
HUJAN DI BULAN JUNI PUISI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO – Bulan ini masih bulan Juni 2025, dan pagi ini tadi hujan turun membasahi bumi walaupun sebentar. Hanya rintik sesaat saja. Saya teringat pada puisi yang sangat terkenal sampai sekarang, yang berjudul “Hujan Bulan Juni”.
Puisi ini merupakan hasil karya sastrawan terkenal Sapardi Djoko Damono. Beliau menulis puisi ini di tahun 1989, dan di terbitkan pertama kali pada tahun 1994 oleh penerbit Grasindo.
Prof, Dr, Sapardi Djoko Damono adalah seorang pujangga berkebangsaan Indonesia yang terkemuka, dan kerap di panggil “SDD”. Beliau merupakan putra pertama pasangan Sadyoko dan Saparian
Beliau lahir pada tanggal 20 Maret 1940 di Kota Surakarta dan meninggal pada tanggal 20 Juli 2020 di Tangerang Selatan.
Berikut adalah lirik puisi Hujan Bulan Juni yang fenomenal:
Baca Juga:

Bambang Oeban https://sabilulhuda.org/selamat-ulang-tahun/
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
di rahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
di hapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
di biarkannya yang tak terucapkan
di serap akar pohon bunga itu
(1989)
— Sapardi Djoko Damono
Puisi ini sangat dalam maknanya.
Di kutip dari Indonesiana.id : “tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni”. Memiliki makna seseorang yang memiliki ketabahan atau kesabaran dari hujan yang tak turun ke bumi pada bulan Juni.
“dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu”. Memiliki makna bahwa ia sedang merahasiakan rasa rindunya dan di simpannya erat-erat padahal rindu itu sangat lebat kepada seseorang yang di cintainya.
“tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni”. Memiliki makna menggambarkan bahwa dia mampu dengan ketabahannya menahan tidak menyampaikan sayang dan rasa rindunya.
“di hapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu di jalan itu”. Memiliki makna bahwa dia ingin menghapus keraguan dengan prasangka-prasangka jelek dalam sebuah penantian di jalan itu.
Dan mencoba untuk melangkah maju. Namun, ia kembali dan memutuskan untuk melupakan usahanya itu.
“tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni”. Memiliki makna dia pintar dalam hal menyembunyikan, menyimpan rasa sayang dan rindunya kepada yang dia cintai.
“di biarkannya yang tak terucapkan di serap akar pohon bunga itu”. Memiliki makna bahwa dia sadar sebenarnya rindu itu harus di ucapkan, namun ia tak cukup memiliki keberanian untuk menyatakan rindunya. Akhirnya ia memilih merahasiakan dan mengikhlaskan rindu itu kepada Tuhan dan alam.













