
العلم
وأنه عالم بجميع المعلومات، محيط بما يجري من تخوم الأرض إلى أعلى السماوات، ولا يعزب عن علمه مثقال ذرة في الأرض ولا في السماء، يعلم دبيب النملة السوداء على الصخرة الصماء في الليلة الظلماء، يدرك حركة الذر في الهواء، يعلم السر وأخفى، ويطلع على هواجس الضمائر، وحركات الخواطر، وخفيات السرائر، بعلم قديم أزلي، لم يزل موصوفاً به في أزل الأزل، لا بعلم مجدد حاصل في ذاته بالحلول والانتقال.
الإرادة
وأنه مريد للكائنات، مدير للحادثات، فلا يجري في الملك والممالك قليل ولا كثير، صغير أو كبير، خير أو شر، نفع أو ضر، إيمان أو كفر، عرفان أو نكر، فوز أو خسر، زيادة أو نقصان، طاعة أو عصيان، كفر أو إيمان، إلا بقضائه وقدره، وحكمه ومشيئته، فما شاء كان، وما شاء لم يكن، لا يخرج عن مشيئته لفتة ناظر، ولا فلته خاطر، بل هو المبدئ المعيد، والفعال لما يريد، لا راد لحكمه، ولا معقب لقضائه، ولا مهرب لعبد عن معصيته إلا بتوفيقه ورحمته، ولا قوة له على طاعته إلا بمحبته وإرادته، من
صفحة: ٢٧
Cara baca:
العِلْمُ
“Ilmu.” Kata ini berdiri sendiri, ringkas namun mendalam. Dalam konteks ini, maksudnya adalah ilmu Allah, yang bersifat mutlak, sempurna, dan tidak terbatas.
وَأَنَّهُ عَالِمٌ بِجَمِيعِ الْمَعْلُومَاتِ،
“Dan bahwa Dia (Allah) Maha Mengetahui segala hal yang dapat diketahui,”
Ini menegaskan keyakinan bahwa Allah mengetahui semua informasi, baik yang sudah terjadi, sedang berlangsung, maupun yang akan datang. Tidak ada celah dalam ilmu-Nya.
Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 26
مُحِيطٌ بِمَا يَجْرِي مِنْ تُخُومِ الْأَرْضِ إِلَى أَعْلَى السَّمَاوَاتِ
“Meliputi segala sesuatu yang terjadi dari kedalaman bumi sampai ke puncak langit tertinggi,”
Allah tidak hanya mengetahui, tetapi mengelilingi dan meliputi segala yang terjadi dari dasar bumi sampai langit tertinggi. Ini menggambarkan keluasan dan kelengkapan ilmu-Nya yang melampaui batas ruang.
وَلَا يَعْزُبُ عَنْ عِلْمِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ،
“Tidak tersembunyi dari ilmu-Nya seberat biji zarrah pun di bumi dan tidak pula di langit,”
Bahkan biji zarrah (ukuran paling kecil menurut konsep zaman dahulu) tidak tersembunyi dari ilmu-Nya. Ini menunjukkan ketelitian dan kesempurnaan pengawasan Allah.
يَعْلَمُ دَبِيبَ النَّمْلَةِ السَّوْدَاءِ عَلَى الصَّخْرَةِ الصَّمَّاءِ فِي اللَّيْلَةِ الظَّلْمَاءِ،
“Dia mengetahui langkah semut hitam di atas batu yang keras dalam malam yang gelap gulita,”
Ilustrasi semut hitam di atas batu dalam malam gelap adalah simbol betapa Allah mengetahui segala yang paling tersembunyi, bahkan sesuatu yang tidak akan terlihat oleh manusia biasa.
يُدْرِكُ حَرَكَةَ الذَّرِّ فِي الْهَوَاءِ،
“Dia menyadari gerakan partikel debu di udara,”
Debu halus yang nyaris tidak terlihat, dan melayang tanpa arah pasti di udara pun ditangkap oleh ilmu Allah. Ini menguatkan makna pengamatan total dan cermat dari Sang Pencipta.
يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى،
“Dia mengetahui yang rahasia dan yang lebih tersembunyi lagi,”
“Yang rahasia dan yang lebih tersembunyi” mencakup dua level:
السر: sesuatu yang disimpan dalam dada,
أخفى: bahkan yang belum sempat disadari oleh pemilik hati itu sendiri.
وَيَطَّلِعُ عَلَى هَوَاجِسِ الضَّمَائِرِ، وَحَرَكَاتِ الْخَوَاطِرِ، وَخَفِيَّاتِ السَّرَائِرِ،
“Dia mengetahui bisikan-bisikan hati, gerak pikiran, dan rahasia-rahasia terdalam,”
Allah mengetahui gerakan psikologis dan spiritual manusia:
هواجس الضمائر: lintasan batin terdalam,
حركات الخواطر: ide-ide yang melintas dalam pikiran,
خفيات السرائر: rahasia tersembunyi dari rahasia batin itu sendiri.
