
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 19
تقسيم طلاب العلم
واعلم أن الناس في طلب العلم على ثلاثة أحوال:
١- رجل طلب العلم ليتخذه زاده إلى المعاد، ولم يقصد به إلا وجه الله، والدار الآخرة، فهذا من الفائزين.
٢- ورجل طلبه ليستعين به على حياته العاجلة، وينال به العز والجاه والمال، وهو عالم بذلك، مستشعر في قلبه ركاكة حاله، وخسة مقصده، فهذا من المخاطرين، فإن عاجله أجله قبل التوبة خيف عليه من سوء الخاتمة، وبقي أمره في خطر المشيئة، وإن وفق للتوبة قبل حلول الأجل، وأنضاف إلى العلم العمل، وتدارك ما فرط فيه من الخلل، التحق بالفائزين. فإن:
“التائب من الذنب كمن لا ذنب له.”(1)
اخرجه ابن ماجه والطبراني عن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه
Cara baca:
تقسيمُ طُلّابِ العِلمِ
Pembagian Penuntut Ilmu
واعْلَمْ أنَّ النّاسَ في طَلَبِ العِلمِ على ثَلاثَةِ أَحْوالٍ:
Ketahuilah bahwa manusia dalam menuntut ilmu terbagi menjadi tiga keadaan:
١- رَجُلٌ طَلَبَ العِلمَ لِيَتَّخِذَهُ زادًا إلى المَعادِ، وَلَمْ يَقْصِدْ بِهِ إِلّا وَجْهَ اللهِ، وَالدّارَ الآخِرَةَ، فَهٰذَا مِنَ الفائِزِينَ.
1. Orang yang menuntut ilmu sebagai bekal menuju akhirat, dan tidak menginginkan darinya kecuali wajah Allah dan negeri akhirat. Maka ia termasuk orang-orang yang sukses.
Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 17-18
٢- وَرَجُلٌ طَلَبَهُ لِيَسْتَعِينََ بِهِ على حَياتِهِ العاجِلَةِ، وَيَنالَ بِهِ العِزَّ وَالجَاهَ وَالمَالَ، وَهُوَ عالِمٌ بِذٰلِكَ، مُسْتَشْعِرٌ في قَلْبِهِ رَكاكَةَ حالِهِ، وَخِسَّةَ مَقْصِدِهِ، فَهٰذَا مِنَ المُخاطِرِينَ، فَإِنْ عاجَلَهُ أَجَلُهُ قَبْلَ التَّوْبَةِ خِيفَ عَلَيْهِ مِنْ سُوءِ الخاتِمَةِ، وَبَقِيَ أَمْرُهُ في خَطَرِ المَشِيئَةِ، وَإِنْ وُفِّقَ لِلتَّوْبَةِ قَبْلَ حُلُولِ الأَجَلِ، وَانْضَمَّ إلى العِلمِ العَمَلُ، وَتَدَارَكَ ما فَرَّطَ فيهِ مِنَ الخَلَلِ، الْتَحَقَ بِالفائِزِينَ. فَإِنَّ
2. Orang yang menuntut ilmu untuk kepentingan dunia, demi mendapatkan kemuliaan, kedudukan, dan harta. Ia menyadari hal tersebut dan merasakan dalam hatinya betapa rapuhnya keadaan dirinya dan hinanya tujuannya. Maka ia termasuk orang-orang yang berisiko.
Jika ajal menjemputnya sebelum sempat bertaubat, dikhawatirkan ia akan mengalami akhir hidup yang buruk, dan urusannya tergantung pada kehendak Allah.
Namun, jika diberi taufik untuk bertaubat sebelum ajal datang, lalu amalnya menyertai ilmunya dan ia memperbaiki kekurangan yang dulu dilakukan, maka ia pun akan termasuk golongan orang yang sukses.
” التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ.”
أَخْرَجَهُ ابْنُ ماجَهْ وَالطَّبَرانيُّ عَنْ عَبدِ اللهِ بنِ مَسْعودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
Karena sungguh:”Orang yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ath-Thabrani dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 20
٣- ورجل ثالث استحوذ عليه الشيطان، فاتخذ علمه ذريعة إلى التكاثر بالمال، والتفاخر بالجاه، والتعزز بكثرة
الأتياع، يدخل بعلمه كل مدخل، رجاه أن يقضي من الدنيا وطره (١)، وهو مع ذلك يضمر في نفسه أنه عند الله بمكان
لاتسامه بسمة العلماء، وترسمه بمرسومهم في الزي والمنطق، مع تكالبه على الدنيا ظاهرا وباطنا
فهذا من الهالكين، ومن الحمقى المغرورين! إذ الرجاء منقطع عن توبته لظنه أنه من المحسنين،
وهو غافل عن قوله تعالى : ﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَمَا لَا تَفْعَلُونَ ٤
وهو ممن قال فيهم رسول الله ﷺ”أنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال، فقيل ما هو يا رسول الله؟ فقال: علماء السوء ٢
وهذا لأن الدجال غايته الإضلال.
