Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 28

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8
Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 28

لو اجتمع الانس والجن والملائكة والشياطين على أن يحركوا في العالم ذرة أو يسكنوها لعجزوا عنه
وأن إرادته قائمة بذاته في جملة صفاته لم ينزل كذلك موصوفاً بها في أذنه سبقت إرادته وجود الأشياء في أوقاتها التي

قدرها ووقعت في أوقاتها كما أرادها أن تقع في غير تقدم أو تأخر ووقعت على وفق علمه وإرادته في غير تبدل ولا تغير وجرى الأمور بترتيب أفكار وفرض زمان فلذلك لم يشغله شأن عن شأن
السمع والبصر

وأنه سميع بصير يسمع ويرى لا يجز عن سمعه مسموع وإن خفي ولا يمتنع عن رؤيته مرئي وإن دق ولا يحجب سمعه شيء ولا يحجبه شيء يرى في غير حدقة وأجفان ويسمع في غير أصمخة وآذان كما يعلم بغير قلب ويبطش بغير جارحة ويتكلم بغير لسان إذ لا تشبه صفاته صفات الخلق كما لا تشبه ذاته ذات الخلق

(١) لقد سلك المؤلف في هذا على مذهب الخلف. واما السلف فقد اثبتوا هذه الاشياء لله تعالى خوفا من التعطيل وقالوا: هو منزه عن المثيل. اهـ محمد.

٢٨

Cara baca:

لَوِ اجْتَمَعَ الْإِنسُ وَالْجِنُّ وَالْمَلَائِكَةُ وَالشَّيَاطِينُ عَلَىٰ أَنْ يُحَرِّكُوا فِي الْعَالَمِ ذَرَّةً أَوْ يُسْكِنُوهَا لَعَجَزُوا عَنْهُ
Seandainya manusia, jin, malaikat, dan setan berkumpul untuk menggerakkan atau menghentikan satu zarrah (atom) di alam ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya.

وَأَنَّ إِرَادَتَهُ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ فِي جُمْلَةِ صِفَاتِهِ
Dan sungguh kehendak-Nya(Qooimatun) berdiri sendiri dalam Dzat-Nya, termasuk dalam keseluruhan sifat-sifat-Nya.

لَمْ يَنْزِلْ كَذٰلِكَ مَوْصُوفًا بِهَا فِي أُذْنِهِ
Ia (Allah) tidak turun ke makhluk sebagai (maushuufan) yang disifati dengan sifat-sifat itu di dalam bentuk inderawi (seperti telinga atau pendengaran secara jasadi).

سَبَقَتْ إِرَادَتُهُ وُجُودَ الْأَشْيَاءِ فِي أَوْقَاتِهَا الَّتِي قَدَّرَهَا
Kehendak-Nya telah mendahului keberadaan segala sesuatu pada waktu yang telah Dia tetapkan.

وَوَقَعَتْ فِي أَوْقَاتِهَا كَمَا أَرَادَهَا أَنْ تَقَعَ
Dan segala sesuatu itu terjadi tepat pada waktunya sebagaimana Dia kehendaki untuk terjadi.

فِي غَيْرِ تَقَدُّمٍ وَلَا تَأَخُّرٍ
Tanpa lebih cepat ataupun lebih lambat (dari waktunya yang telah ditentukan).

وَوَقَعَتْ عَلَىٰ وَفْقِ عِلْمِهِ وَإِرَادَتِهِ فِي غَيْرِ تَبَدُّلٍ وَلَا تَغَيُّرٍ
Dan semuanya terjadi sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya, tanpa adanya perubahan ataupun penggantian.

وَجَرَى الْأُمُورُ بِتَرْتِيبِ أَفْكَارٍ وَفَرْضِ زَمَانٍ
Segala urusan mengalir menurut tatanan pemikiran dan ketetapan waktu (yang telah ditentukan oleh-Nya).

فَلِذٰلِكَ لَمْ يَشْغَلْهُ شَأْنٌ عَنْ شَأْنٍ
Maka dari itu, tidak ada satu urusan pun yang dapat menyibukkan-Nya dari urusan yang lain.

Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 27

Penjelasan 

Teks ini merupakan bagian dari khazanah kalam atau tasawuf falsafi yang mendalam, mencerminkan konsep tauhid af’ali (mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya). Kita akan mengurai nilai-nilai utamanya sebagai berikut:

1. Kemahakuasaan Mutlak Allah

Ini adalah penegasan seluruh kekuatan makhluk, baik dari manusia, jin, malaikat, hingga setan sekalipun. Tidak memiliki kemampuan untuk mengubah atau menghentikan satu partikel pun di alam semesta tanpa izin Allah.

