Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 30

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8
Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 30

الأفعال:

وأنه لا موجود سواه، إلا وهو حادث بفعله، وفائض من عدله على أحسن الوجوه، وأكملها وأتمها وأعدلها، وأنه حكيم في أفعاله، عادل في أقضيته، لا يقاس عدله بعدل العباد، إذ العبد يتصور منه الظلم بتصرفه في ملك غيره، ولا يتصور الظلم من الله، فإنه لا يصادف لغيره ملكاً حتى لا يكون تصرفه فيه ظلماً، وكل ما سواه من جن وإنس، وشيطان وملك، وسماء وأرض، وحيوان ونبات، وجوهر

وعرض ومدبر، هو محسوس حادث، اخترعه بقدرته بعد العدم اختراعا، وأنشأه بعد أن لم يكن شيئا

٣٠

Cara baca:

 الأَفْعَالُ:

al-ʾaf‘ālu
Perbuatan-perbuatan (Allah):

 وَأَنَّهُ لَا مَوْجُودَ سِوَاهُ، إِلَّا وَهُوَ حَادِثٌ بِفِعْلِهِ، وَفَائِضٌ مِنْ عَدْلِهِ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ، وَأَكْمَلِهَا، وَأَتَمِّهَا، وَأَعْدَلِهَا؛

Dan bahwa tidak ada sesuatu yang wujud selain Dia, kecuali semuanya adalah makhluk (yang baru) karena perbuatan-Nya, dan merupakan pancaran dari keadilan-Nya dengan sebaik-baik bentuk, yang paling sempurna, paling lengkap, dan paling adil.

وَأَنَّهُ حَكِيمٌ فِي أَفْعَالِهِ، عَادِلٌ فِي أَقْضِيَتِهِ، لَا يُقَاسُ عَدْلُهُ بِعَدْلِ الْعِبَادِ؛

Dan bahwa Dia Maha Bijaksana dalam perbuatan-Nya, Maha Adil dalam keputusan-Nya, dan keadilan-Nya tidak dapat dibandingkan dengan keadilan para hamba.

إِذِ الْعَبْدُ يُتَصَوَّرُ مِنْهُ الظُّلْمُ بِتَصَرُّفِهِ فِي مُلْكِ غَيْرِهِ، وَلَا يُتَصَوَّرُ الظُّلْمُ مِنَ اللَّهِ؛

Karena seorang hamba mungkin dianggap berbuat zalim jika ia bertindak dalam milik orang lain, sedangkan Allah — tidak mungkin dinisbatkan kezhaliman kepada-Nya.

 فَإِنَّهُ لَا يُصَادِفُ لِغَيْرِهِ مُلْكًا حَتَّى لَا يَكُونَ تَصَرُّفُهُ فِيهِ ظُلْمًا؛

Sebab tidak ada satu pun kepemilikan yang benar-benar milik selain Allah, sehingga tindakan-Nya atas apa pun tidak bisa disebut zalim.

 وَكُلُّ مَا سِوَاهُ مِنْ جِنٍّ وَإِنْسٍ، وَشَيْطَانٍ وَمَلَكٍ، وَسَمَاءٍ وَأَرْضٍ، وَحَيَوَانٍ وَنَبَاتٍ، وَجَوْهَرٍ وَعَرَضٍ وَمُدَبِّرٍ، هُوَ مَحْسُوسٌ حَادِثٌ؛

Dan semua yang selain Dia — baik jin, manusia, setan, malaikat, langit, bumi, hewan, tumbuhan, zat (jauhar), sifat (‘arad), dan pengelola — semuanya adalah makhluk yang dapat dirasakan dan merupakan ciptaan baru.

 اخْتَرَعَهُ بِقُدْرَتِهِ بَعْدَ الْعَدَمِ اخْتِرَاعًا، وَأَنْشَأَهُ بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا.

Dia menciptakan semuanya dengan kekuasaan-Nya setelah sebelumnya tiada, dan mengadakan mereka setelah sebelumnya bukan apa-apa.

Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 29

Penjelasan:

Dalam naskah klasik tersebut, kita disadarkan pada salah satu prinsip agung dalam akidah Islam: bahwa semua yang ada selain Allah adalah ciptaan-Nya, yang Dia ciptakan dengan kekuasaan-Nya, dan seluruhnya berjalan dalam keadilan dan kebijaksanaan-Nya yang sempurna.

Segala Sesuatu Adalah Makhluk

Kalimat yang penuh makna:
“وَأَنَّهُ لَا مَوْجُودَ سِوَاهُ، إِلَّا وَهُوَ حَادِثٌ بِفِعْلِهِ”
“Tidak ada yang wujud selain Dia, kecuali semuanya adalah makhluk baru karena perbuatan-Nya.”

Pernyataan ini menghujamkan sebuah kesadaran spiritual mendalam: bahwa segala yang kita lihat, rasakan, pikirkan, cintai, takuti—semuanya berasal dari kehendak Allah. Tak ada yang lepas dari genggaman-Nya.

Langit yang luas, bintang yang gemerlap, bumi yang subur, hewan yang lucu, manusia yang cerdas, bahkan iblis yang durhaka — semuanya adalah makhluk, diciptakan oleh-Nya dari ketiadaan menjadi ada, semata karena kehendak dan kuasa-Nya.

Allah berfirman:
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Allah-lah Pencipta segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

Ini bukan hanya pengakuan teoretis, tapi fondasi tauhid yang mendalam: kita hanyalah ciptaan yang rapuh, tergantung total kepada Tuhan yang Maha Sempurna.

Pancaran Keadilan dan Kebijaksanaan

Tidak cukup hanya menyadari bahwa Allah adalah Sang Pencipta. Kita juga diajak menyelami bahwa semua ciptaan itu memancar dari keadilan-Nya dan kebijaksanaan-Nya yang sempurna, sebagaimana disebutkan:

“وَفَائِضٌ مِنْ عَدْلِهِ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ، وَأَكْمَلِهَا، وَأَتَمِّهَا، وَأَعْدَلِهَا”
“Penciptaan itu merupakan pancaran dari keadilan-Nya dalam bentuk yang terbaik, paling sempurna, paling lengkap, dan paling adil.”

Seringkali manusia bertanya-tanya: “Mengapa begini? Mengapa begitu?” Seolah-olah kita tahu lebih baik dari Tuhan. Padahal kita adalah makhluk yang pengetahuannya terbatas, bahkan sangat sempit.

Sementara Allah menciptakan segala sesuatu dengan aturan yang tak mungkin salah. Tidak ada satu pun perbuatan Allah yang tidak adil, meski kita kadang tak memahaminya.

Bahkan ketika seseorang diuji dengan sakit, kehilangan, atau penderitaan — di situlah tersimpan hikmah dan rahmat yang mungkin tersembunyi dari akal manusia.

Keadilan Allah 

Teks ini kemudian memberi penegasan penting:

“لَا يُقَاسُ عَدْلُهُ بِعَدْلِ الْعِبَادِ”
“Keadilan Allah tidak bisa dibandingkan dengan keadilan hamba-hamba-Nya.”

Keadilan manusia bersifat relatif dan terbatas. Bahkan orang paling adil pun masih bisa salah, karena ia menilai dari luar, dari dugaan, dari rasa dan prasangka.

Sementara keadilan Allah adalah mutlak dan menyeluruh. Dia tahu apa yang tidak kita tahu. Dia menciptakan segala sesuatu, dan tidak ada satu pun milik makhluk yang benar-benar terlepas dari kekuasaan-Nya.

Maka dikatakan:
“لَا يُتَصَوَّرُ الظُّلْمُ مِنَ اللَّهِ”
“Tidak mungkin kezhaliman itu berasal dari Allah.”

Mengapa? Karena zhalim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya atau mengambil hak yang bukan miliknya. Sedangkan Allah adalah Pemilik segala sesuatu, tidak ada satu pun yang bukan milik-Nya. Jadi, bagaimana mungkin Dia dianggap zhalim dalam sesuatu yang sepenuhnya milik-Nya?

