FILM DAN POLITIK UNTUK NEGERI IBU PERTIWI

Ilustrasi rakyat menonton layar tancap di desa yang menayangkan film pahlawan membawa bendera Merah Putih, dikelilingi bayangan kapitalis dan iklan asing.
“Film sebagai cermin bangsa: rakyat menonton layar perjuangan, namun bayang-bayang kapital dan iklan asing terus mengintai di sekelilingnya.”

FILM DAN POLITIK UNTUK NEGERI IBU PERTIWI – Dalam Menyambut  Hari Film Nasional  30 Maret 2025, inilah persembahan karya syair dariku …

Di layar perak, bangsa ini berkaca—tapi kadang kaca itu retak, tergores iklan, ditutupi sponsor, dijual murah kepada investor asing yang lebih mencintai profit ketimbang nurani.

Oh film …

Engkau bukan sekadar hiburan murahan, engkau adalah cermin sejarah, engkau seharusnya menjadi kitab kedua setelah konstitusi, engkau bisa mengajarkan anak bangsa apa itu cinta tanah air, apa itu keberanian melawan penjajah, apa itu makna menjadi manusia merdeka.

Namun apa lacur? Engkau sering dijadikan boneka, tali sutra dipegang kapital, sutradara hanya bidak, aktor jadi pemanis, rakyat jadi penonton yang tertidur lelap di kursi bioskop ber-AC.

Ilustrasi rakyat menonton layar tancap di desa yang menayangkan film pahlawan membawa bendera Merah Putih, dikelilingi bayangan kapitalis dan iklan asing.
“Film sebagai cermin bangsa: rakyat menonton layar perjuangan, namun bayang-bayang kapital dan iklan asing terus mengintai di sekelilingnya.”

Film tentang pahlawan, kadang hanyalah pajangan. Sejarah dikuliti, dilapisi gula romantika, hingga perlawanan yang berdarah-darah terlihat seperti pesta dansa. Merdeka hanya kata manis, bukan peluh, bukan air mata, bukan darah yang menetes di bumi pertiwi.

Film tentang cinta bangsa, kadang hanya hiasan. Skenarionya ditulis untuk rating, bukan untuk kesadaran. Ketika layar menutup, ketika lampu menyala, penonton hanya berkata:

“Filmnya lucu, aktingnya bagus,”

tanpa bertanya: “Lalu apa yang harus kulakukan sebagai anak negeri?”

Aku tertawa getir, menyaksikan film-film nasionalisme dijadikan upacara seremonial, diputar setiap 17 Agustus di televisi yang sudah kehabisan ide. Para pejabat menonton sambil mengantuk, para siswa dipaksa duduk rapi, sementara nilai-nilai perjuangan hanya mampir sebentar, lalu pergi bersama iklan mie instan.

Ah, film— engkau bisa jadi guru,

tapi sering dipaksa jadi badut. Engkau bisa jadi senjata, tapi lebih sering jadi dagangan. Engkau bisa meniupkan api nasionalisme, tapi lebih sering jadi asap rokok yang memabukkan sesaat lalu hilang ditelan angin.

Satire ini untukmu, wahai bangsa layar: Mengapa kau biarkan film sekadar tontonan? Mengapa kau tidak menjadikannya tuntunan?

Apakah kau takut jika rakyat benar-benar sadar? Apakah kau khawatir jika layar membakar kesadaran, rakyat akan bertanya tentang keadilan, tentang tanah yang dijual murah, tentang hutan yang terbakar, tentang tambang yang dikuasai asing, tentang kursi empuk yang hanya dihuni dinasti politik

Film, kau bisa menjadi universitas rakyat.

Di sana rakyat belajar tanpa kuliah, tanpa buku, tanpa biaya mahal.

Hanya perlu tiket murah, atau layar tancap di alun-alun desa, dan bangsa bisa tercerahkan.

Bayangkan—jika setiap film berbicara tentang martabat,

tentang keberanian menolak korupsi, tentang keindahan gotong-royong, tentang bahaya perpecahan, tentang indahnya persatuan. Bukankah bioskop akan jadi kelas besar? Bukankah setiap penonton pulang dengan kepala yang terbuka, bukan sekadar dompet yang terkuras?

Baca Juga:

Tapi oh ironi, film sering tunduk pada selera pasar. Pasar yang dikuasai iklan, iklan yang dikuasai modal, modal yang dikuasai oligarki. Maka film berubah jadi komoditas, bukan kesadaran, bukan perjuangan. Kamera bergerak, tapi nurani berhenti.

Skenario selesai, tapi keadilan tak pernah ditulis.

