Indahnya Hidayah

Processed with VSCO with preset

Waktu menunjukkan pukul 06:00 pagi, saatnya Siti pergi kepasar untuk belanja keperluan memasak disebuah pondok pesantren. Siti adalah anak rantau yang sudah lama belajar ilmu agama disebuah pondok pesantren di Jogjakarta. Saking lamanya dia tinggal dipondok pesantren, dia memutuskan untuk mengabdikan diri dipondok pesantren tersebut. Disana tidak hanya menerima santri perempuan saja namun juga menerima santri laki-laki. Siti tak hanya sebagai santri senior namun juga sebagai ustadzah yang mengajar para santri bahasa arab. Karena kegigihan Siti dan semangat menuntut ilmu agama, Siti mampu menguasai mata pelajaran bahasa arab. Tak hanya itu Siti pun mampu dengan mudah menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan baik. Siti pergi kepasar tidak sendiri, dia ditemani dengan salah satu santri senior yang pandai memasak dipesantren tersebut. Namanya Nisa, dia tak hanya pandai memasak namun juga cantik. Mereka pergi kepasar dengan berjalan kaki karena pasar tak jauh dari pondok mereka. Dalam perjalanan mereka berbincang-bincang tentang menu makan yang akan mereka masak nantinya.
Siti : “Nis, hari ini mau masak apa ya? Kamu biasanya banyak ide tentang permasakan” Tanya Siti.
Nisa : “Eemm,,,masak ini aja kali ya tumis kangkung sama tempe goreng kan dah lama tu nggak masak kangkung”
Siti : “Iya juga ya.”
Nisa : “Oh ya, dompet kamu yang bawa lo ya”
Siti : “Iya, kamu tenang aja, nih dompetnya” menunjukkan dompet yang di bawanya.
Sesampai dipasar mereka mulai belanja apa saja bahan yang mereka butuhkan untuk memasak kangkung. Ketika mereka berpindah tempat untuk membeli tempe, Nisa merasa ada yang mengikuti mereka. Namun Nisa berfikir itu hanya perasaannya saja, dan yang benar saja tiba-tiba dompet yang dibawa Siti dirampas oleh seorang pencopet. Secara spontan Siti dan Nisa pun teriak minta tolong, dan membuat geger orang pasar. Siti menangis, merasa bersalah karena dia tidak berhati-hati membawa dompetnya. Nisa yang berada disamping Siti mencoba menenangkan Siti, walaupun dia juga merasa sedih dengan kejadian yang dialami mereka. Nisa pun mencoba tegar, dan tidak meneteskan air mata,akan tetapi air matanya tak mampu dia bendung.
Nisa : “Sabar ya Sit, ini ujian bagi kita dan kamu jangan merasa bersalah begitu. Ini salah kita berdua yang kurang hati-hati. Kita nanti bicara baik-baik dengan bu Nyai”
Siti : “(menangis) tapi nis didalam dompet itu ada KTP, ATM, kartu nama, foto dan uangku semuanya ada didompet itu nis..”
Nisa : “Kamu harus ikhlas Sit, serahkan semuanya pada Allah, jika memang masih rezekimu maka dompet itu akan kembali padamu, kamu yang sabar, kamu harus ikhlas,,sudah jangan menangis lebih baik kita pulang.”
Siti : “Iya nis”
Pencopet itu sudah jauh dari pasar dan dia sedang berada di basecampnya. Dengan nafas yang terengah-engah dia perlahan duduk. Kemudian membuka dompet hasil rampasannya. Namanya Ega, 23 tahun umurnya, tukang copet yang sudah mahir menjalankan aksinya tersebut. Dia mulai membuka dompet itu dan melihat isi dalam dompet itu
Ega : “Wahhh lumayan juga ni uangnya,,,ooo jadi dia orang pondok pesantren,,,tapi kalau dilihat dari fotonya dia cantik juga.” Memandangi foto Siti.
Sesampai di pondok pesantren, Pak Kyai melihat Nisa dan Siti pulang dengan kondisi lemas dan menangis.
Pak Kyai : “Assalamualaikum.”
Nisa, Siti : “Waalaikumsalam Pak Kyai.”
Pak Kyai : “Kalian kenapa? Pulang dari pasar kok menangis?”
