sastra  

Hikmah Lakon Wayang Jawa Di Era Globalisasi dan Digitalisasi 1

Hikmah Lakon Wayang Jawa Di Era Globalisasi dan Digitalisasi
Hikmah Lakon Wayang Jawa Di Era Globalisasi dan Digitalisasi

SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU ( Episede 1)

Hikmah dari Lakon Wayang Jawa Di Era Globalisasi dan Digitalisasi – Banyak hal unik yang bisa terjadi secara tiba tiba dengan begitu cepatnya, sebagai akibat dari kecanggihan piranti yang di hasilkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan di segala bidang. 

Demikian pula informasi pengetahuan menyebar tidak di batasi ruang dan waktu. Serta tidak mengenal batasan usia sehingga terjadi perubahan budaya manusia secara frontal dan revolusioner.

Sehingga banyak terjadi gegar budaya shock culture, dan menimbulkan perasaan frustasi tidak nyaman bingung atau stress, karena berada di lingkungan budaya yg baru dan amat berbeda.

Di tengah arus zaman yang terus bergulir, manusia yang serba maju sering terombang-ambing. Antara logika materialism untuk mencapai  hasrat duniawi dan kerinduan ruhani. Teknologi mempercepat segalanya, namun tak menjawab kekosongan batin.

Dalam kegaduhan ini, warisan kearifan lokal justru menyimpan jalan sunyi nan luhur menuju kesejatian diri. Salah satunya adalah ajaran Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Ajaran Rahasia Sastra Jendra Yang Tak Terungkap

Ajaran ini bukan hanya sekedar teks kuno atau pusaka keraton saja. Melainkan tuntunan ilmu ruhani yang lahir dari rahim peradaban Jawa juga. Di simpan dalam lapisan tembang, suluk, dan laku tapa para pinisepuh.

Baca Artikel Berikut:

Becik Ketitik Olo Ketoro! Filosofi Hidup Yang Jarang Di Ketahui

Becik Ketitik Olo Ketoro! Filosofi Hidup Yang Jarang Di Ketahui https://sabilulhuda.org/becik-ketitik-olo-ketoro-filosofi-hidup-yang-jarang-di-ketahui/

Ia tidak di ajarkan sembarangan, harus di pelajari, di dalami, di pahami, di jalani, dengan laku. Juga di wariskan melalui diam, tirakat, dan penyatuan batin dengan Sang Sumber Kehidupan Tuhan Sang Maha Pencipta Alam Semesta.

Mengapa Sastra Jendra di sebut ilmu rahasia?. Karena ia menyentuh sesuatu yang tak dapat di ungkap hanya dengan kata, melainkan harus di rasakan dalam keheningan batin. Ia bukan sekadar pengetahuan, tapi kunci pembebasan dari ikatan duniawi. 

Warisan Nusantara Yang Mengagumkan

Ilmu tentang asal-muasal manusia, tujuan hidup, dan jalan pulang menuju Gusti Kang Akaryo Jagad. Tulisan ini hadir sebagai upaya sederhana untuk membuka tirai ajaran tersebut. Bukan untuk mengurai seluruh kedalamannya.

Melainkan untuk menyalakan lentera awal bagi siapa saja yang ingin memahami makna hidup dalam terang kebatinan Nusantara. Jejak peninggalan ketinggian peradaban nenek moyang begitu hebatanya dan bisa membuat decak kagum.

Hingga saat ini belum tertandingi oleh kehebatan ilmu modern, bahkan telah di nobatkan menjadi salah satu keajaiban dunia yaitu candi Borobudur.

Tontonan Jawa Yang Sarat Tuntunan

Selain itu masih banyak lagi seperti candi Prambanan, candi sewu, candi boko dan lain sebagainya yang belum terungkap. Serta peninggalan non benda yang beraneka ragam dan bernilai luhur.

Pementasan wayang Jawa bukan hanya menampilkan tontonan hiburan. Tetapi juga menampilkan tuntunan nilai luhur yang di selipkan dalam dialog dan lelakon tokoh-tokoh pewayangan.

Sehingga melalui pagelaran wayang ini pesan-pesan nilai dapat di sampaikan tanpa terasa menggurui. Pengungkapan pesan moral tersaji dalam dua unsur etis dan estetis.

Etis dalam pengertian pesan-pesan nilai luhur dan moral di selipkan dalam dialog dan lelaku. Sedangkan estetis bermakna menjadi sajian pertunjukan yang indah. Tersusun dalam Bahasa kesusasteraan jawa yang tinggi.

Sastra Jendra Dalam Lakon Wayang

Ajaran sastra jendra dalam wayang tersaji dalam beberapa lakon seri mahabarata dan Ramayana yang di ubah dengan versi budaya jawa. 

Baca Juga: Wayang ‘Lalu Nasip’ dalam Bingkai Moderasi Beragama

Kitab Ramayana  di tulis oleh Mahareshi Valmiki di perkirakan pada abad ke 5 SM hingga abad petama SM. Sedangkan  kitab Mahabarata di tulis oleh Maharshi Veda Vyasa, di perkirakan di tulis pada abad ke-3 Sebelum Masehi hingga abad ke-3 Masehi. (bersambung)

Oleh: Ki Pekathik