Lampu menyala, tapi kegelapan tetap merajalela. Aku ingin film yang berani, yang mengupas borok bangsa, yang menelanjangi tirani, yang menyibakkan selubung korupsi.

Film yang membuat penonton menangis, bukan karena kisah cinta klise, tapi karena sadar betapa rapuhnya bangsa ini jika dibiarkan dijual murah.

Aku ingin film yang tajam, yang menusuk hati pejabat, yang membuat mereka gelisah setiap kali menonton, yang membuat mereka takut setiap kali hendak korupsi, karena sadar rakyat sedang menonton mereka dari layar lebar nurani.

Oh sineas, oh sutradara, jangan kau gadaikan pena emas itu untuk sekedar tepuk tangan festival.

 Ingatlah, setiap adegan adalah sejarah, setiap dialog adalah dakwah kebangsaan, setiap film adalah doa kolektif. Apakah kau ingin menulis doa palsu? Apakah kau ingin menipu generasi? Atau kau ingin menyalakan obor di tengah gelap bangsa ini? Film bukan hanya karya seni, film adalah senjata ideologi. Bangsa yang sadar hal ini, akan memproduksi film yang mendidik.

Bangsa yang lalai, akan dikuasai film impor yang menjejalkan budaya asing, membius generasi muda untuk melupakan sejarahnya sendiri.

Tertawalah kita bersama Marvel, menangislah kita bersama drama Korea, berlarilah kita bersama anime Jepang, sementara kisah pahlawan bangsa ditinggalkan berdebu di perpustakaan.

Satire ini terlalu nyata: kita lebih hafal nama Avengers daripada tokoh revolusi negeri.

Wahai bangsa layar, sadarilah: Film bukan sekadar layar lebar, ia adalah panggung kesadaran. Jika kau ingin bangsamu kuat, bangunlah film yang menanamkan martabat. Jika kau ingin bangsamu tercerai, biarkan film jadi penghibur kosong yang melalaikan rakyat.

Aku bermimpi, bioskop bukan lagi pusat belanja, melainkan pusat pencerahan.

Aku bermimpi, film-film Indonesia bukan hanya soal cinta yang patah, tetapi cinta tanah air yang utuh. Aku bermimpi, sutradara menulis dengan tinta darah sejarah, bukan sekadar tinta kontrak produser.

Wahai rakyat, jangan kau jadi penonton pasif. Jangan hanya tertawa, jangan hanya menangis, jangan hanya berkomentar di Instagram artis.

Tanyakan: apa makna film ini untuk bangsaku? Apa pesannya untuk negeriku? Apa yang harus kulakukan setelah keluar dari bioskop?

Satire ini adalah doa getir: Jika film terus dijadikan komoditas murahan, bangsa ini akan kehilangan cermin.

Generasi muda akan tumbuh tanpa arah, hidupnya dituntun sinetron dangkal, nasibnya diarahkan iklan, kesadarannya dijajah budaya impor. Namun jika film dijadikan senjata, bangsa ini bisa bangkit dari tidur panjang.

Film bisa menggugah nurani, film bisa membakar semangat, film bisa mengajarkan keberanian, film bisa mengingatkan siapa kita sebenarnya: anak negeri yang pernah dijajah, anak negeri yang pernah bersumpah setia, anak negeri yang harus menjaga tanah airnya.

Maka wahai sineas, jangan takut.

Tulis kebenaran di layar, meski produser menolak, meski bioskop enggan menayangkan, meski kritik datang bertubi-tubi. Sejarah akan mengingatmu sebagai pejuang lewat kamera.

Dan wahai penonton, jangan puas hanya dengan popcorn. Bawalah pulang pesan film, tanamkan dalam hati, jadikan ia bara perjuangan. Karena film hanyalah awal, kesadaranmu adalah akhir.

Film, oh film— kau bisa jadi satire, kau bisa jadi doa, kau bisa jadi senjata, atau sekadar candaan murahan. Semua tergantung bangsa ini: apakah ia mau menjadikanmu panggung kesadaran, atau hanya layar kosong yang menutup mata rakyat dari kenyataan.

Aku menulis satire ini agar kau tidak lupa: bangsa yang besar bukan hanya karena ekonomi, bukan hanya karena teknologi, tetapi karena budaya yang sadar, karena film yang jujur, karena rakyat yang menonton dengan hati yang terbuka. Dan semoga, suatu hari nanti, ketika layar terbentang, bukan sekadar lampu bioskop yang menyala, tetapi juga cahaya kesadaran bangsa yang tak pernah padam!

Desa Singasari

Minggu, 30 Maret 2025

10.08