بِعِلْمٍ قَدِيمٍ أَزَلِيٍّ، لَمْ يَزَلْ مَوْصُوفًا بِهِ فِي أَزَلِ الْأَزَلِ،
“Dengan ilmu yang qadim (dahulu tanpa awal) dan azali, yang Dia senantiasa disifati dengannya sejak kekekalan yang paling awal,”
Ilmu Allah bukan sesuatu yang baru atau ditambahkan kemudian. Ia bersifat qadim (dahulu) dan azali (sejak kekekalan tanpa permulaan). Hal ini menegaskan bahwa ilmu adalah sifat dzatiyyah (melekat pada zat-Nya) dan bukan sesuatu yang terpisah atau didapat dari luar.
لَا بِعِلْمٍ مُجَدَّدٍ حَاصِلٍ فِي ذَاتِهِ بِالْحُلُولِ وَالِانْتِقَالِ.
“Bukan dengan ilmu yang baru terjadi dalam Zat-Nya karena masuk atau berpindah (dari luar ke dalam diri-Nya).”
Allah tidak mendapatkan ilmu karena belajar atau karena sesuatu masuk dalam diri-Nya. Tidak ada proses, perubahan, atau transisi dalam sifat-Nya. Ini membedakan ilmu Allah dari ilmu makhluk, yang selalu terbatas dan bertahap.
Penjelasan:
Paragraf ini merupakan cuplikan dari pemaparan tauhid dan teologi Islam klasik, khususnya dalam ilmu kalam. Ia memuat pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, khususnya aliran Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, yang menekankan sifat-sifat Allah secara sempurna, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.
Nilai-nilai:
- Ketenteraman dalam Pengawasan Allah
Mengetahui bahwa Allah mengetahui segala hal, bahkan yang tidak sadari, sehingga merasa diawasi dan dilindungi. Tidak ada yang luput dari perhatian-Nya—baik amal, doa maupun air mata kita. - Tanggung jawab batin
Karena Allah mengetahui bisikan hati, agama adalah urusan lahiriah, dan batiniah. Kita dituntut untuk jujur, lurus, dan ikhlas, karena tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. - Ilmu sebagai cahaya kehidupan
Sifat “Al-‘Alīm” (Maha Mengetahui) adalah salah satu nama Allah yang mulia. Kita sebagai hamba didorong untuk mencintai ilmu, belajar terus-menerus, dan memuliakan ilmu sebagai jalan mendekat kepada-Nya. - Kepercayaan kepada takdir dan kebijaksanaan-Nya
Allah tahu apa yang terbaik, bahkan sebelum kita mengerti. Ini mengajarkan pasrah aktif—berikhtiar sebaik mungkin, dan menyerahkan hasilnya pada ilmu dan kebijaksanaan Allah.
Kutipan ini mengajak untuk menanamkan tauhid yang mendalam dalam hati, meyakini bahwa Allah bukan hanya Maha Tahu, tetapi juga Maha Halus dalam mengetahui. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu yang kasar dan halus dari luar hingga dalam, dari nyata hingga gaib, dari awal hingga akhir.
Keyakinan seperti ini melahirkan:
- kerendahan hati, karena sadar akan keterbatasan ilmu,
- keteguhan iman, karena tahu Allah tidak pernah lengah,
- keikhlasan amal, karena Allah tahu isi hati,
- keberanian hidup, karena yakin Allah menyertai setiap langkah.
Maka jadilah insan pencari ilmu dunia dan ilmu tentang Allah, yang membuka hati dan membersihkan jiwa. Sebab, semakin tahu betapa luas dan halusnya ilmu Allah, semakin terdorong untuk tunduk, takut, cinta, dan rindu kepada-Nya.
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“Dan di atas setiap orang yang berilmu, ada (lagi) yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)
الإرادة
Kehendak (Allah).
وَأَنَّهُ مُرِيدٌ لِلْكَائِنَاتِ، مُدَبِّرٌ لِلْحَادِثَاتِ،
Dan sesungguhnya Dia berkehendak atas segala yang ada, mengatur segala yang terjadi.
