Pagi untuk kesekian kalinya……
Disuatu rumah dengan keluarga kecilnya, aktivitas seperti biasanya sudah berjalan sebagaimana mestinya. Seperti pagi itu, salah satu putra dari keluarga tersebut yang bernama Salim, mulai ribut meminta pada sang ibu untuk mengantarnya ke rumah teman.
“Buk, bisa anterin aku ke rumah Vano tidak? Aku mau belajar kelompok buk…” pinta Salim kepada ibunya
“Ya, rumahnya dimana?” Ujar ibunya
“Itu lho Bu, jalan yang ke arah wonogondhang, lewat jalan Kaliurang.” jawab Salim
“Wes sana Bu, dekat aja kok dari rumah..” bapaknya ikut menimpali.
“Ya, baiklah” jawab sang ibu menyetujui.
Dengan perlahan, sang ibu beranjak dari kursinya. Sebenarnya badannya sedang terasa sangat lelah, nggregesi, agak buyer, apalagi ditambah sedang haid. Tapi demi anaknya akhirnya sang ibu tetap memaksakan diri untuk mengantar Salim, walaupun dengan agak malas-malasan.
Jalan ke wonogondhang bagi sang ibu sudah tak asing lagi, sebab ia sudah sering ke sana. Namun beberapa bulan ini, ia tidak pergi ke wonogondhang dikarenakan musim hujan dan status siaga Merapi.
Sambil mengendarai motor, beberapa kali ibu Salim merasakan agak buyer kepalanya, tapi ia berusaha menahannya.
‘Harus kuat demi anak’ batinnya, menguatkan diri sendiri.
Salim berangkat dengan meminta pada sang ibu untuk lewat jalan Kaliurang. Hingga akhirnya sampailah mereka di rumah Vano, di daerah Umbulharjo.
Untuk pulang kembali ke rumah, ibu Salim berencana lewat Cangkringan, walaupun lupa-lupa ingat.
“Bukankah ini bisa lewat cangkringan? Kan tinggal turun saja nih,” pikir ibu Salim sewaktu pulang.
Akhirnya ibu Salim mengambil jalan itu, dari kelurahan Umbulharjo lurus ke bawah, kalo lewat Kaliurang belok kanan, tapi…
‘Kok sepi ya, aduh ngeri…’ batin ibu Salim.
Setelah beberapa ratus meter mengendarai motor, keraguan mulai menyelimuti hatinya dengan jalan yang diambilnya.
“Seingatku, jalannya tinggal lurus saja, apa yang belok kiri tadi ya?” pikirnya.
Akhirnya ibu Salim balik kanan mengambil jalan yang satunya. Setelah beberapa saat, keraguan itu muncul lagi.
“Kayaknya nggak lewat sini deh, coba tak liat maps. Tetep saja bingung, aduh…. lewat mana ya? ya sudah lewat Kaliurang lagi saja, balik yang tadilah… daripada kesasar” gumamnya.
Ibu Salim menyadari kelemahannya kalau soal menghafal jalan. Angkat tangan menyerah duluan bilamana dirinya harus berhadapan dengan lika-liku jalan pedesaan yang hampir sama kiri kanannya. Bingung dan rasa takut dengan jalanan sepi, akhirnya ia memutuskan kembali ke jalan semula yang masih jelas diingatnya.
Saat sedang asik dengan pikirannya, tiba-tiba jegrek!!!…. motor bagian belakang bersuara.
“Ah nggak ada apa-apa, baik- baik saja kok.” Pikirnya sembari mengintip dari kaca sepion motornya.
Jegrek!!! suara aneh itu terdengar lagi dari motornya.
“Aduh… ada yang tidak beres nih motornya. Perasaanku mulai nggak enak nih. Lho.. ini kok di gas nggak bisa maju???” Gumamnya.
‘Ya Alloh… kenapa ini? Mana masih jauh dari Pakem lagi!’ Batinnya.
Akhirnya ibu berhenti di depan mie ayam misoa Umbulharjo. Setelah dicek, benar saja ada yang nggak beres. Rantainya lepas.
