Beruntunglah bagi orang yang selalu membersihkan hatinya dari ragam penyakit hati. Yakni, ia yang senantiasa melakukan ketaatan dengan rajin dan sungguh-sungguh, memandang sedikit amal kebaikan yang dilakukan, menganggap banyak nikmat yang sedikit, banyak menangis saat sendiri dalam kesunyian, menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah, dan menyandarkan daya dan upaya upaya kepadanya. Kemudian bersabar terhadap hukum Allah ridha terhadap ketetapannya dalam segala hal serta tunduk kepada perintahNya.
Sebaliknya, bila orang sangat malas membersihkan hatinya dari ragam penyakit hati, ia akan selalu berprasangka baik terhadap dirinya. Ia ingin berada di tingkatan orang-orang yang berbuat baik, akan tetapi menjalani hidup yang berbeda dengan mereka. Ia berprasangka buruk terhadap orang lain dengan merendahkan mereka ke tingkatan orang-orang yang berbuat buruk, tetapi ia mengabaikan dirinya sendiri dan sibuk dengan aib orang lain.
Orang seperti itu sudah pasti kehilangan cahaya kelembutan, cinta, kasih sayang, dan digantikan dengan kegelapan sifat keras dan kejam. Ia senang melihat orang lain dengan pandangan meremehkan, mengucilkan, dan tanpa rasa kasih sayang. Namun, di sisi lain, ia ingin orang lain melihatnya dengan penuh hormat, wibawa, dan kasih sayang. Siapa saja yang memenuhi keinginannya, niscaya memperoleh keakraban dan cinta darinya, dan siapa yang tak memenuhi keinginannya, ia semakin menjauh dan membenci mereka, padahal sebenarnya ia sendiri bertambah jauh dari Allah.
Jika ia mau bersabar dalam mencapai petunjuk atau keinginan dengan melakukan istikharah memohon petunjuk Allah, dan menginginkan Allah semata dalam istikharahnya, tentulah Allah akan menunjukkan jalan yang terbaik baginya. Namun, jika ia tidak melakukannya, justru mengambil jalan yang berbeda dan karena itulah ia tersesat menuju selainNya.
Untuk membersihkan hati, kita memang dituntut untuk melakukan semua kebaikan, namun kita harus meninggalkan semua keburukan. Sebab, siapa meninggalkan keburukan, ia pasti berada di dalam kebaikan, tetapi tidak setiap pelaku kebaikan berada di dalam kebaikannya. Dengan demikian, karena pengetahuan kita tentang keburukan mencakup pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan sekaligus. Oleh karena itu, meninggalkan keburukan lebih utama dibanding memburu kebaikan.
( Nisa )










