
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 15
وصول الى نهايتها الا بعد احكام بدايتها ولا عبور على باطنها الا بعد الوقوف على ظاهرها وما انا مشير عليك بداية الهداية لتجرب بها نفسك وتمتحن بها قلبك فان صادقت قلبك اليها مالا ونفسك بها مطاوعة ولها قابلة فنورك المطل الى النهايات والتغلغل في بحار العلوم
وان صادقت قلبك عند مواجهتها اياك بها مسؤولا وبالعمل بمقتضاها مطاولا فاعلم ان نفسك الحاملة الى طلب العلم هي النفس الامارة بالسوء وقد اضعفت طبيعة للشيطان اللعين ليذلك بحبل غروره ومستدرجك بمكيدته الى غمر والهلاك
١ عبر عليه اطلع وبابه نصر دخل ومعناه لا الاطلاع على باطنها
٢ هذا من باب الاغراء وهو اسم فعل امر بمعنى خذه ونورك الطرف بها وما هو مصوب على انه منصوب لا اسم الفعل في قوله ونورك الكتاب المحجم النحوي
٣ الغمر بوزن الحجر الكثير وقد فسره اعلاه وبابه نصر
Cara baca:
وُصُولٌ إِلَى نِهَايَتِهَا إِلَّا بَعْدَ إِحْكَامِ بَدَايَتِهَا، وَلَا عُبُورٌ عَلَى بَاطِنِهَا إِلَّا بَعْدَ الْوُقُوفِ عَلَى ظَاهِرِهَا، وَمَا أَنَا مُشِيرٌ عَلَيْكَ بِدَايَةِ الْهِدَايَةِ لِتُجَرِّبَ بِهَا نَفْسَكَ وَتُمْتَحِنَ بِهَا قَلْبَكَ، فَإِنْ صَادَقَتْ قَلْبَكَ إِلَيْهَا مَيْلًا، وَنَفْسَكَ بِهَا مُطَاوِعَةً، وَلَهَا قَابِلَةً، فَنُورُكَ الْمُطَّلِعُ إِلَى النِّهَايَاتِ وَالتَّغَلْغُلِ فِي بِحَارِ الْعُلُومِ.
Tidak akan sampai pada akhirnya kecuali setelah menguatkan permulaannya, dan tidak akan masuk ke dalam sisi batinnya kecuali setelah memahami sisi lahirnya. Maka aku tunjukkan kepadamu permulaan jalan hidayah untuk mengujimu dan menguji hatimu dengannya.
Jika hatimu benar-benar condong padanya, dan dirimu menurut kepadanya serta menerimanya, maka cahayamu akan tersingkap menuju akhir perjalanan dan menyelam ke samudera ilmu.
وَإِنْ صَادَقَتْ قَلْبَكَ عِنْدَ مُوَاجَهَتِهَا إِيَّاكَ بِهَا مَسْؤُولًا، وَبِالْعَمَلِ بِمُقْتَضَاهَا مُطَاوِلًا، فَاعْلَمْ أَنَّ نَفْسَكَ الْحَامِلَةَ إِلَى طَلَبِ الْعِلْمِ هِيَ النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ، وَقَدْ أَضْعَفَتْ طَبِيعَةً لِلشَّيْطَانِ اللَّعِينِ لِيَذِلَّكَ بِحَبْلِ غُرُورِهِ، وَيَسْتَدْرِجَكَ بِمَكِيدَتِهِ إِلَى غَمْرٍ وَالْهَلَاكِ.
Namun jika hatimu menghadapi nasihat ini dengan rasa keberatan dan tidak teguh dalam mengamalkannya, ketahuilah bahwa dirimu yang mendorong untuk menuntut ilmu adalah nafsu yang senantiasa mengajak pada keburukan.
Ia telah melemahkan fitrahmu bagi setan terkutuk, sehingga ia dapat menjeratmu dengan tali tipu dayanya dan menggiringmu dengan perangkapnya menuju jurang kebodohan dan kehancuran.
Baca Juga: Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 13-14
——————
١: عَبَرَ عَلَيْهِ: اطَّلَعَ، وَبَابُهُ نَصَرَ، دَخَلَ، وَمَعْنَاهُ لَا الْاطِّلَاعُ عَلَى بَاطِنِهَا.
٢: هَذَا مِنْ بَابِ الْإِغْرَاءِ، وَهُوَ اسْمُ فِعْلِ أَمْرٍ بِمَعْنَى خُذْهُ، وَنُورُكَ الطَّرَفُ بِهَا، وَمَا هُوَ مُصَوَّبٌ عَلَى أَنَّهُ مَنْصُوبٌ، لَا اسْمُ الْفِعْلِ فِي قَوْلِهِ: “وَنُورُكَ”، الْكِتَابُ، الْمُحْجَمُ النَّحْوِيُّ.
٣: الْغَمْرُ: بِوَزْنِ الْحَجَرِ، الْكَثِيرُ، وَقَدْ فَسَّرَهُ أَعْلَاهُ، وَبَابُهُ نَصَرَ.
