
ولسان الحال أفصح من لسان المقال، وطباع الناس إلى المساهمة في الأعمال أميل منها إلى المتابعة في الأقوال.
فما أفسد هذا المغرور بأعماله أكثر مما أصلحه بأقواله! إذ لا يستجريء الجاهل على الرغبة في الدنيا إلا باستجراء العلماء.
فقد صار علمه سبباً لجرأة عباد الله على معاصيه.
ونفسه الجاهلة مذلة مع ذلك تمنيه وترجيه، وتدعوه إلى أن يمنّ على الله بعلمه! وتخيل إليه نفسه أنه خير من كثير من عباد الله!
فكن أيها الطالب من الفريق الأول، واحذر أن تكون من الفريق الثاني!
فكم من مسوف عاجله الأجل قبل التوبة فخسر!
وإياك ثم إياك أن تكون من الفريق الثالث، فتهلك هلاكاً لا يرجى معه فلاحك، ولا ينتظر صلاحك!
الرشيد وقال: الله الله ارحم شيبتي فإني لا أصبر على القضاء
فأعفاه منه فأعاد ابن المبارك عليه عطاءه.
(1) وما أنبأ أذكر لك بعض ما ورد في هذا من أثر لتكون على دينك
من حذر:
٢٢
Cara bacanya:
وَلِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ، وَطِبَاعُ النَّاسِ إِلَى الْمُسَاهَمَةِ فِي الْأَعْمَالِ أَمْيَلُ مِنْهَا إِلَى الْمُتَابَعَةِ فِي الْأَقْوَالِ.
Dan bahasa perbuatan (keadaan) lebih fasih daripada bahasa ucapan. Dan tabiat manusia lebih cenderung untuk mengikuti tindakan daripada sekadar meniru perkataan.
فَمَا أَفْسَدَ هَذَا الْمَغْرُورَ بِأَعْمَالِهِ أَكْثَرُ مِمَّا أَصْلَحَهُ بِأَقْوَالِهِ! إِذْ لَا يَسْتَجْرِئُ الْجَاهِلُ عَلَى الرَّغْبَةِ فِي الدُّنْيَا إِلَّا بِاسْتِجْرَاءِ الْعُلَمَاءِ.
Maka betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh orang tertipu ini (ulama palsu) dengan perbuatannya, jauh lebih besar dari perbaikan yang ditawarkannya dengan kata-katanya! Karena tidak ada orang bodoh yang berani mengejar dunia kecuali setelah melihat keberanian para ulama melakukannya.
فَقَدْ صَارَ عِلْمُهُ سَبَبًا لِجُرْأَةِ عِبَادِ اللهِ عَلَى مَعَاصِيهِ.
Ilmunya pun telah menjadi sebab keberanian hamba-hamba Allah dalam bermaksiat kepada-Nya.
وَنَفْسُهُ الْجَاهِلَةُ، مَذَلَّةٌ، مَعَ ذَلِكَ، تُـمَنِّيهِ وَتُرَجِّيهِ، وَتَدْعُوهُ إِلَى أَنْ يَمُنَّ عَلَى اللهِ بِعِلْمِهِ! وَتُخَيِّلُ إِلَيْهِ نَفْسُهُ أَنَّهُ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ!
Sementara dirinya yang bodoh itu —dalam kehinaan jiwanya— tetap berangan-angan, berharap-harap, dan bahkan merasa telah berjasa kepada Allah dengan ilmunya! Ia dibisikkan oleh jiwanya bahwa ia lebih baik dari kebanyakan hamba Allah lainnya!
Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 21
فَكُنْ، أَيُّهَا الطَّالِبُ، مِنَ الْفَرِيقِ الْأَوَّلِ، وَاحْذَرْ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْفَرِيقِ الثَّانِي!
Maka wahai penuntut ilmu, jadilah engkau termasuk golongan yang pertama (yang jujur dalam ilmu dan amal), dan waspadalah agar jangan sampai engkau tergolong ke dalam kelompok yang kedua (yang berilmu namun tidak mengamalkan)!
فَكَمْ مِنْ مُسَوِّفٍ عَاجَلَهُ الْأَجَلُ قَبْلَ التَّوْبَةِ، فَخَسِرَ!
Karena betapa banyak orang yang menunda-nunda (taubat), lalu maut datang menjemputnya sebelum sempat kembali — maka ia pun merugi!
وَإِيَّاكَ، ثُمَّ إِيَّاكَ، أَنْ تَكُونَ مِنَ الْفَرِيقِ الثَّالِثِ، فَتَهْلِكَ هَلَاكًا لَا يُرْجَى مَعَهُ فَلَاحُكَ، وَلَا يُنْتَظَرُ صَلَاحُكَ!
Dan hati-hatilah, sungguh hati-hatilah, jangan sampai engkau termasuk kelompok ketiga (yaitu yang ilmunya menyesatkan dirinya dan orang lain), maka engkau akan binasa dengan kebinasaan yang tidak diharapkan kebaikan darinya, dan tak ada lagi harapan untuk perbaikan darimu!
وَقَالَ الرَّشِيدُ: اللهَ اللهَ، ارْحَمْ شَيْبَتِي، فَإِنِّي لَا أَصْبِرُ عَلَى الْقَضَاءِ.
Khalifah Harun ar-Rasyid pernah berkata: “Demi Allah, demi Allah, kasihanilah uban di kepalaku, karena aku tidak mampu memikul tanggung jawab kehakiman (menjadi hakim).”
فَأَعْفَاهُ مِنْهُ، فَأَعَادَ ابْنُ الْمُبَارَكِ عَلَيْهِ عَطَاءَهُ.
Maka beliau pun dibebaskan dari jabatan itu, dan setelah itu, Ibn al-Mubarak mengembalikan pemberiannya (yang sebelumnya ia hentikan).
(١) وَمَا أَنْبَأَ، أَذْكُرْ لَكَ بَعْضَ مَا وَرَدَ فِي هَذَا مِنْ أَثَرٍ، لِتَكُونَ عَلَى دِينِكَ مِنْ حَذَرٍ.
(1) Maka perhatikanlah, aku akan menyebutkan padamu beberapa atsar (riwayat salaf) mengenai hal ini, agar engkau menjalani agama dengan penuh kewaspadaan.
Penjelasan:
Bahasa Perbuatan Lebih Fasih dari Bahasa Lisan
Dalam dunia yang penuh suara, masing-masing berbicara tentang kebaikan, kebenaran, cinta dan surga. Namun sedikit yang menjadi makna hidup. Seperti di katakan oleh Ibn al-Mubarak:
وَلِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ
“Bahasa keadaan (perbuatan) lebih fasih daripada bahasa lisan (ucapan).”
Ucapan bisa dibentuk, dibungkus, dihias. Tapi perbuatan… ia adalah bayangan sejati dari isi hati. Seorang alim bisa mengucapkan kebenaran, tapi perbuatannyalah yang menunjukkan kejujuran ilmunya. Betapa banyak manusia yang mengucapkan hikmah, tapi hidup dalam kelicikan, karena ucapan mereka tidak pernah sampai menjadi amal.
Ilmu yang Menjadi Jerat
Ada dua jenis manusia yang membawa ilmu: mereka yang menjadikan ilmu sebagai cahaya, dan mereka yang menjadikannya sebagai tirai. Yang pertama adalah lilin yang terbakar untuk menerangi jalan orang lain; yang kedua adalah api yang membakar dirinya dan membutakan orang yang mendekat.
فَمَا أَفْسَدَ هَذَا الْمَغْرُورَ بِأَعْمَالِهِ أَكْثَرُ مِمَّا أَصْلَحَهُ بِأَقْوَالِهِ
“Maka betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh orang tertipu ini (ulama palsu) dengan perbuatannya, jauh lebih besar dari perbaikan yang di tawarkannya dengan kata-katanya!”
Ini tentang mereka yang tahu namun tidak tunduk, yang berbicara atas nama Allah tapi hidup untuk dunia. Mereka menyesatkan dirinya dan menjadi sebab keberanian orang awam untuk mendurhakai Tuhan.
إِذْ لَا يَسْتَجْرِئُ الْجَاهِلُ عَلَى الرَّغْبَةِ فِي الدُّنْيَا إِلَّا بِاسْتِجْرَاءِ الْعُلَمَاءِ.
“Karena tidak ada orang bodoh yang berani mengejar dunia kecuali setelah melihat keberanian para ulama melakukannya.”
Inilah racun zaman yang paling mematikan: ketika ilmu di jadikan kendaraan menuju popularitas, panggung, kehormatan, dan kekuasaan. Ilmu yang seharusnya menjadi perisai, berubah menjadi senjata. Lalu murid-murid pun meniru, menempuh jalan duniawi, berharap mulia karena mengenakan jubah ulama, padahal jiwanya compang-camping oleh cinta dunia.
Kebodohan yang Merasa Lebih Baik
وَنَفْسُهُ الْجَاهِلَةُ، مَذَلَّةٌ، مَعَ ذَلِكَ، تُـمَنِّيهِ وَتُرَجِّيهِ، وَتَدْعُوهُ إِلَى أَنْ يَمُنَّ عَلَى اللهِ بِعِلْمِهِ
“Sementara dirinya yang bodoh itu —dalam kehinaan jiwanya— tetap berangan-angan, berharap-harap, dan bahkan merasa telah berjasa kepada Allah dengan ilmunya!”
Ini adalah keadaan yang paling menyesakkan: ketika hati merasa aman hanya karena punya ilmu. Ia mulai merasa lebih baik dari orang lain. Ia merasa jasanya kepada Allah besar. Padahal tidak ada satu pun dari kita yang bisa memberi manfaat kepada Allah. Kita yang bergantung kepada-Nya, bukan sebaliknya.
Ketika hati di liputi perasaan bangga terhadap amal, merasa berjasa dengan ilmu, maka telah tumbuh bibit kebinasaan. Syaitan tidak perlu menggoda banyak, karena ia telah tertipu oleh dirinya sendiri.