Nisa : “Sebelumnya, kami minta maaf Pak kyai, tadi dipasar dompet yang dibawa Siti kecopetan saat berbelanja. Kami minta maaf Pak kyai”
Siti : “Benar Pak kyai, kami kurang hati hati saat dipasar, maafkan kami Pak kyai.” (menangis)
Pak Kyai : “astagfirullah,, kalian yang sabar ya ini ujian bagi kalian, kalian harus ikhlas,,sudah jangan menangis. Dompetnya isinya apa saja Sit?”
Siti : “Didalam dompet itu ada KTP, ATM, uang, foto,sama kartu nama Pak kyai.”
Pak Kyai : “Kamu harus ikhlas ya sit, jika dompet itu masih rezekimu maka akan kembali padamu. Sekarang kalian istirahat dulu, biar tenang hati kalian.”
Siti,Nisa : “Baik Pak kyai”
Ketika malam harinya, Ega merasa tak tenang, kefikiran dengan foto orang yang ada dalam dompet itu dan merasa kasihan dengan korban yang telah dia rampas tadi pagi. Malam itu juga, dia berniat untuk mengembalikan dompet tersebut kepada pemiliknya.
Waktu menunjukkan pukul 08:30 pagi, Ega mulai berangkat kesebuah alamat yang tercantum dalam kartu nama yang ada di dalam dompet itu. Sesampai dialamat tersebut, Ega merasa tidak percaya diri, karena lingkungan tersebut merupakan lingkungan pondok pesantren. Sedangkan Ega berpenampilan dengan amburadul, namun Ega tetap melanjutkan niatnya. Dengan perlahan Ega memasuki area pesantren, tak sengaja Pak Kyai melihat Ega dan menghampirinya.
Pak Kyai : “Assalamualaikum.” Sapa Pak Kyai.
Ega : “Waalaikumsalam pak.”
Pak Kyai : “Maaf, ada yang bisa saya bantu mas?”
Ega : “Saya Ega. Maaf sebelumnya, apakah bapak kyai disini?” Tanya Ega
Pak Kyai : “Iya benar, ada yang bisa saya bantu mas”
Ega : “Oh,, jadi begini pak, mohon maaf sebelumnya, kemarin saya telah merampas dompet salah satu santri bapak ketika berbelanja di pasar. Kedatangan saya kesini ingin mengembalikan dompet ini. Saya benar-benar menyesal dan saya benar-benar minta maaf atas kejadian ini. Saya juga tidak mengambil uang di dalam dompet ini sepeserpun” jelasnya.
Pak Kyai : “Alhamdulillah,,,jika kamu sudah menyesali perbuatanmu. Saya berharap kamu tidak mengulangi perbuatanmu itu, karena itu merupakan perbuatan yang sangat merugikan dirimu sendiri. Mari saya pertemukan dengan pemilik dompet ini.”
Ega : “Baik Pak kyai, tapi Pak kyai apakah pemilik dompet ini akan memaafkan saya?.”
Pak kyai : “Insyaallah dia akan memaafkanmu.”
Dipanggilnya Siti yang sedang berada di kantor.
Siti : “Assalamualaikum Pak Kyai.”
Pak Kyai : “Waalaikumsalam, Siti,,ini Ega, yang telah merampas dompetmu waktu dipasar kemarin. Ega ini ingin mengembalikan dompet ini sama kamu.”
Ega : “Benar yang dikatakan Pak kyai, tapi tenang saja saya tidak mengambil uang dalam dompet ini sepeserpun. Semuanya masih utuh. Dan saya benar benar menyesal, saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi. Saya benar-benar minta maaf sama kamu Siti.” Memberikan dompet yang dibawanya kepada Siti.
Siti : “Alhamdulillah,,jika kamu sudah menyesali perbuatanmu, saya juga sudah memaafkan kamu kok.” Senyum.
Ega : “Terima kasih Siti, ohh ya Pak Kyai, kalau boleh dan kalau di terima saya ingin sekali belajar ilmu agama di pesantren ini. Saya ingin memperbaiki diri saya yang sebelumnya jauh dari agama.”
Pak Kyai : “Alhamdulillah,,Tentu saja boleh, nanti Ega disini akan dibimbing belajar ilmu agama dengan baik.”
Ega : “Terima kasih Pak kyai.”
Pak kyai : “Iya sama-sama Ega.”
Niat mengembalikan dompet yang dirampasnya justru Ega malah mendapat hidayah dipesantren ini. Dia sangat bersyukur karena bisa taubat sebelum terlambat. Hari-hari Ega jalani dengan semangat belajar ilmu agama, dan berusaha menjadi yang lebih baik lagi.***

(Yulianti)