Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 23

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8
Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 23

فقد روی ابن ماجه عن ابن عمر رضي الله تعالى عنهما عن النبي ﷺ انه قال:

من طلب العلم ليباهي به العلماء، و يماري به السفهاء، او ليصرف وجوه الناس اليه: فهو في النار.

و في رواية: و ادخله الله جهنم.

و روی الترمذي و ابن ماجه عن ابن عمر رضي الله تعالى عنهما عن النبي ﷺ انه قال:

و من تعلم علما لغير الله، او اراد به غير الله، فليتبوأ مقعده من النار.

و روی ابن ماجه و ابن حبان في صحيحه، و البيهقي عن جابر قال: قال رسول الله ﷺ:

و لا تعلموا العلم لتباهوا به العلماء، و لا تماروا به السفهاء، و لا تخيروا به المجالس، فمن فعل ذلك فالنار النار.

اهـ من الترغيب و الترهيب للامام المنذري.

اقول: إمامنا و عالمنا الغزالي رحمه الله تعالى. فيلسوف كبير من

فلاسفة علم النفس. يعتبر في هذا الحقل الفسيح اكبر مرب.

و اعظم مرشد، و اخلص ناصح، و وقف على الداء. و وصف

الدواء و صنف خير علم، ثم حذر و انذر، و بين و وضح. كي لا

يغتر مغتر بعلمه، او بعمله. إذا لم يتحقق بالإخلاص لله تعالى

فيه: لانه سبحانه لا يقبل من العمل – مهما كان. إلا ما كان

خالصا و ابتغي به وجهه. و قد بسط هذا الموضوع في كتابه

الإحياء فارجع إن شئت إليه تجد ما يسرك. اهـ محمد.

٢٣

Cara baca:

فَقَدْ رَوَى ابْنُ مَاجَهْ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ: فَهُوَ فِي النَّارِ.

وَأَدْخَلَهُ اللهُ جَهَنَّمَ. وَفِي رِوَايَةٍ:

Maka telah meriwayatkan Ibnu Mājah dari Ibnu ‘Umar raḍiyallāhu ta‘ālā ‘anhumā dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

“Barang siapa mencari ilmu untuk menyombongkan diri kepada para ulama, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk menarik perhatian manusia kepadanya — maka ia berada di neraka.”

Dalam satu riwayat: “Maka Allah akan memasukkannya ke dalam Jahannam.”

وَرَوَى التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:

وَمَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللهِ، أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللهِ، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

Dan telah meriwayatkan at-Tirmiżī dan Ibnu Mājah dari Ibnu ‘Umar raḍiyallāhu ta‘ālā ‘anhumā dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 22

“Barang siapa mempelajari ilmu bukan karena Allah, atau menginginkan selain Allah dengannya, maka bersiaplah menempati tempatnya di neraka.”

وَرَوَى ابْنُ مَاجَهْ وَابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ، وَالْبَيْهَقِيُّ عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:

وَلَا تَتَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلَا تُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلَا تُخَيِّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ.

Dan telah meriwayatkan Ibnu Mājah, dan Ibnu Ḥibbān dalam Ṣaḥīḥ-nya, serta al-Bayhaqī dari Jābir, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk menyombongkan diri kepada para ulama, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk merebut kedudukan dalam majelis. Maka siapa yang melakukan hal itu — neraka, neraka tempatnya!”

ــ انتهى من الترغيب والترهيب للإمام المنذري ــ

Selesai kutipan dari kitab Targhīb wa Tarhīb karya Imam al-Mundzirī.

أقولُ إِمَامُنَا وَعَالِمُنَا الْغَزَالِيُّ ـ رحمه الله تعالى ـ فَيْلَسُوفٌ كَبِيرٌ مِنْ فَلَاسِفَةِ عِلْمِ النَّفْسِ، يُعْتَبَرُ فِي هَذَا الْحَقْلِ الْفَسِيحِ أَكْبَرَ مُرَبٍّ،: وَأَعْظَمَ مُرْشِدٍ، وَأَخْلَصَ نَاصِحٍ

Aku berkata: Imam dan guru kita, al-Ghazālī raḥimahullāh, adalah seorang filsuf besar dari kalangan pemikir ilmu jiwa. Beliau dianggap sebagai pendidik terbesar, pembimbing teragung, dan penasihat paling tulus dalam bidang yang luas ini.

. وَوَقَفَ عَلَى الدَّاءِ، وَوَصَفَ الدَّوَاءَ، وَصَنَّفَ خَيْرَ عِلْمٍ، ثُمَّ حَذَّرَ وَأَنْذَرَ، وَبَيَّنَ وَوَضَّحَ، كَيْ لَا يَغْتَرَّ مُغْتَرٌّ بِعِلْمِهِ، أَوْ بِعَمَلِهِ، إِذَا لَمْ يَتَحَقَّقْ بِالْإِخْلَاصِ لِلهِ تَعَالَى فِيهِ،

Ia mampu mengidentifikasi penyakit jiwa, merumuskan obatnya, menyusun ilmu terbaik, kemudian memperingatkan, menasihati, menjelaskan, dan menerangkan — agar tidak ada orang yang tertipu oleh ilmunya sendiri atau oleh amalnya sendiri, jika ia tidak benar-benar ikhlas karena Allah Ta‘ālā dalam semua itu.

 لِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ ـ مَهْمَا كَانَ ـ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ. وَقَدْ بَسَطَ هَذَا الْمَوْضُوعَ فِي كِتَابِهِ (الإِحْيَاءِ)، فَارْجِعْ إِنْ شِئْتَ إِلَيْهِ ، تَجِدْ مَا يَسُرُّكَ.

Sebab Allah tidak akan menerima amal apa pun — seagung apa pun bentuknya — kecuali yang ikhlas dan benar-benar ditujukan hanya kepada-Nya.

Dan beliau telah menguraikan hal ini secara luas dalam kitabnya Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn — maka silakan engkau merujuk kepadanya, niscaya engkau akan mendapatkan apa yang membahagiakanmu.

ــ انتهى كلامُ محمّدٍ ــ

Selesai ucapan Muhammad.

Penjelasan:

Di tengah kebesaran ilmu yang digali dan dipelajari oleh manusia sepanjang zaman. Rasulullah ﷺ mengingatkan ilmu sejatinya adalah cahaya yang menuntun hati menuju Allah. bukan alat kesombongan, debat dan tangga sosial untuk memanjat popularitas.

Bila tujuan belajar ilmu menyimpang dari keikhlasan, maka  bisa menyeret pemiliknya ke dalam api neraka.

“Barang siapa mencari ilmu untuk menyombongkan diri kepada para ulama, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk menarik perhatian manusia kepadanya — maka ia berada di neraka.”

(HR. Ibnu Mājah dari Ibnu ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhumā)

Hadis ini adalah cermin jiwa bagi penuntut ilmu yang selama ini merasa aman hanya karena sudah membaca kitab, menguasai dalil, atau dikenal sebagai da‘i dan ustaz. Padahal niat yang menggerakkan adalah agar dipuji sebagai “alim”, agar disebut “ustaz viral”, agar jamaah terpukau dan menyumbang.

Di sinilah bahaya ilmu yang tak disertai Ikhlas, Ia tampak mulia di mata manusia, tetapi hina di mata Allah. Karena tidak ada sedikit pun tempat di sisi-Nya bagi ilmu yang tidak ditujukan kepada-Nya.

Betapa mengerikan, Rasulullah ﷺ sampai bersabda:

“Barang siapa mempelajari ilmu bukan karena Allah, atau menginginkan selain Allah dengannya, maka bersiaplah menempati tempatnya di neraka.” (HR. at-Tirmiżī dan Ibnu Mājah)

Ketika seseorang mempelajari tafsir, hadits, fikih, bahkan tasawuf atau filsafat, tetapi tujuannya adalah dunia, maka ilmu itu bukan amal yang berpahala, melainkan perdagangan yang merugi. Ia membeli pengakuan, prestise, kedudukan dengan harga neraka.

Seorang da‘i mungkin pandai berkata-kata, tetapi bila lidahnya digunakan untuk mencari pengaruh atau kekuasaan, maka kata-katanya bisa menjadi rantai yang mengikatnya di Jahannam.

Seorang ustaz bisa berceramah tentang keikhlasan, tetapi jika hatinya berharap transferan dari sponsor atau konten viral dari potongan video khutbahnya, maka jangan-jangan yang ia cari bukan wajah Allah, tapi rating.

Bukankah Rasulullah ﷺ telah bersabda:

“Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk menyombongkan diri kepada para ulama, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk merebut kedudukan dalam majelis. Maka siapa yang melakukan hal itu — neraka, neraka tempatnya!” (HR. Ibnu Mājah, Ibnu Ḥibbān, dan al-Bayhaqī dari Jābir)

Seorang pemuda yang menghafal Al-Qur’an bukan karena cinta kepada Allah, menahan kantuk, melewatkan masa bermain, menahan lapar, semua demi sebuah nama dan gelar  bukan demi Allah.

Seorang ustaz yang duduk di panggung seminar, menyampaikan ayat demi ayat, hadits demi hadits, batinnya penuh harapan audiens memberinya pujian dan bingkisan. Ia berceramah tentang zuhud dan tawadhu, tetapi mobil mewah dan kartu nama sebagai “pakar spiritual” tak pernah lepas dari dirinya.

Tidakkah kita takut pada sabda Rasulullah ﷺ yang menyebut tiga orang pertama yang dilemparkan ke neraka, salah satunya adalah seorang alim yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, namun tujuannya bukan karena Allah?

Imam al-Ghazali: Menemukan Obat untuk Penyakit Ilmu

Imam Abu Hamid al-Ghazālī raḥimahullāh, menulis:

“Janganlah seseorang tertipu dengan amal dan ilmunya jika tidak benar-benar ikhlas karena Allah.”

Dalam kitabnya, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, beliau menyebutkan banyak penyakit hati para pencari ilmu, di antaranya:

cinta popularitas,

cinta pujian,

ingin tampil menonjol,

merasa lebih tinggi dari orang lain,

dan merasa pantas menjadi pemimpin umat hanya karena ilmunya.

Semua penyakit ini lebih berbahaya daripada zina atau mencuri, karena penyakit ini berakar di hati dan bertopeng kebaikan. Orang yang terjerat dalam perangkap ini tidak merasa berdosa, bahkan bangga dengan ilmunya, padahal ia sedang menabung murka Allah.

“Allah tidak menerima amal, seagung apa pun bentuknya, kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan hanya untuk wajah-Nya.” (al-Ghazali)

Cermin untuk Para Guru dan Santri

Betapa banyak pesantren, madrasah, sekolah, dan kampus Islam yang berdiri megah hari ini. Para santri dan mahasiswa berjubel menuntut ilmu, menekuni kitab, dan mengejar gelar. Namun pertanyaan terpenting yang jarang ditanyakan adalah:

“Untuk siapa semua ini?”

Apakah agar bisa berbicara di forum-forum besar? Apakah agar bisa mengoreksi ustaz lain? Apakah agar dikatakan “ustaz paling tajam hujjahnya”, “kiai paling viral”? Ataukah agar wajah-wajah manusia memandang kita, berdesak-desakan untuk sekadar menyentuh tangan kita, mencium kerudung kita?

Ketika ilmu hanya menjadi tiket menuju panggung, maka panggung itu akan berubah menjadi kuburan gelap di akhirat. Ketika ilmu menjadi alat untuk menjatuhkan ulama lain, maka kata-kata itu akan menjadi pedang yang menusuk balik ke dalam dada sendiri.

Tanda-Tanda Ilmu yang Ikhlas

Imam al-Ghazali dan para ulama lain menyebutkan tanda-tanda ilmu yang diberkahi dan ikhlas, di antaranya:

1. Semakin dalam ilmu, semakin besar rasa takut kepada Allah.

2. Semakin luas pengetahuan, semakin rendah hati.

3. Tidak senang dipuji, dan tidak sakit hati bila dilupakan.

4. Menjauh dari majelis yang hanya berisi debat kusir.

5. Malu menonjolkan diri, dan lebih senang bila orang lain mendapat cahaya.

6. Menolak jabatan bila merasa diri belum layak.

7. Menjaga lisan dan hati dari menghina ulama lain.

Ilmu yang ikhlas adalah ilmu yang melahirkan air mata, menundukkan dada dan  memunculkan akhlak yang halus.

Bukan Ilmu yang Salah, Tapi Niat

Ilmu itu suci yang mencemarinya adalah niat. Seorang pelajar yang menuntut ilmu dengan niat ikhlas, walau belum menguasai banyak, sudah lebih mulia di sisi Allah daripada seorang alim yang telah menghafal ratusan kitab tetapi hatinya penuh riya’.

Sebagaimana pohon, ilmu tumbuh dari benih niat, tumbuh dalam tanah hati, dan akan berbuah sesuai kualitas niat itu.

Penutup

Kita semua adalah penuntut ilmu meski tak bersorban, tak duduk di mimbar, tak mengajar di panggung. Dan semua dari kita butuh muhāsabah (introspeksi).

Jika suatu hari kita merasa lebih baik daripada orang lain hanya karena kita bisa berbahasa Arab, hafal hadits, atau tahu hukum-hukum fikih, maka saat itulah kita telah kehilangan cahaya ilmu.

Karena hakikat ilmu adalah merendah mengajak dan menyinari.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَطْلُبَ الْعِلْمَ لِغَيْرِ وَجْهِكَ، وَأَنْ أَقُولَ مَا لَا أَعْمَلُ، وَأَنْ أَفْتَنَ بِعِلْمِي أَوْ يُفْتَتَنَ بِي النَّاسُ، فَاجْعَلْنِي مِمَّنْ يَتَعَلَّمُ لِوَجْهِكَ، وَيُخْلِصُ لَكَ، وَيَخْشَاكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَاجْعَلْنِي نُورًا لِمَنْ حَوْلِي، لَا نَارًا عَلَى نَفْسِي.

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menuntut ilmu bukan karena wajah-Mu. Aku berlindung dari berkata tapi tidak mengamalkan, dari terfitnah oleh ilmuku atau menyesatkan manusia karenanya.

Maka jadikan aku termasuk orang yang menuntut ilmu karena-Mu, yang ikhlas kepada-Mu, yang takut kepada-Mu di saat sepi maupun ramai. Jadikan aku cahaya bagi sekitar, bukan api bagi diriku sendiri.

Oleh: Ki Pekathik