Harga Sebuah Makanan

Rani dan Rian lahir pada hari yang sama. Hanya saja Rani lebih dulu dibandingkan Rian. Mereka terlahir dalam keadaan kembar identik. Bedanya, Rani perempuan sedangkan Rian laki-laki. Kini mereka tengah duduk di kelas lima SD.

Ada kebiasaan buruk yang sering mereka lakukan ketika makan. Jika Rani suka pilih-pilih makanan maka Rian suka mencela makanan yang menurutnya tidak enak. Ayah dan ibu mereka sudah sering menasehati. Akan tetapi hal itu justru membuat mereka semakin berulah tak baik. Seperti menyisakan makanan atau bahkan membuang makanan yang tidak disukai ke tempat sampah meskipun masih utuh.

Suatu hari, ayah dan ibu hendak pergi ke luar kota untuk menyelesaikan urusan bisnis. Karena bertepatan dengan hari libur, maka Rani dan Rian akan dititipkan ke rumah neneknya. Kakek mereka sudah tiada. Oleh karenanya, nenek tinggal seorang diri bersama beberapa pembantunya.

Hari itu, tak banyak kegiatan yang Rani dan Rian lakukan. Sepanjang hari, mereka gunakan untuk bermain gadget. Menjelang waktu makan malam, nenek meminta mereka untuk segera turun ke ruang makan. Ketika Rani melihat hidangan yang disajikan di atas meja, ia kembali dengan kebiasaan buruknya.

“Aduh nek ini sayur apaan, kok warnanya kecoklatan gitu? Aku nggak mau makan sayurnya ah!!” Kata Rani. Dengan sabar nenek menyingkirkan sayur yang ada didekat rani ke pinggir meja dekat nenek duduk. Dan memberikan Rani lauk ayam goreng dan sambal.

“Uwekkk pedes banget sih nek sambelnya, mana kayak belum mateng lho cabenya. Ini sambel mentah ya nek? Iiih, nenek kan tau kalau aku ga suka yang mentahan kek gini?” Kata Rian sambil memuntahkan makanannya yang tercampur sambal.

“Kan bukan nenek yang masak, itu tadi yang masak mbak Sri. Yasudah, disingkirkandipinggir piring saja bagian yang terkena sambel.” Kata nenek menyuruh Rian untuk menyingkirkan sambal yang ada di piringnya.

Akan tetapi, Rian justru membuang makanannya itu ke tempat sampah dan mengambil piring baru juga nasi dengan lauk baru tanpa sambal. Katanya, ia tak mau jika nantinya masih merasakan sedikit rasa sambel dalam makanannya. Nenek pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk menahan amarahnya.

Dipertengahan makan malam tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Nenek pun beranjak untuk membuka pintu. Ternyata itu adalah seorang bocah laki-laki yang tak lain adalah anak dari mbak Sri pembantu di rumah nenek. Namanya Giring. Bertubuh gemuk dan tidak terlalu tinggi dengan kulit hitam legam khas orang desa umumnya. Orangnya itu pinter, lucu dan mudah bergaul dengan orang baru. Dian dia adalah satu-satunya teman yang dimiliki Reno dan Rani ketika di rumah nenek.

Malam itu, Giring datang ke rumah nenek karena hendak mengantar buah mangga yang dipetik dari pohon depan rumahnya. Nenek pun senang dengan pemberian Giring dan mengajaknya untuk bergabung makan malam bersama. Giring dengan senang hati menerima dan ikut bergabung makan. Padahal, sebelum menuju rumah nenek ia sudah makan. Pantas saja ia gemuk.

“Reno ini ada Giring loh” kata nenek. “Eh makanan Rani kok nggak dihabiskan?” Beralih menatap piring Rani yang masih berisi setengah. Rani pun hanya mengangkat bahu dan mengatakan jika ia sudah kenyang. Dan nenek hanya bisa menghela nafas. Kemudian nenek menyuruh Giring makan sesukanya. Tanpa malu-malu, Giring pun mengambil makanan dan memakannya dengan lahap. Mungkin karena berjalan jauh jadi ia merasa lapar lagi.

“Ring, nginep sini aja yaaa” kata Reno. Giring menjawab dengan anggukan kepala dan acungan jempol. Sebab masih ada banyak makanan didalam mulutnya.

Setelah makan malam usai, Reno dan Giring berpindah ke ruang tamu diikuti Reni dibelakangnya. Mereka berbagi banyak cerita seru. Hingga Giring bercerita tentang hal-hal yang serem.

“Rani, kamu tadi nyisain makanan kamu to?” Tanya Giring pada Rani. “Emang kenapa? Aku tu dah kekenyangan jadi nggak aku habisinlah!” Kata Rani. “Wah bahaya nih Ran, harusnya kamu tuh ambil dikit aja kalau akhirnya nggak dihabisin” kata Giring menakuti Rani dengan kata bahaya. “Lah bahaya kenapa coba?” Tanya Rani heran.

 “Jadi gini, di desa itu kemarin ada bocah yang kayak kamu itu. Setiap harinya, kalau dia  makan pasti nggak habis dan terkadang suka membuang makanannya itu ke tempat sampah. Nah suatu hari, sehabis nyisain makanan, dia tuh mau berdiri dari duduknya tapi nggak bisa. Seolah-olah ada lem yang melekat di pantatnya. Selain itu seluruh tubuhnya tuh bener-bener nggak bisa digerakin. Alhasil, bocah itu cuma bisa duduk diam ditempat. Hal itu terjadi sampai seharian full. Nggak bisa kemana-mana deh pokoknya.” Cerita Giring

“Lah, kok bisa? Sakit mungkin, bukan karena nyisain makanan kan? Masak iya, cuma gara-gara nyisain makanan bisa kek gitu?” Tanya Reno merasa cerita Giring tak masuk akal.

“Weh, iya itu beneran karena nyisain terus sama buang-buang makanannya kok! Gak percaya? besok tanya aja sendiri deh!” Kata Giring sedikit sebal.

Mendengar cerita Giring, Rani dan Reno sebenarnya merasa takut. Merekapun bertekad dalam hati untuk tidak melakukan kebiasaan buruk mereka. Jam telah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Nenek datang mengingatkan cucu-cucunya untuk segera tidur. Hingga keesokan harinya, ketika mereka sedang sarapan pagi. Si kembar Rani dan Reno memakan makanan mereka hingga tak bersisa. Mereka pun juga tidak mencela masakan nenek.***

(Isnawati)