“Gimana ya? Harus cari bengkel nih, mana kepala buyer lagi.” Gerutunya. Waktu ia lihat di google maps, ternyata bengkel masih lumayan jauh.
Alhamdulillahnya ada bapak-bapak tengah membetulkan listrik didekat situ.
“Pak, ngapunten, bengkel motor pundi nggih? Niki motor kulo rusak,” tanya ibu Salim.
“Waah nggak tahu Bu, Kenapa Bu?” Tanya bapak itu sambil mengecek motor ibu Salim.
“Ooh rantainya lepas, waah ini sudah kendor sekali Bu,” kata bapak itu sambil membetulkan rantai sepeda motor yang lepas.
Sementara itu, ibu Salim berusaha menghubungi suaminya, dan suaminya akhirnya bersedia menjemputnya.
“Bu, ini sudah bisa di pake, tapi pelan-pelen saja,” ujar bapak penolong tadi.
“Iya pak, matur nuwun,” ujar ibu Salim. ‘Tapi nggak berani ah…nanti kalau lepas lagi gimana, ini rantainya kendor banget’ batinnya.
Akhirnya bapak penolong tadi pergi, kemudian ibu Salim mengirim serlok dan memilih menunggu suaminya datang menjemputnya.
Beberapa menit kemudian suaminya datang dengan naik motor.
“Pake motor ini saja. Dan kalau kirim serlok tu nggak kayak gitu, sini tak ajarin,” ujar beliau dengan muka mangkel.
Ibu nurut saja dan akhirnya mereka tukeran motor, dan segera pulang.
Sepanjang jalan pulang, banyak hal berkecamuk di pikiran ibu Salim “Ini nih… Gara-gara tadi mau berangkat ngganjel di hati, malas-malasan, jadi dikasih pelajaran sama Allah. Alhamdulillah ketemu orang baik yang mau menolong. Walaupun agak dimarahi suami karena serloknya kurang pas, Ora po po lah…. sing penting bisa sampai rumah dengan selamat,” batinnya.
Ibu Salim langsung masuk ke rumah, sementara suaminya langsung ke bengkel untuk mengganti rantai.
Sesampainya sang suami di rumah…
“Sebenere aku sudah tahu soal rantai seminggu yang lalu,” ujar suaminya
“Lha kok Ra ngomong atau langsung dibawa ke bengkel to pak… untung aku dan Salim baik-baik saja. Kalau sampai kenapa-kenapa bagaimana pak?,” ujar ibu Salim pelan-pelan, karena lemas.
Suaminya hanya diam saja. Entah merasa bersalah atau bersyukur karena istri dan anaknya sehat selamat, karena ia tahu istrinya bukanlah orang yang handal mengendarai sepeda motor, apalagi dengan kondisi jalan naik turun dan belok-belok.
Rumah sesaat hening, masing-masing sibuk dengan hp dan pikirannya
“Yok Bu… kita keluar, aku ada perlu. Temani ya,” pinta suaminya tiba-tiba.
Ibu Salim tersenyum, “ooo…minta ditemani to? Ayook,” ujarnya. Padahal badannya capek, tapi demi kebaikan dia kalahkan rasa itu.
Ibu Salim paham betul, suaminya bukanlah tipe laki-laki yang mudah bilang maaf, tetapi sebagai bentuk permintaan maafnya diwujudkan dengan hal yang lain. Seperti sekarang ini, minta ditemani keluar untuk suatu urusan. Ini berarti permintaan maaf dalam bentuk yang lain.
Begitulah laki-laki. Ada yang susah bilang maaf, padahal kata itu bila diucapkan akan meluluhkan hati wanita. Tetapi ada sebagian laki-laki yang sulit melakukan hal itu, entah karena gengsi atau malu. Tetapi dia akan melakukan hal yang lain sebagai bentuk penyesalan atau permintaan maaf yang tak terucap. Terima saja dengan lapang dada. Dan hal itu tidak perlu dipermasalahkan. Dengan mengalah maka semuanya bisa kembali baik dan menyenangkan.
Selalu ada hikmah luar biasa dibalik suatu peristiwa yang terjadi pada manusia. Maka bersyukurlah kepada Allah SWT. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.
(Mae ya)