Tiga Golongan Penuntut Ilmu
Ibnu al-Mubarak menegaskan pembagian yang menyentuh hati para penuntut ilmu:
1. Fariq al-Awwal: Golongan pertama, yaitu orang-orang yang menuntut ilmu dengan ikhlas, beramal dengannya, dan menjadi cahaya bagi yang lain. Mereka itulah pewaris Nabi.
2. Fariq ats-Tsani: Golongan kedua, yaitu orang yang belajar namun tidak mengamalkan. Ia berbicara, namun tidak menjadi saksi kebenaran ucapannya. Ia mengajak, tapi tidak ikut berjalan.
3. Fariq ats-Tsalits: Golongan ketiga, yang paling berbahaya — mereka yang ilmunya justru menjadi jalan kesesatannya sendiri dan menjadi penyebab rusaknya umat. Mereka inilah penghuni kebinasaan yang tidak di harapkan perbaikannya.
فَكُنْ، أَيُّهَا الطَّالِبُ، مِنَ الْفَرِيقِ الْأَوَّلِ، وَاحْذَرْ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْفَرِيقِ الثَّانِي!
“Maka wahai penuntut ilmu, jadilah engkau termasuk golongan yang pertama (yang jujur dalam ilmu dan amal), dan waspadalah agar jangan sampai engkau tergolong ke dalam kelompok yang kedua!”
Renungkan… Betapa banyak yang menunda amal, menunggu waktu yang tepat untuk berubah, namun ajal datang mendahului. Ia telah menyusun rencana taubat, tapi ruhnya telah lebih dulu dipanggil.
فَكَمْ مِنْ مُسَوِّفٍ عَاجَلَهُ الْأَجَلُ قَبْلَ التَّوْبَةِ، فَخَسِرَ!
“Karena betapa banyak orang yang menunda-nunda (taubat), lalu maut datang menjemputnya sebelum sempat kembali — maka ia pun merugi!”
Maka jangan sampai menjadi bagian dari yang ketiga, karena…
فَتَهْلِكَ هَلَاكًا لَا يُرْجَى مَعَهُ فَلَاحُكَ، وَلَا يُنْتَظَرُ صَلَاحُكَ!
“… engkau akan binasa dengan kebinasaan yang tidak di harapkan kebaikan darinya, dan tak ada lagi harapan untuk perbaikan darimu!”
Tanggung Jawab Ilmu adalah Beban yang Berat
Kisah Harun ar-Rasyid menggugah hati. Sebagai khalifah, ia menangis ketika hendak di angkat sebagai hakim. Ia berkata:
اللَّهَ اللَّهَ، ارْحَمْ شَيْبَتِي، فَإِنِّي لَا أَصْبِرُ عَلَى الْقَضَاءِ
“Demi Allah, kasihanilah uban di kepalaku, karena aku tidak sanggup menanggung amanah kehakiman!”
Padahal ia adalah khalifah, seorang penguasa yang saleh. Tapi ia sadar, amanah ilmu dan posisi di tengah umat bukanlah kehormatan, melainkan beban yang berat. Yang hari ini kita berebut kursi dan mimbar, dulu para salaf malah menangis ketika di minta memikulnya.
Kita hidup di zaman di mana orang dengan mudah menjadi ustadz di media sosial. Menasihati orang lain adalah kesenangan, padahal seharusnya adalah tanggung jawab. Di zaman ini, semua orang bisa bicara tentang agama, tapi sedikit yang menangis karena takut kepada Allah.
Penutup: Jadilah yang Menyelamatkan, Bukan yang Menyesatkan
Renungan Ibn al-Mubarak ini adalah cermin untuk para penuntut ilmu, para guru, para ustadz, para da’i, para aktivis dakwah. Ia tidak berbicara pada orang awam — ia berbicara pada kita yang merasa lebih tahu, lebih mengerti, lebih sadar.
Karena di balik ilmu, selalu ada ujian: apakah kita ikhlas, ataukah hanya ingin di hormati? Apakah kita takut kepada Allah, ataukah sibuk mengumpulkan pengikut?
Semoga Allah meneguhkan kita dalam kelompok pertama: yang berbicara dengan amal, dan membungkam nafsu dengan keteladanan. Semoga kita di jauhkan dari kelompok kedua dan ketiga, yang menjadikan ilmu sebagai alat untuk membinasakan diri sendiri dan menyesatkan orang lain.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُ أَحْسَنَهُ، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا حُجَّةً لَنَا وَلَا تَجْعَلْهُ حُجَّةً عَلَيْنَا، وَارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَنَفْسًا مُطْمَئِنَّةً، وَرُزْقًا طَيِّبًا، وَخَاتِمَةً حَسَنَةً.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya. Jadikan ilmu kami sebagai hujjah (argumen) yang menyelamatkan kami, bukan yang mencelakakan kami. Karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, hati yang khusyuk, lisan yang jujur, jiwa yang tenang, rezeki yang baik, dan akhir kehidupan yang baik.”
آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Oleh: Ki Pekathik