Ini adalah pengingat akan ‘La haula wa la quwwata illa billah’ — tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah. Ayat ini mencerminkan makna dari QS. Al-Furqan:2:

“…الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ…”

Bahwa tidak ada sekutu dalam pengaturan ciptaan-Nya.

2. Kehendak-Nya Berdiri Sendiri

Kalimat bahwa “إرادته قائمة بذاته” (kehendak-Nya berdiri pada Dzat-Nya) mengandung paham tauhid sifat. Bahwa semua sifat Allah tidak tergantung pada sesuatu pun, dan tidak menyerupai makhluk. Dalam konteks ini, kehendak Allah bukan hasil proses berpikir atau sebab akibat.

Melainkan hakikat ilahiyah yang qadim dan mutlak. Hal ini senada dengan prinsip dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa Allah tidak membutuhkan sesuatu di luar Dzat-Nya untuk berkehendak.

3. Penolakan Antropomorfisme

Frasa “لم ينزل كذلك موصوفا بها في أذنه” secara simbolik menyatakan bahwa Allah tidak bisa dijelmakan dalam bentuk inderawi. Kalimat ini menolak pemahaman yang menyerupakan Allah dengan makhluk (tasybih). Ia memperkuat prinsip tanzih — menyucikan Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk.

4. Kejadian Tertakar dalam Waktu dan Kehendak

Bagian tengah teks menunjukkan bahwa segala kejadian di alam ini sudah disebut dan ditetapkan dalam ilmu Allah. Ia tidak datang lebih awal atau terlambat.

Ini mencerminkan pemahaman tentang taqdir muḥkam — takdir yang tidak bisa diubah. Bahwa takdir berjalan sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya tanpa berubah atau salah arah.

Prinsip ini mengajarkan kepada manusia untuk tidak terjebak dalam ilusi bahwa manusia sepenuhnya mengatur kehidupan, melainkan menjadi hamba yang berserah, berusaha dalam kerangka kehendak Allah.

5. Tidak Ada yang Melalaikan-Nya

Akhir kalimat menutup dengan hikmah: “فَلِذٰلِكَ لَمْ يَشْغَلْهُ شَأْنٌ عَنْ شَأْنٍ” — Allah tidak sibuk oleh satu urusan lalu lalai dari urusan lainnya. Ini adalah bentuk dari kemahaluasan kesempurnaan Allah.

Dalam bahasa modern, ini menggambarkan Allah yang melampaui dimensi waktu, sebab-akibat, dan perhatian linear seperti manusia. Segala sesuatu ada dalam genggaman-Nya secara bersamaan.

Teks di atas tidak sekadar mengajarkan aspek teologis, tapi menghadirkan pelita batin bagi siapa pun yang sedang dilanda gelisah atau kehilangan arah.

Dalam dunia yang penuh ketidakpastian dan upaya kontrol, teks ini menanamkan satu keyakinan kokoh: segala sesuatu sudah ditentukan dan diatur oleh Zat Yang Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak dengan kesempurnaan mutlak.

Inspirasi utama dari teks ini adalah ketenangan dalam kepasrahan. Bahwa ketika sadar segala yang terjadi sesuai dengan ilmu dan kehendak Allah, maka kegelisahan akan sirna. Kita aktif dalam kerangka kehendak-Nya, meyakini bahwa usaha adalah bagian dari skenario-Nya yang besar.

Imam Al-Ghazali pernah berkata:

“Keridhaan kepada Allah adalah puncak semua maqam spiritual. Siapa yang ridha pada keputusan-Nya, dialah yang benar-benar mengenal-Nya.”

Ini mengajak merenung bahwa tugas manusia bukan menggugat takdir, tapi memahami, bersabar, dan berjalan penuh yakin bahwa semua sudah tertakar dan tidak akan meleset. Maka berbahagialah orang yang percaya bahwa setiap detik hidupnya, Allah tidak sedang lalai.

ٱلسَّمْعُ وَٱلْبَصَرُ
As-sam‘u wal-baṣar
Pendengaran dan penglihatan.

وَأَنَّهُ سَمِيعٌ بَصِيرٌ يَسْمَعُ وَيَرَى
Wa annahu Samī‘un Baṣīrun yasma‘u wa yarā
Dan sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat, mendengar dan melihat.

لَا يَجِزُ عَنْ سَمْعِهِ مَسْمُوعٌ وَإِنْ خَفِيَ
Lā yajizu ‘an sam‘ihi masmū‘un wa in khafiya
Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari pendengaran-Nya, walaupun samar.

