Guru Murid dan Pendapat Orang-Orang

Rabu, 31 Maret 2010 23:38 Hidayat Nuri E-mail Cetak PDF

B egitu sulitnya menjalani kehidupan dengan mengikuti suara orang banyak. Sebaik apapun pekerjaan kita, selalu saja kekurangannya yang dilihat. Cibiran, cemoohan bahkan hujatan selalu saja kita terima. Manusia selalu menuntut kesempurnaan padahal manusia bukanlah makhluk sempurna dan selalu memiliki kekurangan. Tetapi Allah maha mengetahui keadaan hamba-Nya sehingga begitu mudah nyaman dan indah jika kita menjalani kehidupan hanya untuk mencari keridloan Allah SWT yang telah pasti hukum dan ketetapan-Nya, bukan untuk mencari keridloan manusia yang setiap saat selalu berubah-ubah penuh dengan ketidak pastian.

Pelajaran dari sebuah ilustrasi perjalanan guru dan murid mengikuti pendapat orang banyak.

Pada suatu perjalanan seorang guru bersama muridnya membawa bekal alakadarnya dengan membawa seekor keledai sebagai kendaraannya.

Sang guru bertanya kepada muridnya, “ Wahai muridku siapakah yang pertama akan menaiki keledai ini”

Murid yang berbakti menjawab “ Sebaiknya guru saja yang menaiki, aku akan menuntunnya” maka mereka berjalan memlalui sebuah kerumunan orang, dan mereka menjadi pergunjingan orang dan guru bertanya kepada muridnya, “Muridku apa yang dibicarakan banyak orang”

Murid menjawab “ Mereka tidak suka dengan tabiat guru, mereka mengatakan guru adalah seorang yang tidak punya malu dan tidak berperasaan, sementara guru enak-enak naik keledai sedangkan aku anak kecil disuruh menuntunnya”

Guru berkata pada muridnya “ Kalau begitu ikuti perkataan orang agar kita tidak dipergunjingkan lagi, kita bergantian aku yang menuntun keledai dan engkau yang menaikinya”. Mereka melanjutkan perjalanan dan melalui sekelompok orang yang memandang mereka dengan sinis.

Sang guru bertanya “ Wahai muridku mengapa orang-orang memandang sinis pada kita, apa yang dikatakan orang-orang”.

Murid menjawab “ Wahai guru, mereka mengatakan aku seorang murid yang durhaka dan tidak berbudi, guru seorang yang tua bersusah payah berjalan menuntun keledai sedangkan aku sebagai muridmu bersantai duduk di atas keledai”.

Guru berkata “ Kalau begitu kita ikuti orang-orang agar engkau tidak dikatakan durhaka dan aku juga disukai mereka, kita berdua sama-sama naik ke atas keledai” Kemudian meraka berlalu melawati banyak orang yang tercengang melihat mereka berdua.

Sang guru bertanya “ Wahai muridku, mengapa orang-orang tercengang melihat kita” Murid menjawab “ Mereka mengatakan bahwa kita berdua orang yang mati perasaannya tidak berbelaskasih terhadap binatang karena kita berdua menaiki seekor keledai yang kecil sehingga terlihat sangat kepayahan”

Guru berkata” Kalau begitu kita ikuti kata orang-orang biar mereka berhenti mencemooh, kita berdua sama-sama jalan menuntun keledai” dan berlalulah mereka dihadapan orang banyak dan mereka tetap menjadi bahan pergunjingan orang.

Guru bertanya “ Wahai muridku apa kata orang-orang tentang kita”

Murid menjawab “ Mereka mengatakan kita orang bodoh yang tidak punya akal. Kita berdua berjalan kaki sedangkan disamping kita ada seekor keledai sebagai kendaraan tunggangan bagi orang yang bepergian”

Sang Guru berkata “ Muridku kalau begitu kita ikuti ucapan orang banyak, mari kita pikul keledai ini dan kita sama-sama jalan sehingga orang-orang tidak menggunjing kita lagi bahwa disamping kita sudah tidak ada kendaraan lagi” Kemudian mereka melalui orang banyak yang menertawakan mereka berdua.

Maka guru bertanya “ Mengapa mereka mentertawakan kita, apa kata mereka” Sambil menahan amarah murid menjawab “ Mereka mengatakan bahwa kita berdua orang gila”

Sang guru berkata” Wahai muridku inilah akhir dari perjalanan kita mengikuti apa kata orang, apapun yang kamu lakukan maka selalu terdapat kekurangan dimata orang karena kamu bukanlah makhluk yang sempurna, tetapi tidak dihadapan Allah ‘azza wa jalla, Dia memiliki segala kesempurnaan untuk memaafkan kekurangan hamba-Nya, selama hamba selalu memohon ampunan dan tidak berlaku syirik. Jika kamu berharap balasan dari manusia maka kamu akan kecewa tetapi jika kamu berharap pahala hanya kepada Allah maka kamu akan mendapati bahwa karinia-Nya begitu basar dan kamu akan puas(ridlo) selama-lamanya, inna wa’dallahi haq (sesungguhnya janji Allah itu benar). Lakukan sesuatu mengikuti kata hatimu sendiri yang selalu menyeru ke jalan yang benar dan jangan kau hiraukan perkataan orang-orang yang jahil (bodoh) dan berpalinglah dari orang yang dholim, dan Allah melarang kita berbuat riya’ dalam beramal (agar dilihat dan berharap penilaian manusia), lakukan segala hal yang baik karena Allah semata”.

Wallahu a’lam bissowwab. Mohon maaf atas segala kekurangan, semoga bermanfaat.

Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 31 Maret 2010 23:52

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *