Hari-Hari Terakhir Pak Harto

Hari-Hari Terakhir Pak Harto
Hari-Hari Terakhir Pak Harto

Hari-Hari Terakhir Pak Harto – Pada Kamis, 21 Mei 1998, dengan suara serak yang gemetar, Presiden Soeharto atau sering dikenal familiarly sebagai Pak Harto, mengumumkan pengunduran dirinya. Ia berbicara:

“Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini.”

Kalimat ini menandai sudah berakhirnya 32 tahun kekuasaannya.

Pidato itu terasa seperti belati tak bertepi yang menghujam hati bangsa. Suasana istana terasa tegang dan canggung saat B.J. Habibie mengambil sumpah sebagai presiden baru, disaksikan oleh sosok yang lama menduduki kursi tertinggi negeri.

Serah Terima Jabatan Dan Kepergian Pak Harto

Setelah upacara serah terima, Pak Harto tampak kelelahan saat berjabat tangan dengan Habibie. Ia kemudian melangkah menuju Ruang Jepara dengan langkah berat, sengaja memilih rute memutar agar tidak memotong jalan Habibie yang sedang bersalaman dengan tamu.

Baca Juga:

Dari Akar Pertanian Hingga Puncak Kreasi Dan Inspirasi Yani Ambar Polah

Dari Akar Pertanian Hingga Puncak Kreasi Dan Inspirasi Yani Ambar Polah https://sabilulhuda.org/dari-akar-pertanian-hingga-puncak-kreasi-dan-inspirasi-yani-ambar-polah/

Dalam detik-detik penuh arti itu, Pak Harto menyalami putri sulungnya, Siti Hardijanti Rukmana atau yang di kenal Mbak Tutut, saat menuruni anak tangga istana. Senyum tipis sempat terlukis sebelum ia kembali ke kediamannya di Jalan Cendana, dengan pengawalan ketat yang mengiringi langkahnya.

Pak Harto Mengisolasi Diri Pasca Lengser

Setelah meninggalkan kursi presiden, kehidupan Pak Harto berubah drastis. Ia memilih mengisolasi diri di Cendana: membatasi kunjungan petinggi militer maupun kerabat dan bahkan keluarga besar pun lebih banyak menarik diri. Demonstran yang menuduhnya korupsi terus membanjiri gerbang rumah.

 Dua bulan kemudian, di Puri Retno, Anyer, di tepian pantai, ia berbicara kepada keluarga: bahwa hujatan adalah konsekuensi dari keputusan mundurnya. “Biarlah sejarah yang mencatat,” katanya, menekankan pentingnya menerima dengan ikhlas demi meringankan beban di akhirat.

Ia juga mengajak anak cucunya untuk melepaskan dendam, sebuah pesan paling dalam dari seorang ayah dan pemimpin.

Retaknya Hubungan Pak Harto Dengan Habibie

Kisah penting lain adalah renggangnya hubungan dengan Habibie. Setelah pelantikan, mereka tidak pernah lagi bertemu hingga akhir hayat. Dalam sebuah wawancara, Pak Harto menyebut, “Habibie membiarkan saya dihujat.”

Namun Habibie mengklaim dirinya pernah menghubungi Harto untuk berdiskusi dan meminta pandangan, tapi ditolak atas alasan bisa ‘merugikan bangsa’. Meski demikian, Habibie mengungkap bahwa Pak Harto tetap mendoakannya dalam setiap salat.

Hari-Hari Terakhir Pak Harto
Hari-Hari Terakhir Pak Harto

Titik Paling Religius Dari Sisi Pak Harto

Menjelang akhir hayatnya, Pak Harto semakin religius. Mbak Tutut mengisahkan bahwa ayahnya tak pernah absen salat tahajud. Bahkan saat sakit walau dokter menyarankan tak perlu menghadap kiblat, ia bersikeras agar kasurnya diputar ke arah kiblat.

Perubahan ini juga terlihat saat Quraish Shihab Menteri Agama kabinet terakhir membagikan pengalaman diskusi mendalam tentang ritual ibadah, kekhusyukan salat, dan ketakwaan. Pak Harto mendengarkan layaknya murid yang haus ilmu, sebuah perubahan yang sangat dramatis dari era sebelumnya.

Penurunan Kesehatan Dan Wafatnya Beliau

Tahun 1999, setahun pasca mundur, Pak Harto menderita stroke ringan. Kondisinya menurun secara bertahap meski sempat dirawat. Setelah berjuang selama sembilan tahun, ia akhirnya kembali kepada Sang Pencipta pada 27 Januari 2008. Sekitar jam 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.

Jenazah disemayamkan di kediaman Cendana, lalu diterbangkan ke Solo keesokan harinya. Ia dimakamkan di Astana Giri Bangun, Karanganyar, dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai inspektur upacara.

Hari-hari terakhir Pak Harto menampilkan sisi manusia yang jarang terlihat, leluhurnya seorang pemimpin: menerima kritikan dengan ikhlas, merawat kedekatan spiritual, dan meyakini bahwa dendam tidak akan menyelesaikan apa pun.

Kelamnya kontroversi dan kisah repelakuinya tak bisa diteraba, namun kontribusinya pada pembangunan dalam beberapa aspek juga nyata dan tetap menjadi bagian sejarah bangsa.

Kisah ini penulis ambil dari berbagai sumber, jika terdapat kesalahan dalam penulisan kami mohon maaf yang sebanyak banyaknya.

Baca Juga: Eny Yaqut Dinobatkan sebagai Tokoh Perempuan Sumber Inspirasi 2021