وَلَا يَمْتَنِعُ عَنْ رُؤْيَتِهِ مَرْئِيٌّ وَإِنْ دَقَّ
Walā yamtani‘u ‘an ru’yatihi mar’iyyun wa in daqqa
Dan tidak ada sesuatu yang luput dari penglihatan-Nya, meskipun sangat halus.

وَلَا يُحْجَبُ سَمْعُهُ شَيْءٌ
Walā yuḥjabu sam‘uhu shay’un
Tidak ada yang bisa menghalangi pendengaran-Nya.

وَلَا يَحْجُبُهُ شَيْءٌ
Walā yaḥjubuhu shay’un
Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi-Nya.

يَرَى فِي غَيْرِ حَدَقَةٍ وَأَجْفَانٍ
Yarā fī ghayri ḥadaqatin wa ajfān
Dia melihat tanpa bola mata dan kelopak.

وَيَسْمَعُ فِي غَيْرِ أَصْمِخَةٍ وَآذَانٍ
Wa yasma‘u fī ghayri aṣmikhah wa ādhān
Dan Dia mendengar tanpa liang telinga dan daun telinga.

كَمَا يَعْلَمُ بِغَيْرِ قَلْبٍ
Kamā ya‘lamu bighayri qalb
Sebagaimana Dia mengetahui tanpa hati.

وَيَبْطِشُ بِغَيْرِ جَارِحَةٍ
Wa yabṭishu bighayri jāriḥah
Dan Dia menggenggam tanpa anggota tubuh.

وَيَتَكَلَّمُ بِغَيْرِ لِسَانٍ
Wa yatakallamu bighayri lisān
Dan Dia berbicara tanpa lisan.

إِذْ لَا تُشْبِهُ صِفَاتُهُ صِفَاتِ الْخَلْقِ
Idz lā tushbihu ṣifātuhu ṣifāt al-khalq
Karena sifat-sifat-Nya tidak menyerupai sifat makhluk.

كَمَا لَا تُشْبِهُ ذَاتُهُ ذَاتَ الْخَلْقِ
Kamā lā tushbihu dzātuhu dzāta al-khalq
Sebagaimana Dzat-Nya tidak menyerupai dzat makhluk.

Penjelasan:

Teks di atas menjelaskan secara ringkas dan padat tentang dua sifat penting Allah dalam akidah Islam, yaitu as-Sam‘ (pendengaran) dan al-Baṣar (penglihatan), yang termasuk dalam sifat Ma‘nawiyyah.

Allah disebut السَّمِيعُ البَصِيرُ karena Dia Maha Mendengar segala sesuatu dan Maha Melihat segala sesuatu, tidak dibatasi ruang, waktu, jarak, atau media. Berbeda dari manusia yang perlu organ untuk mendengar dan melihat.

Allah mendengar dan melihat tanpa anggota tubuh, tanpa alat, dan tanpa batasan fisik. Kalimat seperti: “yasmā‘u fī ghayri aṣmikhah wa ādhān” dan “yarā fī ghayri ḥadaqatin wa ajfān” menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan indera seperti kita untuk melakukan fungsi-fungsi tersebut.

Ayat-ayat Al-Qur’an seperti:
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ﴾ (QS. Asy-Syūra: 11)
mewakili prinsip agung bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk, tetapi tetap memiliki sifat-sifat kesempurnaan.

Ini adalah pendekatan Salafus Shalih, yaitu para ulama generasi awal umat Islam. Mereka menerima sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, tanpa men-takyif (menanyakan bagaimana), tanpa tasybih (menyerupakan), tanpa ta’wil (menyelewengkan makna), dan tanpa ta’ṭil (menolak makna). Prinsip mereka: “Amirruha kama jā’at” (Biarkan teks berjalan sebagaimana adanya).

Kalimat penutup dalam kutipan menyebut:
“لقد سلك المؤلف في هذا على مذهب السلف… وقالوا هو منزّه عن التشبيه”
Artinya: “Sungguh penulis mengikuti jalan salaf dalam hal ini… dan mereka berkata: Dia (Allah) Maha Suci dari penyerupaan.”

Ini mengafirmasi bahwa keyakinan terhadap sifat-sifat Allah seperti mendengar dan melihat harus dijaga dari pemahaman antropomorfis (menyerupakan Allah dengan manusia), karena Dzat-Nya bersifat mutlak dan tak terjangkau akal manusia.

