Filantropuna (Kedermawananku/Welas Asihku)

Filantropuna (Kedermawananku/Welas Asihku)
Filantropuna (Kedermawananku/Welas Asihku)
Filantropuna (Kedermawananku/Welas Asihku)
Filantropuna (Kedermawananku/Welas Asihku)

Filantropuna

(Kedermawananku/Welas Asihku)

Saya merasa perlu merumuskan satu pendekatan baru dalam dunia filantropi.

Karena arus utama filantropi hari ini…

sudah terlalu jauh berubah.

Dari semangat memberi,

menjadi industri.

Dari niat tulus,

menjadi korporasi.

Bahkan ada yang membuka “kantor cabang”

untuk urusan derma.

Ada SOP-nya. Ada targetnya. Ada branding-nya.

Apakah itu buruk? Tidak selalu.

Tapi ada yang hilang.

Rasa.

Rasa bahwa memberi itu bukan karena lebih,

tapi karena peduli.

Kita bukan Tuhan.

Tak harus menunggu “lebih” untuk bisa berbagi.

Mazhab filantropina ini ingin menyampaikan:

kedermawanan bukan tentang kelebihan.

Tapi tentang kesanggupan hati.

Karena kalau menunggu kaya dulu,

kita bisa kelupaan.

Islam, lewat zakat dan haji, mengajari hal penting:

jadilah kuat, jadilah mampu.

Bukan untuk memamerkan keberhasilan.

Tapi agar bisa mengangkat yang tertinggal.

Level pertama dalam memberi:

adalah gaya funding barat.

Besar.

Terstruktur.

Penuh agenda.

Donor driven, kata anak LSM.

Terlalu banyak tuntutan.

Too much demanding.

“Bukan cuma dana,

nambah-nambahin jobdesc juga,”

keluh lembaga penerima.

Tapi ya begitu itu.

Tumbu ketemu tutup.

Yang satu berwatak ndoro,

yang satu berwajah bawahan.

Ndoro dan donor,

bedanya cuma satu huruf.

Dalam dunia NGO dan LSM,

relasi kuasa ini sudah jamak.

Donor sangat mendikte.

Recipient—terjajah.

Yang kerja keras:

para kuli intelektual.

Gelar doktor,

tapi menggarap proposal.

Mereka merasa sedang advokasi rakyat.

Padahal sedang melukis impian orang lain.

Rakyat jadi jauh.

Yang dekat: KPI donor.

Level kedua:

dunia filantropi Indonesia hari ini.

Tumbuh pesat.

Bak cendawan di musim hujan.

Filantropi di mana-mana.

Lembaga makin banyak.

Karena bangsa ini memang…

paling dermawan di muka bumi.

Bukan saya yang bilang.

The World Giving Index.

Tiga tahun berturut-turut:

Indonesia juara satu.

Tapi prestasi itu…

baru sebatas kantong.

Baru uang.

Belum sampai jiwa dan raga.

Padahal Islam bilang:

“Wajahidu bi amwalikum wa anfusikum.”

Berjuanglah dengan hartamu dan dirimu.

Maqom tertinggi dalam filantropi itu:

bukan donasi.

Tapi kerelawanan.

Volunteerism.

Bukan sekadar transfer.

Tapi transformasi.

Kerja nyata.

Bukan angka-angka.

Hadir bukan hanya di ATM,

tapi di lapangan.

Menghadapi ketidakadilan struktural.

Membela yang tertindas.

Itulah puncak filantropina.

Kedermawanan yang utuh.

Jiwa.

Raga.

Cinta.

Jagal Abilowo

Cantrik Pakem