فَلَا يَجْرِي فِي الْمُلْكِ وَالْمَمَالِكِ قَلِيلٌ وَلَا كَثِيرٌ، صَغِيرٌ أَوْ كَبِيرٌ، خَيْرٌ أَوْ شَرٌّ، نَفْعٌ أَوْ ضَرٌّ،
Maka tidak terjadi di kerajaan-Nya, baik yang sedikit maupun banyak, kecil maupun besar, kebaikan ataupun keburukan, manfaat maupun mudarat,
إِيمَانٌ أَوْ كُفْرٌ، عِرْفَانٌ أَوْ نُكْرٌ، فَوْزٌ أَوْ خُسْرٌ، زِيَادَةٌ أَوْ نُقْصَانٌ، طَاعَةٌ أَوْ عِصْيَانٌ، كُفْرٌ أَوْ إِيمَانٌ،
Iman ataupun kekufuran, pengenalan atau pengingkaran, keberuntungan atau kerugian, penambahan atau pengurangan, ketaatan ataupun kemaksiatan, kekufuran atau keimanan,
إِلَّا بِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ، وَحُكْمِهِ وَمَشِيئَتِهِ،
kecuali dengan ketetapan dan takdir-Nya, hukum dan kehendak-Nya.
فَمَا شَاءَ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ،
Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki, tidak akan terjadi.
لَا يَخْرُجُ عَنْ مَشِيئَتِهِ لَفْتَةُ نَاظِرٍ، وَلَا فَلْتَةُ خَاطِرٍ،
Tidak ada yang keluar dari kehendak-Nya, meski hanya lirikan mata ataupun lintasan pikiran.
بَلْ هُوَ الْمُبْدِئُ الْمُعِيدُ، وَالْفَعَّالُ لِمَا يُرِيدُ،
Bahkan Dia-lah yang memulai dan mengembalikan, yang Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki.
لَا رَادَّ لِحُكْمِهِ، وَلَا مُعَقِّبَ لِقَضَائِهِ،
Tidak ada yang dapat menolak hukum-Nya, dan tak ada yang dapat mengubah ketetapan-Nya.
وَلَا مَهْرَبَ لِعَبْدٍ عَنْ مَعْصِيَتِهِ إِلَّا بِتَوْفِيقِهِ وَرَحْمَتِهِ،
Dan tidak ada jalan bagi seorang hamba untuk lari dari maksiat kecuali dengan taufik dan rahmat-Nya.
وَلَا قُوَّةَ لَهُ عَلَى طَاعَتِهِ إِلَّا بِمَحَبَّتِهِ وَإِرَادَتِهِ،
Dan tidak ada kekuatan bagi hamba dalam menaati-Nya kecuali karena cinta dan kehendak-Nya.
Penjelasan:
Bagian ini adalah penjelasan mendalam dari pokok ajaran tentang الإرادة (kehendak Ilahi) dalam teologi Islam, khususnya dalam kerangka Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
1. Allah Maha Berkehendak dan Maha Mengatur
Ungkapan وَأَنَّهُ مُرِيدٌ لِلْكَائِنَاتِ، مُدَبِّرٌ لِلْحَادِثَاتِ menunjukkan bahwa segala yang wujud di alam semesta ini ada dalam genggaman kehendak dan pengaturan Allah. Tidak ada satu peristiwa pun—baik lahirnya bayi, gugurnya daun, hingga perubahan cuaca—yang berada di luar kehendak-Nya.
Ini adalah keyakinan tentang Tawhid Rububiyyah—bahwa Allah satu-satunya Penguasa dan Pengatur seluruh makhluk.
2. Tidak Ada yang Terjadi Tanpa Izin-Nya
فَلَا يَجْرِي فِي الْمُلْكِ… إِلَّا بِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ، وَحُكْمِهِ وَمَشِيئَتِهِ
adalah penguatan bahwa segala sesuatu—baik atau buruk, iman atau kufur, sehat atau sakit—tidak akan pernah terjadi tanpa izin dan kehendak-Nya.
Bahkan keimanan manusia bukanlah hasil mutlak dari usahanya sendiri, melainkan karena taufik dari Allah. Sebaliknya, kekufuran juga tak lepas dari ketetapan-Nya sebagai ujian dan rahasia takdir.
3. Kebebasan dalam Bingkai Kehendak Ilahi
Sebagian orang mungkin bertanya: Jika semuanya adalah kehendak Allah, apakah manusia tidak punya pilihan?
Jawabannya adalah: manusia diberi ikhtiar (usaha dan kehendak terbatas), namun tetap dalam cakupan kehendak mutlak Allah. Seperti firman-Nya:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Dan kamu tidak menghendaki (sesuatu), kecuali jika Allah menghendaki itu juga.” (QS. Al-Insan: 30)
Ikhtiar manusia adalah tanggung jawab moralnya, tetapi hasilnya selalu dikembalikan pada izin dan kehendak Allah. Karena itu, seorang mukmin wajib berusaha dan berdoa, seraya menyandarkan hasilnya pada Allah.
