
Episode 2: Manuskrip Langka Jadi Saksi Pemberontakan PKI Di Madiun! – Masih membahas naskah kuno yang di temukan di Desa Sewulan, Madiun, ternyata manuskrip ini tidak hanya berusia ratusan tahun, tapi juga menjadi saksi sejarah pemberontakan PKI tahun 1948! Siapa sangka, benda tua ini pernah “menyaksikan” masa-masa paling kelam dalam sejarah Indonesia.
Saya kembali ngobrol dengan Gus Mama, keturunan dari Kyai Ageng Basyariyah. Beliau menceritakan bagaimana suasana pesantren di Madiun saat PKI menguasai wilayah tersebut. Banyak pesantren kala itu harus menyelamatkan kitab-kitab kuno, termasuk manuskrip yang sekarang ada di rumah beliau.
Baca Juga:

Episode 1: Penemuan Naskah Tua 300 Tahun Di Madiun, Belum Pernah Diliput Media! https://sabilulhuda.org/episode-1-penemuan-naskah-tua-300-tahun-di-madiun-belum-pernah-diliput-media/
Menurut cerita Mbah Baidowi, beberapa kitab sengaja di bawa ke Pesantren Gontor untuk di amankan. Ada juga yang dikirim ke tempat-tempat lain oleh para santri dan ulama agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Termasuk naskah-naskah yang kini ada di tangan keluarga Gus Mama.
Bayangkan, kitab tafsir, mushaf Al-Qur’an, dan naskah perjuangan ulama dari abad ke-18 ini berhasil bertahan melewati masa kolonial, revolusi kemerdekaan, bahkan kekacauan PKI.
Fakta ini membuat kita sadar bahwa naskah kuno bukan cuma benda mati, tapi juga saksi hidup sejarah bangsa. Dari situlah kita bisa melihat betapa pentingnya melestarikan warisan budaya dan spiritual dari leluhur.
Gus Mama juga berharap suatu saat ada penelitian lanjutan dari para ahli manuskrip, sejarawan, atau bahkan universitas, agar nilai-nilai sejarah dari naskah ini bisa di bagikan lebih luas lagi ke masyarakat.
Dan buat kamu yang penasaran dengan jejak PKI, next aku bakal ngajak kamu lihat langsung tempat G30S/PKI di Lubang Buaya, Jakarta Timur, di mana banyak hal mengerikan dari masa lalu di simpan.
Jadi, jangan cuma baca sejarah dari buku pelajaran. Kadang, sejarah itu tersimpan rapi di lemari tua, masjid kampung, atau rumah kyai. Dan tugas kita adalah menjaga, mencatat, dan menyebarkannya kembali.