Maka tidak ada takdir-Nya yang bisa disebut tidak adil, meski manusia menangis atau protes. Di balik setiap takdir-Nya, ada hikmah, keadilan, dan tujuan yang besar. Bahkan pada musibah pun ada pendidikan ilahi.

Pada sakit, ada penghapusan dosa. Pada kehilangan, ada pengingatan untuk kembali. Pada kematian, ada rahasia pertemuan abadi.

Makhluk-makhluk Adalah Karya-Nya

Teks ini menegaskan bahwa segala yang ada selain Allah. Dari makhluk halus seperti jin dan malaikat, hingga makhluk nyata seperti manusia, hewan, tumbuhan, langit, bumi.

Hingga elemen metafisik seperti jauhar (zat dasar) dan ‘arad (sifat-sifat) — semuanya adalah makhluk yang Allah ciptakan dari tidak ada menjadi ada.

“اخترعه بقدرته بعد العدم اختراعًا”
“Allah menciptakan mereka dengan kekuasaan-Nya dari ketiadaan secara kreatif.”

Ungkapan ini mengajak kita merenungi kemahaciptaan Allah. Dia tidak menciptakan dari bahan yang sudah ada, seperti manusia yang membuat bangunan dari pasir, kayu, dan batu.

Allah menciptakan dari ketiadaan total, tanpa contoh, tanpa bantuan, dan tanpa keletihan. Dia hanya berkata:
“كن فيكون” — “Jadilah!” maka jadilah ia.

Sebuah keagungan yang menundukkan hati orang beriman, dan mengguncangkan ego mereka yang mengaku tahu segalanya.

Refleksi Iman dan Kehambaan

Jika semua yang selain Allah adalah makhluk, maka manusia juga bukan pemilik sejati atas apa pun yang ia miliki. Bukan atas tubuhnya, hartanya, waktunya, bahkan jiwanya.

Kesadaran ini seharusnya menjadikan kita hamba yang rendah hati dan bersyukur. Setiap nikmat adalah pemberian, bukan hasil murni dari jerih payah kita. Setiap keberhasilan adalah karunia, bukan semata buah strategi. Dan setiap cobaan pun, adalah ujian cinta dari Sang Maha Bijaksana.

Kita juga diajak untuk tidak sombong terhadap makhluk lain, karena semua berasal dari satu sumber: ciptaan Allah. Tidak layak bagi makhluk merendahkan makhluk lain, karena semuanya berjalan atas kehendak dan takdir yang telah ditetapkan dengan keadilan dan hikmah yang agung.

Tawakal dan Husnuzhan kepada Allah

Dari pemahaman ini, lahirlah rasa tawakal dan husnuzhan (berprasangka baik) kepada Allah. Bila hidup terasa berat, yakinlah bahwa Allah Maha Adil dan Maha Tahu. Jika takdir menyimpang dari keinginan kita, yakinlah bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik, baik untuk dunia maupun akhirat kita.

Tak ada kejadian yang sia-sia. Tak ada ciptaan yang sia-sia. Tak ada perbuatan Allah yang salah.

Semua berjalan dalam kebijaksanaan-Nya, keadilan-Nya, dan kasih sayang-Nya yang tak terbatas.

اللَّهُمَّ فَهِّمْنَا عَنْكَ، وَعَلِّمْنَا مِنْ لَدُنْكَ، وَارْزُقْنَا تَسْلِيمًا لِحُكْمِكَ، وَرِضًى بِقَضَائِكَ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ حَتَّى نَلْقَاكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَوَكِّلِينَ وَالْمُتَفَوِّضِينَ.

Artinya:

Ya Allah, pahamkanlah kami tentang-Mu, ajarkanlah kepada kami ilmu dari sisi-Mu, karuniakanlah kepada kami penerimaan atas hukum-Mu, dan keridhaan terhadap takdir-Mu.

Teguhkanlah kami di atas keimanan hingga kami berjumpa dengan-Mu, dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertawakal dan menyerahkan diri secara total kepada-Mu.

Oleh: Ki Pekathik