4. Keburukan pun dalam Takdir-Nya, Bukan Tanda Ketidakadilan
Ketika disebut bahwa keburukan, kemaksiatan, bahkan kekufuran juga bagian dari kehendak-Nya, itu tidak berarti Allah menyukai semua itu. Allah menetapkannya sebagai bagian dari ujian hidup manusia dan sebagai sarana agar keadilan dan rahmat-Nya tampak nyata.
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui hikmah dari penciptaan itu.”
5. Rahmat dan Taufik adalah Sumber Selamatnya Hamba
Ungkapan:
لَا مَهْرَبَ لِعَبْدٍ عَنْ مَعْصِيَتِهِ إِلَّا بِتَوْفِيقِهِ وَرَحْمَتِهِ
adalah pangkal keikhlasan dalam hidup spiritual. Manusia tak bisa lari dari dosa kecuali dengan pertolongan Allah, dan tak bisa taat kecuali jika Allah mencintainya.
Maka seorang mukmin tidak boleh sombong karena amalnya, dan tidak boleh berputus asa karena dosa. Selalu ada jalan kembali selama rahmat Allah masih terbuka.
Kesimpulan:
Kehendak Allah adalah hakikat terdalam dari realitas hidup ini. Segala yang kita alami—baik suka maupun duka—berjalan sesuai rencana dan izin-Nya. Hal ini bukan untuk membuat kita pasrah buta, tetapi agar kita rendah hati, tidak sombong ketika sukses, dan tidak berputus asa saat gagal.
Keyakinan terhadap kehendak Allah akan melahirkan ketenangan batin, kesabaran dalam musibah, dan kesyukuran dalam nikmat. Ia membentuk manusia yang kuat dalam usaha, namun tetap tawakal dalam hati. Ia mendidik kita untuk tidak menggantungkan diri kepada dunia, tetapi menghubungkan hati sepenuhnya kepada Pemilik dunia.
“Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Dan apa yang tidak Dia kehendaki, tidak akan pernah terjadi.”
Maka mintalah kepada-Nya, berharaplah kepada-Nya, dan bergantunglah hanya kepada-Nya.
Jika seseorang menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya, maka ia akan menjalani hidup dengan penuh makna, sabar dalam ujian, giat dalam kebaikan, dan ikhlas dalam segala hal. Sebab, dalam genggaman kehendak-Nya lah terdapat ketenangan sejati.
اللَّهُمَّ إِنَّكَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ، تَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى، لَا يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنُورًا سَاطِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَنَفْسًا مُطْمَئِنَّةً بِقَضَائِكَ وَإِرَادَتِكَ.
اللَّهُمَّ إِنَّكَ تُرِيدُ كُلَّ شَيْءٍ بِحِكْمَةٍ، وَتَقْضِي كُلَّ أَمْرٍ بِرَحْمَةٍ، فَاجْعَلْنَا مِمَّنْ أَرَدْتَ لَهُمُ الْخَيْرَ، وَوَفَّقْتَهُمْ لِلطَّاعَةِ، وَجَنَّبْتَهُمُ الشَّقَاوَةَ وَالْمَعْصِيَةَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا نَرَى بِعِلْمِكَ، وَنَسْعَى بِإِرَادَتِكَ، وَنَخْضَعُ لِحُكْمِكَ، وَنَرْضَى بِقَضَائِكَ، فَإِنَّهُ لَا يُرِيدُ الْخَيْرَ إِلَّا أَنْتَ، وَلَا يَهْدِي إِلَى الصَّوَابِ إِلَّا أَنْتَ، فَأَنْعِمْ عَلَيْنَا بِالْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ، وَقَوِّنَا بِمَشِيئَتِكَ وَرَحْمَتِكَ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Artinya:
Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Teliti. Engkau mengetahui yang rahasia dan yang lebih tersembunyi. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Mu, baik di bumi maupun di langit. Kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, cahaya yang terang, hati yang tunduk, dan jiwa yang tenang terhadap ketetapan dan kehendak-Mu.
Ya Allah, Engkau menghendaki segala sesuatu dengan penuh hikmah, dan Engkau menetapkan setiap perkara dengan kasih sayang. Maka jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau kehendaki untuk mendapat kebaikan, yang Engkau beri taufik untuk taat, dan Engkau jauhkan dari kesengsaraan dan maksiat.
Ya Allah, jadikanlah kami memandang dengan ilmu-Mu, melangkah dengan kehendak-Mu, tunduk kepada hukum-Mu, dan ridha terhadap takdir-Mu. Sebab, tidak ada yang menghendaki kebaikan selain Engkau, dan tidak ada yang membimbing kepada kebenaran selain Engkau. Maka anugerahkanlah kepada kami ilmu dan hikmah, dan kuatkanlah kami dengan kehendak serta rahmat-Mu.
Aamiin, ya Rabbal ‘aalamiin.
Oleh: Ki Pekathik


