
FENOMENA ROJALI : Rame Di Tempat, Sepi Di Transaksi – Akhir-akhir ini muncul fenomena “Rojali”. Apa dan siapa itu rojali? Yang jelas Itu bukan nama orang. Jangan-jangan kita termasuk dalam Rojali tersebut. Mari kita simak.
Fenomena Rojali sedang marak di Indonesia. Istilah ini sering berseliweran di media sosial, seperti twitter, Facebook, Tiktok dan Instagram. Rojali adalah singkatan dari Rombongan Jarang Beli. Mereka ramai-ramai datang ke pusat perbelanjaan, biasanya rombongan, tetapi sebagian besar tidak membeli atau berbelanja.
Hanya satu atau dua saja yang membeli, sementara yang lain hanya cuci mata, melihat-lihat barang atrau sekedar nongkrong saja.
Fenomena ini sekarang nyata dan menjadi tantangan tersendiri untuk para pelaku usaha di lapangan. Lalu kenapa fenomena itu terjadi?
Asal Mula Rojali
Rojali adalah sebutan untuk rombongan orang yang datang ke pusat perbelanjaan atau kedai , warung kopi, restoran atau kafe, tetapi jarang membeli.
Hanya segelintir orang yang bertransaksi, sementara yang lain, duduk, mengobrol ke sana kemari, nongkrong sambil meikmati wifi dan AC gratis. Biasanya rojali ini terdiri dari anak muda, pelajar atau mahasiswa.
Baca Juga:

Asal Muasal Narsistik: Kisah Tragis Narcissus https://sabilulhuda.org/asal-muasal-narsistik-kisah-tragis-narcissus/
Kapan istilah Rojali muncul?
Istilah rojali ini mulai popular sekitar pertengahan 2024. Saat itu sejumlah pemilik usaha membagikan keluhannya di media sosial seperti tiktok atau youtube atau Instagram. Mereka mengeluhkan kondisi kafenya saat itu.
Rojali di dominasi oleh para mahasiswa yang hanya memanfaatkan wifi untuk berdiskusi.
Banyak mahasiswa yang datang , tetapi hanya segelintir saja yang memesan makanan atau minuman. Mereka juga menggunakan tempat di kafe tersebut untuk berdiskusi. Selain itu mereka juga meninggalkan sampahnya dimeja kafe.
Siapa saja yang termasuk Rojali?
Yang termasuk rojali biasaya :
a. Pelajar atau mahasiswa yang mencari tempat yang nyaman berdiskusi atau mengerjakan tugas . prinsipnya irit tapi nyaman
b. Komunitas yang mencari wifi gratis
c. Kelompak pekerja yang hanya numpang duduk.
d. Pengunjung mal yang hanya cuci mata saja, atau sekedar butuh refreshing.
Jadi terkadang mall atau kafe rame sekali pengunjung. Akan tetapi sedikit terjadi transaksi jual beli. Kursi kafe penuh terisi tetapi yang duduk disitu tidak semua membeli, sehingga kalau ada pelanggan yang berniat membeli, menjadi mundur karena tidak kebagian tempat duduk.
Ini menyebabkan pelaku usaha kehilangan calon pembeli. Sehingga untuk pelaku usaha, berakibat pemasukan tidak seimbang dengan pengeluaran.
Sementara seperti biaya Listrik, wifi, ataupun AC tetap harus ditanggung. Sedangkan prinsip pembeli adalah raja membuat mereka tetap harus berlaku ramah dan menyenangkan.
Fenomena rojali ini sebenarnya merupakan sikap kehati-hatian masyarakat dalam membelanjakan uangnya, tetapi disisi lain hal ini menunjukkan kreatifitas masyarakat dalam mencari hiburan yang ramah, murah dan menyenangkan.
Akan tetapi sebaiknya timbul kesadaran dari masyarakat untuk tidak merugikan satu sama lain. Seandainya duduk di kafe setidaknyalah pesan 1 atau 2 menu walaupun sederhana. Demikian juga untuk pelaku usaha, mungkin bisa memmbuat paket hemat yang terjangkau.
Dan mungkin perlu ada aturan atau kebijakan untuk memesan menu hanya dari kafe tersebut. Dengan sama-sama menyadari hal tersebut, maka diharapkan semua berjalan seimbang dan lancar.
Baca Juga: Ketua Dekranasda Metro Silfia Naharani Ajak Masyarakat Jadi Rojali













