Hallo gaes, namaku Afifah. Aku lahir di Semarang, 21 Februari 2004. Ayahku sekorang petani dan ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku sekolah di SMA Muhammadiyah pakem di daerah sleman. Disini aku ingin bercerita tentang pengalamanku pertama kali di pondok dan mengapa aku mau kepondok.
Sebenarnya, pondok bukan tujuan ku saat itu. Karena, saat itu aku memiliki keinginan sendiri. Yaitu sekolah di kejuruan Farmasi di daerah Salatiga, namun orangtua ku memberiku saran lain yaitu melanjutkan sekolah di SMA sekalian mondok dengan alasan hal ini akan lebih baik untukku dan akan lebih menjaga pergaulanku. Awalnya hal itu sangat sulit ku terima, apalagi saat itu teman-temanku banyak yang melanjutkan ke sekolah favorit mereka. Tapi lama kelamaan aku setuju dengan saran orangtua ku, bukan karna paksaan lagi tapi entah kenapa aku yakin saja dengan hal itu, ya yang aku pikirkan saat itu mungkin masuk kepondok adalah salah satu jalan untuk masa depanku yang lebih baik dan entah mengapa aku sangat menanti hari itu datang.
Dan hari yang kutunggu pun tiba. Hari dimana aku harus merantau jauh dari orangtua, sahabat, teman-teman dan saudara-saudaraku. Awalnya hal itu aku pikir akan sangat berat, apalagi ini adalah pertama kalinya aku jauh dari orangtuaku. Tapi, dengan kenyakinan teguh dan dukungan dari orangtuaku akhirnya akupuk perkuat langkahku menuju kepondok. Aku berangkat dari rumah pukul 13.00 dan sampai di pondok sekitar jam 14.30 WIB. Aku diantar oleh orangtua dan kakak sepupuku. Setelah lama mengobrol dan mendaftarkanku di pondok, mereka pun berpamitan untuk pulang. Dan entah kenapa perasaanku saat itu sangat tidak enak,
aku takut jika mendapat kakak tingkat yang galak, teman yang sadis dan masih banyak lagi kecemasan-kecemasan yang aku rasakan saat itu.
Saat orangtuaku sudah pulang, aku diajak berkeliling dan diantar ke kamar oleh ibu pengasuh. Yaa hal itu sangat membuatku gemetar, entah kenapa pikiranku melayang kemana-mana saat itu. Tetapi, ternyata ketakutan yang aku takutkan tak selamanya menyeramkan. Bayangan kakak tingkat yang galak tiba-tiba hilang seketika, ketika aku melihat mereka. Senyum bersahabat yang mereka pancarkan membuatku lega dan cukup tenang, meskipun masih sedikit takut. Dan akhirnya aku pun memberanikan diri untuk berkenalan dari mereka satu per satu. Setelah berkenalan, mereka menceritakan banyak hal kepadaku. Mulai dari hal lucu tentang mereka dan semua tentang pondok pesantren ini. Hingga aku merasa nyaman dan mulai tidak asing lagi dengan mereka.
Well, ketika sore tiba. Aku pergi mandi dengan kakak tingkatku yang mengantarku. Yaa ini pertama kalinya aku pergi mandi dengan antrian yang sangat panjang. Awalnya hal itu sangat membosankan karna aku belom terbiasa. Setelah mandi, aku dan teman temanpun melaksanakan solat maghrib dan makan malam. Setelah makan malam, aku 4 solat isya dan menkaji Bahasa Arab. Ya, itu bukan hal yang biasa untuk kuu. Setelah mengkaji bahasa arab, aku pergi ketempat tidur untuk istirahat. Tapi tak tau kenapa aku rasanya pengen nangis, keinget rumah, keinget orangtua, keinget temen dan lain-lain. Dan akhirnya akupun tidak bisa tidur hingga larut malam, aku baru bisa tidur pukul 01.00 an. Dan bangun pukul 03.00 untuk melaksanakan sahur, ya karna kebetulan aku berangkat kepondok tepat dihari pertama puasa, sehingga akubtidak bisa merasakan kehangatan suasana puasa di rumah yang sangat menyenangkan. Aku sempat berfikir untuk pupang kerumah karna tidak krasan, tapi aku teringat akan pesan orangtua ku yang sangat mengharapkanku menjadi orang baik, sukses di dunia maupun di akhirat kelak. Dan hasilnya, aku bertahan hingga saat ini, meski jauh dari orangtua masih menjadi alasan terberat untuk menjalani ini semua.***
(PUJHI)