١) لي ماريه وحاجه.
٢) من سورة الكهف، آية ٢.
٣) لم اجده هكذا، بل بمعناه. انا من غير الدجال اخوف عليكم من الدجال، فقيل: وما ذلك؟ فقال: الأئمة المضلين. اخرجه الإمام احمد عن ابي ذر رضي الله تعالى عنه باسناد جيد.
Cara baca:
٣- وَرَجُلٌ ثالِثٌ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِ الشَّيْطانُ، فَاتَّخَذَ عِلْمَهُ ذَرِيعَةً إِلَى التَّكاثُرِ بِالمَالِ، وَالتَّفاخُرِ بِالجَاهِ، وَالتَّعَزُّزِ بِكَثْرَةِ الأَتْبَاعِ، يَدْخُلُ بِعِلْمِهِ كُلَّ مَدْخَلٍ، رَجَاهُ أَنْ يَقْضِيَ مِنَ الدُّنْيَا وَطَرَهُ، وَهُوَ مَعَ ذٰلِكَ يُضْمِرُ فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ عِنْدَ اللهِ بِمَكانٍ، لِاتِّسامِهِ بِسِمَةِ العُلَماءِ، وَتَرَسُّمِهِ بِمَرْسُومِهِمْ فِي الزِّيِّ وَالمَنْطِقِ، مَعَ تَكالُبِهِ عَلَى الدُّنْيَا ظاهِرًا وَباطِنًا.
3. Orang ketiga adalah orang yang telah di kuasai oleh setan. Ia menjadikan ilmu sebagai alat untuk memperbanyak harta, membanggakan diri dengan kedudukan, dan merasa bangga dengan banyaknya pengikut. Ia memasuki setiap kesempatan dengan ilmu itu, berharap agar bisa memuaskan nafsunya dari dunia.
Namun, ia menyimpan dalam hatinya keyakinan bahwa dirinya punya kedudukan di sisi Allah karena ia tampak seperti ulama—dari cara berpakaian dan berbicara. Padahal, ia rakus terhadap dunia, lahir dan batin.
فَهٰذَا مِنَ الهالِكِينَ، وَمِنَ الحَمْقَى المَغْرُورِينَ! إِذِ الرَّجاءُ مُنْقَطِعٌ عَنْ تَوْبَتِهِ لِظَنِّهِ أَنَّهُ مِنَ المُحْسِنِينَ، وَهُوَ غافِلٌ عَنْ قَوْلِهِ تَعالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ﴾.
Orang semacam ini termasuk golongan yang binasa, bahkan termasuk orang-orang dungu yang tertipu, karena harapan untuk taubat sudah hilang akibat ia merasa sebagai orang yang baik, dan lupa pada firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian lakukan?” (QS. As-Saff: 2-3)
وَهُوَ مِمَّنْ قالَ فِيهِمْ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَنا مِنْ غَيْرِ الدَّجَّالِ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ مِنَ الدَّجَّالِ»، فَقِيلَ: «ما هُوَ يا رَسُولَ اللهِ؟»، فَقالَ: «عُلَماءُ السُّوءِ.
وَذٰلِكَ لِأَنَّ الدَّجَّالَ غايَتُهُ الإِضْلالُ.
Ia juga termasuk dalam golongan yang di sebut oleh Rasulullah ﷺ:
“Aku lebih khawatir terhadap kalian bukan karena Dajjal, tapi karena selain Dajjal.”
Lalu ditanya, “Apa itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Ulama yang jahat.”
Karena sesungguhnya tujuan Dajjal hanyalah menyesatkan — sementara orang ini telah menyesatkan orang lain dengan topeng keilmuan.
Jalan Keselamatan Dan Kebinasaan bagi Penuntut Ilmu
Mari kita tanyakan pada diri sendri: “Untuk apa aku menuntut ilmu?” Pertanyaan ini sederhana, namun jawabannya menentukan keselamatan atau kebinasaan seorang penuntut ilmu.
Kitab Bidayatul Hidayah mengajarkan bahwa penuntut ilmu terbagi menjadi tiga golongan. Masing-masing mewakili kondisi batin yang berbeda: keikhlasan, kebimbangan, dan kesesatan.
Golongan Pertama: Penuntut Ilmu yang Ikhlas
Ia menuntut ilmu semata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ilmunya di jadikan bekal untuk menyongsong akhirat. Ia tak peduli pujian, tak tergoda kedudukan. Ia belajar agar bisa memahami firman Allah, mengikuti jejak Nabi ﷺ, dan memperbaiki amalnya.
