
“SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU” (Episode 2)
Asal-Usul dan Konteks Historis Ajaran Sastra Jendra
Hikmah Lakon Wayang Jawa Di Era Globalisasi Dan Digitalisasi – Ajaran Sastra Jendra tidaklah tertulis dalam sebuah kitab Tunggal dan bukan hanya sekadar rangkaian kata berbunyi indah. Melainkan buah dari perjalanan panjang spiritual dan budaya di tanah Jawa.
Ia adalah kawruh (pengetahuan) yang berakar dalam, tumbuh dari perpaduan antara spiritualitas lokal, pengaruh Hindu-Buddha. Kemudian di perkaya oleh nuansa tasawuf Islam, dan terpelihara dalam peri laku kehidupan sehari hari. Di turunkan melalui suluk tembang dan pitutur luhur para sesepuh.
1. Makna Etimologi
Sastra: berarti tulisan, kitab, atau ajaran indah. Dalam konteks ini menunjuk pada “ilmu” atau “pengetahuan agung”.
Jendra berasal dari singkatan kata Harjendra, sedangkan harjendra adalah pemadatan dari kata Harja dan Endra. Harja bermakna kesejahteraan, dan Endra adalah nama salah satu putra Bathara Guru (Sri teddy 2024).
Di percaya sebagai nama dari Dewa Endra, manifestasi pengetahuan ilahiah dalam tradisi Hindu. Juga di serap dalam konsep “Dewa Guru”, memiliki arti “milik raja”.
Atau di identikan dengan ajaran Tuhan yang dapat menyelamatkan manusia dan alam semesta. Sehingga Jendra dapat di artikan ilmu keindahan yang mengandung nila suci ilahiah.
Hayuning: berasal dari kata hayu artinya keindahan, keselamatan, atau kedamaian dan ing berarti di atau dari.
Rat: berarti bumi atau dunia.
Pangruwating: berasal dari kata pangruwat yang berarti “penyucian” dan ing yang berarti terhadap atau dari.
Diyú: yakni raksasa symbol dari roh jahat, nafsu duniawi, atau sifat-sifat negatif manusia.
Secara lengkap, frasa ini dapat di maknai sebagai:
“Ilmu agung yang membawa keselamatan dunia dan menyucikan roh dari nafsu angkara.”
Baca Artikel Berikut:

Hikmah Lakon Wayang Jawa Di Era Globalisasi dan Digitalisasi https://sabilulhuda.org/hikmah-lakon-wayang-jawa-di-era-globalisasi-dan-digitalisasi/
2. Akar Sejarah dan Perkembangannya
a. Asal Mula dalam Tradisi Lisan
Sebelum di tulis, ajaran ini di wariskan secara tuturan lisan di lingkungan terbatas — khususnya para abdi dalem, pujangga kraton, dan kalangan pinisepuh. Hal ini karena sifatnya di anggap wingit (sakral) dan tidak layak di buka sembarangan.
Ada pemahaman jika ilmu ini di wedar atau di ajarkan sembarangan bisa kuwalat. Bisa menimbulkan bencana jika salah dalam memahami dan menerapkannya, atau pamali.
Sehingga bersifat elitis hanya kalangan tertentu saja yang mempelajarinya.
b. Penampakan dalam Teks Sastra
Walau tidak di temukan dalam bentuk kitab tunggal yang berjudul “Sastra Jendra”, ajarannya tersebar dan di selubungkan dalam beberapa karya adiluhung, antara lain:
Serat Centhini menjadi salah satu sumber paling luas, memuat dialog-dialog spiritual tentang asal-usul manusia dan ilmu ruhani
Wedhatama karya Mangkunegara IV: memuat suluk-suluk yang mencerminkan prinsip Sastra Jendra dalam bentuk tembang pocung, sinom, dan kinanti.
Serat Dewa Ruci dan Serat Kalatidha: juga menyinggung konsep penyatuan diri dengan Tuhan (manunggaling kawula lan Gusti), yang bersenyawa dengan roh ajaran ini.
c. Pengaruh Hindu-Buddha dan Islam
Ajaran Sastra Jendra adalah buah sinkretis:
Hindu: konsep Atman–Brahman, laku tapa, reinkarnasi, dan kosmologi mikrokosmos–makrokosmos.
Dari Buddha Mahayana: ide tentang penyucian batin, sunyata (kekosongan), dan welas asih universal.
Dari Tasawuf Islam: pengaruh ajaran fana’, ma’rifat, ittihad, dan praktik wirid serta semedi dalam bentuk zikir batin.
3. Peran Kraton sebagai Penjaga Warisan
Kraton Yogyakarta dan Surakarta memegang peran penting dalam pelestarian ajaran ini. Para pujangga keraton seperti Yasadipura, Ronggowarsito, Mangkunegara IV, dan R.Ng.
Ranggawarsita menyalurkan nilai-nilainya ke dalam tembang-tembang adiluhung, mengemas ajaran ruhani ke dalam bentuk estetika yang halus, namun dalam.
Baca Juga: Wayang ‘Lalu Nasip’ dalam Bingkai Moderasi Beragama
Karena sifatnya yang tersembunyi, beberapa kalangan menganggap ajaran Sastra Jendra sebagai ilmu larangan. Tapi bagi yang siap secara batin, ajaran ini justru menjadi jalan pulang menuju keheningan, kebijaksanaan, dan penyatuan dengan Sang Maha Kuasa.
(bersambung)
Oleh: Ki Pekathik





