Jika banyak bicara akan banyak salahnya banyak salahnya berarti banyak pula dosanya banyak dosanya berujung masuk neraka. Maka pilihlah diam.
Diam bukan berarti tidak bicara tetapi tidak banyak mengeluh tidak membuka aib diri dan orang lain, tidak pamer riya, tidak sombong, tidak mencari-cari kesalahan orang dan sebagainya.
Alangkah indahnya diam karena, diam sebagai ibadah tanpa bersusah payah, sebagai perhiasan tanpa berhias, sebagai kehebatan tanpa kerajaan, sebagai benteng tanpa pagar, sebagai kekayaan tanpa meminta maaf sama orang, sebagai istirahat bagi kedua malaikat pencatat amal dan sebagai penutup segala aib.
Rasulullah berpesan pada umatnya agar selalu berkata baik atau diam saja. Jika tidak boleh menahan ucapan yang mengarah pada keburukan.
“Barang siapa yang beriman kepada ALLAH dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam diam itu tidak ada yang mengetahui kecuali orang yang bersangkutan dengan Tuhannya saja.
Diam tetapi tetap terus memperhatikan. Diam tetapi terus berpikir. Diam tetapi terus berdoa dan berzikir. Diam tetapi tetap terus menebar manfaat.
( Yani )