Orang ini ibarat musafir yang berjalan dengan lentera iman. Ia tahu bahwa ilmu tanpa amal adalah fatamorgana. Maka ia belajar, mengamalkan, dan menyebarkan ilmu dengan kelembutan dan tawadhu’.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menuntut ilmu yang dengannya ia mengharap ridha Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan tujuan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Dawud, no. 3664)
Golongan ini adalah yang paling selamat. Di dunia, ia rendah hati meski ilmunya tinggi. Di akhirat, ia mendapatkan kemuliaan yang tak bisa di beli oleh dunia.
Golongan Kedua: Penuntut Ilmu yang Bimbang Tujuannya
Ia menuntut ilmu untuk mendapatkan kemuliaan dunia: jabatan, kekayaan, atau penghormatan. Namun ia menyadari bahwa tujuannya itu tidak ideal. Di dalam hati, ada kegelisahan. Ia tahu bahwa ilmu harusnya menjadikan dirinya hamba yang lebih baik, bukan lebih angkuh.
Jika ia sadar sebelum ajal menjemput, lalu ia bertaubat, mengubah niat, dan menyempurnakan ilmunya dengan amal, maka ia akan berpindah ke golongan yang selamat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.”
(HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه)
Golongan ini punya harapan, asal ia jujur terhadap dirinya sendiri. Ia hanya butuh keberanian untuk menyesal dan mengubah arah.
Golongan Ketiga: Penuntut Ilmu yang Tertipu
Ia menuntut ilmu agar bisa memamerkan kedudukan, membanggakan pengikut, dan memperluas kekuasaan. Ilmunya ia gunakan untuk menguasai, bukan untuk membimbing. Parahnya, ia percaya bahwa dirinya mulia karena tampilan luarnya menyerupai ulama—padahal hatinya penuh ambisi dunia.
Inilah golongan yang binasa. Ia telah tertipu oleh dirinya sendiri. Dan yang lebih mengerikan: ia tidak merasa bersalah. Dan Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku bukanlah Dajjal, melainkan para pemimpin dan ulama yang menyesatkan.” (HR. Ahmad, dari Abu Dzar رضي الله عنه)
Ilmu yang di gunakan untuk menyesatkan bukan hanya menjerumuskan orang lain, tapi juga diri sendiri ke dalam kehancuran. Bahaya golongan ini lebih besar daripada Dajjal, karena ia tampak alim, namun merusak dari dalam.
Nasehat hikmah:
Saudaraku, jangan biarkan ilmu menjadi beban yang berat, jangan biarkan ia menjadi alat kebanggaan, apalagi penyesatan. Ilmu adalah Cahaya dan cahaya hanya bermanfaat bagi hati yang bersih.
Sebelum kita membuka kitab, sebelum kita menghadiri majelis ilmu, mari kita luruskan niat. Jadikan ilmu sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjauh dari-Nya. Karena niat adalah fondasi amal. Bila niat salah, seluruh amal bisa kosong dari pahala.
Sufyan ats-Tsauri رحمه الله pernah berkata:
“Tidaklah aku memperbaiki sesuatu yang lebih berat daripada niatku. Karena niat itu selalu berubah-ubah.”
Maka pantau terus niatmu. Karena ilmu yang di berkahi adalah ilmu yang membuatmu semakin rendah hati, semakin takut kepada Allah, dan semakin bersemangat beramal.
Dalam dunia yang penuh pujian dan kompetisi, ilmu yang ikhlas adalah tameng yang paling kokoh. Semoga kita semua termasuk golongan pertama yang tidak hanya menuntut ilmu, tapi juga di tuntut oleh ilmu agar menjadi insan yang bertakwa.
Sepatah Doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَطْلُبُونَ الْعِلْمَ لِوَجْهِكَ، وَيَتَّخِذُونَهُ زَادًا إِلَى الدَّارِ الْآخِرَةِ.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menuntut ilmu karena wajah-Mu semata, dan menjadikannya sebagai bekal menuju negeri akhirat.
وَأَصْلِحْ نِيَاتِنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَحُبِّ الظُّهُورِ.
Perbaikilah niat kami, dan sucikanlah hati kami dari riya’, ingin di puji, dan cinta terhadap popularitas.
وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنِ اغْتَرُّوا بِعِلْمِهِمْ، وَخَدَعَهُمُ الشَّيْطَانُ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.
Jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang tertipu oleh ilmunya sendiri, yang di sesatkan oleh setan sehingga mereka tersesat dan menyesatkan.
وَوَفِّقْنَا لِلتَّوْبَةِ قَبْلَ حُلُولِ الْأَجَلِ، وَاجْمَعْ بَيْنَ عِلْمِنَا وَعَمَلِنَا،
Berikan kami taufik untuk bertaubat sebelum ajal menjemput, dan satukan antara ilmu kami dengan amal kami.
وَاجْعَلْنَا مِنَ الْفَائِزِينَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat, dengan rahmat-Mu, wahai Maha Penyayang di antara para penyayang.