Catatan Kaki:
1. “عَبَرَ” berarti memasuki atau memahami, tidak cukup hanya melihat sisi batin tanpa mengetahui sisi lahirnya.
berarti: “ia melintasi atau memahami sesuatu.”
Kata ini berasal dari akar kata yang dalam ilmu nahwu (tata bahasa Arab) termasuk dalam bab “نصر”, yang berarti masuk atau memahami.
Jadi maknanya di sini adalah: tidak cukup hanya mengetahui sisi batin sesuatu tanpa memahami sisi lahirnya terlebih dahulu
2. “هذا من باب الإغراء” adalah bentuk ajakan yang bermakna “ambillah” dan berkaitan dengan penjelasan gramatikal dalam frasa “ونورك”.
bermakna: “ini termasuk dalam gaya bahasa ajakan atau dorongan.”
Kalimat “ونورك” di artikan sebagai kata perintah (isim fi‘l amar) yang berarti “ambillah cahayamu” atau “gunakanlah penglihatanmu.”
Namun dalam analisis tata bahasa (nahwu), di jelaskan bahwa kata tersebut bukanlah kata kerja (fi‘l) tetapi kata benda yang menunjukkan objek yang di kenai perintah.
Ini penjelasan yang agak teknis dari kitab Al-Muḥjam An-Naḥwī, yang menguraikan struktur gramatikal kalimat
3. “الغمْر” berarti gelombang kebinasaan atau kebodohan yang banyak dan dalam.
“الغمْر” ditafsirkan sebagai: gelombang atau tumpukan besar—maknanya adalah sesuatu yang melimpah atau berlimpah-ruah.
Kata ini berbentuk seperti kata الحجر (batu) dalam bab wazan atau pola “نصر” artinya struktur kata yang serupa dalam konjugasi fi‘il.
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 16
ورصده ان يروج عليك الشر في معرض الخير حتى يلبس عليك قال الله تعالى واذا لقوا الذين امنوا قالوا امنا واذا خلوا الى شياطينهم قالوا انا معكم انما نحن مستهزئون
وعند ذلك يغر عليك الشيطان فضل العلم ودرجة العلماء وما ورد فيه من الاثار والاخبار فيلبثك عن قوله صلى الله عليه وسلم من ازداد علما ولم يزدده هدى لم يزدده من الله الا بعدا
وعن قوله صلى الله عليه وسلم اشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه
———–
والغمرة بوزن الجمرة الشدة والجمع غمر بفتح الميم، كنوية ونوب. مختار الصحاح.
(١) من سورة الكهف، آية ١٠٤/١٠٣.
(٢) أخرجه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس.
(٣) أخرجه الطبراني في الصغير، وابن عدي في الكامل، والبيهقي في شعب الإيمان، عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه.
Cara baca:
وَرَصَدَهُ أَنْ يُرَوِّجَ عَلَيْكَ الشَّرَّ فِي مَعْرِضِ الْخَيْرِ حَتَّى يُلَبِّسَ عَلَيْكَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا ۖ وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
(سورة البقرة: ١٤)
Dan (setan) mengintai untuk menyebarkan keburukan kepadamu dalam bentuk kebaikan, hingga ia membingungkanmu. Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: ‘Kami telah beriman.’ Tetapi apabila mereka menyendiri dengan setan-setan mereka, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami bersama kalian, kami hanya memperolok-olok (mereka).'”
(QS. Al-Baqarah: 14)
وَعِنْدَ ذَلِكَ يُغِرُّ عَلَيْكَ الشَّيْطَانُ فَضْلَ الْعِلْمِ وَدَرَجَةَ الْعُلَمَاءِ، وَمَا وَرَدَ فِيهِ مِنَ الْآثَارِ وَالْأَخْبَارِ، فَيُلَبِّثُكَ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«مَنْ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزِدْهُ هُدًى، لَمْ يَزِدْهُ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا»
Saat itulah setan membujukmu dengan keutamaan ilmu dan derajat para ulama, serta apa yang di sebut dalam atsar dan berita (hadis-hadis), sehingga ia menunda-nunda (menghalangi) dirimu dari sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa bertambah ilmunya namun tidak bertambah petunjuk (baginya), maka tidaklah ia bertambah dari Allah kecuali semakin jauh (dari-Nya).”
وَعَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللهُ بِعِلْمِهِ»
Dan dari sabda beliau ﷺ:
“Orang yang paling berat azabnya pada Hari Kiamat adalah seorang alim (berilmu) yang tidak di manfaatkan Allah dengan ilmunya.”
———
وَٱلْغَمْرَةُ بِوَزْنِ ٱلْجَمْرَةِ: ٱلشِّدَّةُ، وَٱلْجَمْعُ: غَمَرٌ، بِفَتْحِ ٱلْمِيمِ، كَنُوَيَةٍ وَنُوَبٍ. ــ مختار الصحاح
١) مِنْ سُورَةِ ٱلْكَهْفِ، آيَةٌ: ١٠٣–١٠٤.
٢) أَخْرَجَهُ أَبُو مَنْصُورٍ ٱلدَّيْلَمِيُّ فِي مُسْنَدِ ٱلْفِرْدَوْسِ.
