyaan penting: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?
Ujian ini merupakan fitnah atau cobaan pertama dalam fase alam kubur (barzakh). Ia bukan sekadar simbolik, tetapi hakikat yang akan dialami setiap ruh manusia, baik yang dikuburkan di tanah, tenggelam di laut, maupun yang tidak ditemukan jasadnya. Ujian ini menjadi barometer awal dari perjalanan panjang menuju kehidupan abadi.
2. Azab Kubur: Hakikat yang Benar dan Adil
Tulisan tersebut menyatakan:
” أَنْ تُؤْمِنَ بِعَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَنَّهُ حَقٌّ وَحِكْمَةٌ وَعَدْلٌ عَلَى الْجِسْمِ وَالرُّوحِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ.”
“Dan hendaknya engkau beriman kepada azab kubur, dan bahwa ia adalah hak (benar), hikmah, dan keadilan atas jasad dan ruh bagi siapa yang Allah kehendaki.”
Keyakinan akan adanya azab kubur merupakan bagian dari iman. Ia telah disebutkan dalam banyak hadis, di antaranya sabda Rasulullah ﷺ:
“Sesungguhnya orang-orang mati benar-benar disiksa di dalam kubur mereka hingga binatang pun mendengar suara mereka.”
(HR. Ath-Thabarani dalam al-Kabīr, dengan sanad hasan)
Bahkan dalam hadis Anas رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian tidak saling menguburkan, niscaya aku akan memohon kepada Allah agar memperdengarkan kalian azab kubur.”
Azab kubur ditimpakan kepada mereka yang bermaksiat, mendustakan wahyu, atau hidup tanpa iman. Ia menimpa ruh dan jasad secara bersamaan, dengan cara yang sesuai dengan hikmah Allah. Sebaliknya, orang-orang beriman yang taat akan mendapatkan nikmat kubur, berupa kelapangan, cahaya, dan kedamaian.
3. Iman kepada Mīzān (Timbangan Amal): Penegak Keadilan Ilahi
Bagian selanjutnya dari teks membahas mīzān, atau timbangan amal di hari kiamat:
“وَتُؤْمِنَ بِالْمِيزَانِ ذِي الْكَفَّتَيْنِ وَاللِّسَانِ، وَصِفَتُهُ فِي الْعِظَمِ مِثْلُ طِبَاقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ،
وَتُوزَنُ فِيهِ الْأَعْمَالُ.”
“Dan hendaknya engkau beriman kepada mīzān yang memiliki dua daun timbangan dan lidah, yang besarnya seperti lapisan langit dan bumi. Amal-amal ditimbang di dalamnya.”
Timbangan ini bukanlah simbol atau metafora, melainkan timbangan hakiki yang memiliki dua kiffah (daun timbangan) dan lisan (bagian penunjuk berat).
Inilah alat Allah dalam menegakkan keadilan-Nya di padang mahsyar. Di dalamnya ditimbang segala amal manusia, baik yang kecil maupun besar, baik ucapan maupun perbuatan.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan timbangan pada hari itu adalah benar.” (QS. Al-A’raf: 8)
“Kami akan letakkan timbangan-timbangan keadilan pada hari kiamat.” (QS. Al-Anbiya: 47)
Para ulama berbeda pendapat mengenai rincian teknis mīzān:
Apakah satu timbangan untuk semua atau masing-masing orang memiliki timbangan sendiri?
Apakah orang kafir turut ditimbang amalnya?
Apakah yang ditimbang itu bentuk amal, catatan amal, ataukah manusia itu sendiri dalam bentuk sesuai amalnya?
Namun semua ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa mīzān itu ada, dan amal akan ditimbang di hadapan Allah. Maka cukup bagi kita untuk beriman kepadanya tanpa harus menentukan bentuk atau mekanismenya secara pasti, karena hal itu termasuk perkara ghaib yang tidak dijangkau akal.
4. Sifat Mīzān dan Keadilan yang Sempurna
Dalam penjelasan teks, disebutkan bahwa salah satu daun timbangan bercahaya (kanan) untuk amal baik, dan yang satu lagi gelap (kiri) untuk amal buruk. Ini menggambarkan keadilan Allah yang begitu sempurna: tidak ada yang luput, tidak ada yang ditambah atau dikurangi.
Setiap amal akan ditampakkan dan ditimbang. Jika amal baik lebih berat, maka ia masuk surga; dan jika amal buruk lebih berat, maka ia akan diadili sesuai keadilan Allah.
Ini memberikan peringatan sekaligus harapan: bahwa setiap amal kita — sekecil apapun — tidak akan sia-sia.
Keimanan terhadap fitnah kubur, azab kubur, dan mīzān merupakan bagian penting dalam memperkuat ketakwaan dan kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Allah. Ia menanamkan rasa takut sekaligus harapan dalam diri seorang mukmin.
Maka, marilah kita menyiapkan bekal sebelum masuk alam barzakh dan berjumpa dengan timbangan amal kita karena kelak, tidak ada lagi waktu untuk menambah kebaikan, kecuali hari ini.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُبُورَنَا رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ، وَلَا تَجْعَلْهَا حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النَّارِ، وَثَبِّتْنَا عِنْدَ السُّؤَالِ، وَثَقِّلْ مِيزَانَنَا بِالْحَسَنَاتِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
“Ya Allah, jadikanlah kubur kami taman dari taman-taman surga, dan jangan Engkau jadikan sebagai lubang dari lubang-lubang neraka. Teguhkan kami saat ditanya di alam kubur, dan beratkan timbangan kami dengan amal kebaikan. Wahai Tuhan yang Maha Pengasih.”
Oleh: Ki Pekathik