Kesimpulan

Pemahaman tentang sifat as-Sam‘ dan al-Baṣar Allah mengajarkan kepada kita tentang kehadiran-Nya yang sempurna, pengawasan-Nya yang tidak pernah lengah, dan kedekatan-Nya yang tak berbatas.

Allah mendengar keluh kesah kita tanpa kita bersuara, melihat air mata kita tanpa kita menunjukkannya, dan mengetahui isi hati kita walau kita menyembunyikannya.

Kesadaran ini seharusnya menginspirasi kita untuk hidup lebih ikhlas, lebih jujur, lebih taat, dan lebih yakin bahwa kita tidak pernah sendiri. Dia mendengar setiap doa, melihat setiap perjuangan, dan mengetahui isi hati kita sepenuhnya.

Sebagaimana para salaf menjaga kesucian akidah dari segala penyimpangan, mari kita juga jaga hati dan amal agar sesuai dengan keyakinan ini: Tuhan kita Maha Mendengar, Maha Melihat, tanpa batas dan tanpa serupa — dan itulah kesempurnaan sejati.

“Wahai hati yang gelisah, tenanglah… karena Tuhanmu melihat dan mendengarmu, lebih dekat dari siapa pun yang kau pikirkan.”

Catatan kaki:

(١) لَقَدْ سَلَكَ الْمُؤَلِّفُ فِي هَذَا عَلَى مَذْهَبِ الْخَلَفِ. وَأَمَّا السَّلَفُ فَقَدْ أَثْبَتُوا هَذِهِ الْأَشْيَاءَ لِلَّهِ تَعَالَى خَوْفًا مِنَ التَّعْطِيلِ، وَقَالُوا: هُوَ مُنَزَّهٌ عَنِ الْمِثِيلِ. اهـ مُحَمَّدٌ.

Terjemahan:

لَقَدْ سَلَكَ الْمُؤَلِّفُ فِي هَذَا عَلَى مَذْهَبِ الْخَلَفِ.
Sungguh, penulis dalam hal ini mengikuti madzhab khalaf (ulama generasi belakangan).

وَأَمَّا السَّلَفُ فَقَدْ أَثْبَتُوا هَذِهِ الْأَشْيَاءَ لِلَّهِ تَعَالَى خَوْفًا مِنَ التَّعْطِيلِ،
Adapun ulama salaf (generasi awal), mereka menetapkan sifat-sifat ini bagi Allah Ta’ala karena takut terjerumus pada penolakan (ta’thil),

وَقَالُوا: هُوَ مُنَزَّهٌ عَنِ الْمِثِيلِ.
Dan mereka berkata: “Dia (Allah) Maha Suci dari yang menyerupai.”

اهـ مُحَمَّدٌ.
Selesai (kutipan) – Muhammad.

Teks ini adalah kutipan tentang dua pendekatan dalam memahami sifat-sifat Allah:

Madzhab Salaf (generasi awal, seperti Imam Malik, Ahmad bin Hanbal):
Mereka menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam nash (Al-Qur’an dan Hadis) tanpa takwil, tanpa menyelami “bagaimana”-nya (bila kaif), dan menyerahkan maknanya kepada Allah (tafwidh), sembari menegaskan bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya.

Madzhab Khalaf (ulama setelah abad ke-3 H, seperti al-Ghazali, an-Nasafi):
Mereka lebih menakwil (menafsirkan secara maknawi) demi menjaga akidah dari kesalahpahaman kaum awam atau dari tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk).

Kedua pendekatan ini bertujuan sama: menjaga keimanan kepada keagungan dan kesucian Allah ﷻ, agar tidak menolak nash (ta’thil), tetapi juga tidak menyamakan-Nya dengan makhluk (tasybih).

اللَّهُمَّ يَا سَمِيعُ يَا بَصِيرُ، ٱجْعَلْنَا مِمَّنْ يَخْشَاكَ كَأَنَّنَا نَرَاكَ، وَٱغْفِرْ لَنَا مَا لَا يُرْضِيكَ، وَٱهْدِ قُلُوبَنَا لِمَا يُرْضِيكَ، وَلَا تَكِلْنَا إِلَىٰ أَنفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ.

 Artinya:

“Ya Allah, Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, jadikanlah kami hamba yang takut kepada-Mu seakan-akan kami melihat-Mu.

Ampunilah segala sesuatu yang tidak Engkau ridai, tunjukilah hati kami kepada jalan yang Engkau ridhai, dan jangan Engkau biarkan kami bergantung pada diri kami sendiri walau sekejap mata. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Oleh: Ki Pekathik