Jangan Marah!

“Fiiq… kacamata ibu dimana ya? Mau ke pasar nih…,” Tanyaku sambil mencari kacamataku yang entah aku taruh dimana tadi.

“Lha ibu tadi taruh mana?” tanya Syafiq sambil turun dari tempat tidur.

“Lhah… kalau ibu tahu ya nggak tanya kamu. Fiq… tolong dong bantu ibu cariin ya…” Pintaku.

Hampir lima menit aku mencari kacamataku, belum juga ketemu. Padaha aku butuh sekali kacamata itu, maklum kalau tidak memakai kacamata, pandanganku kurang jelas. Apalagi jarak ke pasar dari rumah lumayan jauh dan harus naik motor. Tanpa kacamata itu, entah bagaimana aku akan sampai di pasar dengan selamat.

“Zuhdi, Nadhif, liat kacamata ibu nggak?” tanyaku.

“Nggak Bu” jawab Zuhdi sambil masih asik dengan laptopnya.

Aku terduduk, menghela nafas, ‘Ya Allah… aku taruh mana tadi, kok lupa ya?’ Batinku.

Tiba-tiba… ada tangan yg mengulurkan kacamata tepat di depan mataku.

“Ini Buu, tuh di meja makan ketutupan tisu,” kata Syafiq sambil tersenyum.

“Alhamdulillah. Makasih ya le… padahal aku tadi sudah nyari disitu juga,” kataku.

“Ibu sih nyarinya nggak tenang, kalem, santai gitu lho bu. Jangan lupa berdoa,” ujar Syafiq.

“Iya Bu, makanya ibu tu harus sabar. Sabar kan nurut sama Allah.” ujar Achmad yang tiba-tiba muncul.

Aku terdiam. Betul kata anakku itu. Memang harus sabar dalam mencari sesuatu. Dan jangan pake emosi.

“Nggih pak, makasiih” jawabku tersenyum sambil mencubit lembut pipi Achmad.

“Ibuuu… kan ada hadis yang dihafalin dari Bu Guru, لَا تَغْضَبْ وَ لَكَ الْجَنَّةَ (laa taghdab wa lakal jannah) Artinya; Janganlah marah maka bagimu surga”. ujarnya sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya.

Aku tersenyum malu dan seperti tertampar.

“Ibu mau surga nggak?” tanya Achmad

“Iyalah ibu mau masuk surga, ibu takut kalau masuk neraka… hii… nggak kuat,” jawabku.

“Makanya ibu tu jangan marah-marah, Alloh nggak suka,” ceramah Achmad.

Aku hanya tersenyum. Semua kata-kataku berbalik ke diriku sendiri. Maluu aku.

“Terimakasih ya mas, ibu sudah diingatkan,” kataku sambil mengusap kepalanya.

“Besok-besok ibu nggak marah-marah lagi. Sekarang ibu ke pasar dulu ya.” Kataku sembari mengambil kunci motor.

Akhirnya meluncurlah aku kepasar melaksanakan tugas negara.

Kejadian seperti itu berulang kali terjadi. Sering setiap mau pergi bingung mencari kacamata. Padahal aku juga berusaha menaruh kacamata di tempat khusus, tetapi masih sering lupa juga. Dan untuk mencarinya sering aku harus menggunakan mata yang lain. Mata anakku. Akhirnya aku memutuskan untuk punya kacamata cadangan. Agar mudah mencari kacamata dengan kacamata.***

(Mae ya)

(