٣) أَخْرَجَهُ ٱلطَّبَرَانِيُّ فِي ٱلصَّغِيرِ، وَٱبْنُ عَدِيٍّ فِي ٱلْكَامِلِ، وَٱلْبَيْهَقِيُّ فِي شُعَبِ ٱلْإِيمَانِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ عَنْهُ.
Artinya:
Dan “al-Ghamrah” (ٱلْغَمْرَةُ), dengan pola (wazan) seperti “al-Jamrah” (ٱلْجَمْرَةِ), artinya adalah: kesulitan atau kesempitan hebat (kesengsaraan); sedangkan bentuk jamaknya adalah “Ghamar” (غَمَرٌ), dengan huruf mīm berharakat fatḥah — sebagaimana pola kata “Nuwayah” (نُوَيَةٍ) dan “Nūb” (نُوَبٍ). — Mukhtār aṣ-Ṣiḥāḥ
1. Dari Surat Al-Kahfi, ayat 103–104:
“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya? (Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, padahal mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”
2. Diriwayatkan oleh Abu Manshur ad-Daylamī dalam kitab Musnad al-Firdaws.
3. Diriwayatkan oleh ath-Thabarānī dalam al-Mu‘jam ash-Shaghīr, Ibn ‘Adī dalam al-Kāmil, dan al-Bayhaqī dalam Syu‘ab al-Īmān, dari sahabat Abū Hurairah ra.
Ilmu bisa Menjadi Api jika Tidak Di iringi Hidayah
Menuntut ilmu tidak otomatis menjadikan seseorang dekat dengan Allah. Bahkan, ilmu bisa menjadi jalan menuju kebinasaan jika tidak di sertai niat yang ikhlas dan amal yang benar. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa bertambah ilmunya namun tidak bertambah petunjuk (baginya), maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh.”
Nasihat: Jangan terbuai dengan bertambahnya wawasan atau gelar keilmuan. Yang Allah nilai adalah hati yang tunduk, bukan hanya lidah yang tahu.
Setan Menyesatkan Melalui Pintu Kebaikan
Setan tidak selalu datang melalui maksiat yang jelas. Ia bisa menyamar lewat pujian terhadap ilmu, semangat menjadi “alim”, bahkan lewat amal yang di susupi riya dan kesombongan. Ia menipu pencari ilmu dengan mengagungkan derajat ulama, padahal diam-diam menjauhkan mereka dari amal dan keikhlasan.
Nasihat: Selalu jaga niat, karena niat bisa berubah sewaktu-waktu. Mintalah perlindungan dari tipu daya setan yang halus dan licik.
Peringatan Keras bagi Ulama yang Tidak Mengamalkan Ilmunya
Sabda Nabi ﷺ yang mengguncang:
“Orang yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang berilmu yang tidak mendapatkan manfaat dari ilmunya.”
Ilmu yang tidak di amalkan akan menjadi beban, bukan penolong. Semakin tahu, semakin besar pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Nasihat: Setelah belajar, jangan tunda untuk beramal. Ilmu bukan untuk di koleksi atau di pamerkan, melainkan untuk menyucikan jiwa dan memperbaiki umat.
Tanda Orang yang Tertipu Menjadikan Ilmu sebagai Jalan memperoleh Dunia
Setan bisa menipu manusia dengan memperindah dunia dalam balutan keilmuan. Ilmu lalu menjadi alat mencari pengaruh, menjual agama demi popularitas, atau menghalalkan ambisi pribadi dengan dalih maslahat.
Nasihat: Selalu ingat bahwa tujuan utama ilmu adalah hidayah (petunjuk), bukan sekadar informasi atau pengakuan. Ukur keberhasilan ilmu dengan kerendahan hati, takut kepada Allah, dan kebermanfaatan bagi orang lain.
Hati-hati dengan “Ghamrah” (Kesesakan dan Kesesatan)
Dalam teks di sebutkan kata الغمرة, yang bermakna kesulitan atau kesesakan yang menjerumuskan manusia dalam kabut kebingungan dan kelalaian. Orang-orang yang merasa dirinya berbuat baik padahal justru tersesat adalah mereka yang di sebut dalam Al-Qur’an:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا …
“Maukah kalian aku beritahu siapa orang yang paling merugi amalnya? Yakni mereka yang tersesat amalnya dalam kehidupan dunia, padahal mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103–104)
Nasihat: Jangan cepat merasa puas dengan amal. Teruslah muhasabah (introspeksi), karena orang yang mengira dirinya dalam petunjuk padahal tenggelam dalam ghurur (tipuan diri) adalah golongan yang celaka.
Ilmu adalah amanah agung yang bisa menjadi jalan ke surga, atau sebaliknya, jalan ke neraka, tergantung bagaimana niat dan amal seseorang.
Senantiasa bermohonlah kepada Allah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ بِخُشُوعٍ وَإِخْلَاصٍ، وَجَنِّبْنَا الْغُرُورَ وَالْفُجُورَ.
“Ya Allah, jadikanlah ilmu kami sebagai ilmu yang bermanfaat. Karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya dengan khusyuk dan ikhlas. Dan jauhkan kami dari kesombongan dan penyimpangan.”


