Episode 1: Perjuangan Pras Demi Empat Putranya

Episode 1: Perjuangan Pras Demi Empat Putranya
Episode 1: Perjuangan Pras Demi Empat Putranya
Episode 1: Perjuangan Pras Demi Empat Putranya
Episode 1: Perjuangan Pras Demi Empat Putranya

Episode 1: Perjuangan Pras demi Empat Putranya – Senja merangkak pelan di  sudut kota Yogyakarta, memeluk Pras dalam dinginnya bangku taman. Setelah sebulan terlantar di kota ini semenjak hijrah dari Bekasi.

Kini kontrakan sudah habis dan tidak ada tempat tinggal lagi, sudah seminggu lebih hidup menggelandang tidur di Emper toko dan taman kota.  Di sampingnya, empat pasang mata polos menatapnya, meminta harapan yang tak lagi ia miliki.

Reza, si sulung sebelas tahun, berusaha keras menutupi rasa lapar di balik wajah dewasanya. Shaka, sembilan tahun, sesekali mengusap perutnya yang kosong. Quandra, tujuh tahun, sibuk menggambar di tanah, seolah melarikan diri dari realitas.

Dan si bungsu, Zaki, yang baru tiga tahun, tertidur pulas dalam dekapan ayahnya, tak tahu betapa berat beban yang dipikul Pras.

Hidup telah menghempaskannya tanpa ampun. Usaha yang dulu menjulang tinggi kini tinggal puing. Sang istri pergi, meninggalkan Pras dan keempat putranya dalam badai kemiskinan. Beberapa hari terakhir, makanan adalah kemewahan yang tak terjangkau.

Rasa putus asa menggerogoti, bahkan pernah mendorongnya pada tindakan yang tak termaafkan. Ia pernah mencoba mengakhiri segalanya, meminum cairan pembersih lantai, berharap kegelapan menelannya.

Baca Juga:

Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun kembali, mendapati wajah-wajah mungil itu menatapnya penuh kekhawatiran. Mereka, malaikat-malaikat tak berdosa ini, tak pantas menanggung semua ini.

Perjumpaan yang Tak Disengaja

“Assalamualaikum, Mas!” Sebuah suara renyah membuyarkan lamunan Pras. Ia mendongak, melihat seorang pria tersenyum ramah. Itu Ragil, yang pernah tak sengaja bertemu dengannya saat Pras terpaksa menjual sarung tangan kiper Reza demi sepiring nasi.

Ragil tak tahu menahu beban Pras, namun matanya tak bisa berpaling dari sorot keputusasaan di wajah Pras dan kelaparan di mata anak-anaknya. Ia sering melihat mereka di taman, dan hatinya selalu tergerak. Beberapa kali, ia hanya bisa membantu membelikan makanan, tapi ia tahu, itu takkan menyelesaikan masalah.

“Waalaikumsalam,” jawab Pras  lirih.

“Anak-anak sudah makan, Mas?” tanya Ragil, tatapannya beralih pada keempat bocah itu.

Pras menggeleng pelan, malu menyelimuti.

Ragil menghela napas. “Mari ikut saya, Mas. Kita cari makan dulu.”

Malam itu, di sebuah warung sederhana, anak-anak Pras melahap makanan seolah tak pernah bertemu nasi. Air mata Pras menetes diam-diam, terharu melihat pemandangan itu, sekaligus merasa gagal sebagai seorang ayah.

Sambil menunggu anak-anak selesai makan, Ragil mencoba menggali cerita Pras. Dengan suara tercekat, Pras menumpahkan segalanya: tentang bisnisnya yang hancur, kepergian istrinya, dan betapa putus asanya ia hingga mencoba bunuh diri. Ragil mendengarkan dengan saksama, hatinya terenyuh.

“Mas, saya punya kenalan, seorang Kyai. Beliau sangat bijaksana dan sering membantu orang-orang yang kesulitan,” kata Ragil. “Mungkin beliau bisa membantu.”

Pras menatap Ragil tak percaya. “Benarkah, Mas?”

“Insyaallah. Saya yakin Allah yang menggerakkan saya untuk bertemu Mas dan anak-anak. Allah takkan membiarkan kalian sendirian.”

Ragil mengeluarkan ponselnya, mencari kontak Ki Pekathik. Ia sempat bimbang, tapi entah mengapa, hatinya lebih mantap kepada Ki Pekathik. Ia pun segera menghubungi beliau.

Pesan Kebaikan dari Ki Pekathik

Malam itu, ponsel Ki Pekathik bergetar. Sebuah pesan masuk dari Ragil.

[8/4 21.16] Ragil: Assalamu’alaikum pak yai, ingkang sepindah ngaturaken sugeng riyadi mawi dalem wonten lepat estu nyuwun lumuturing samudera pangaksami.

[8/4 21.16] Ragil: Ingkang nomer kalih estu dalem ngaturaken agunging panuwun sampun kersa nampung Pras dan putra putranipun.

Ki Pekathik tersenyum. Beliau baru saja selesai menerima Pras dan keempat putranya. Wajah letih Pras, mata penuh ketakutan Reza, rasa ingin tahu Shaka, kepolosan Quandra, dan Zaki yang tertidur pulas dalam pelukan Pras, semuanya masih terbayang jelas.

[8/4 21.17] Ragil: Estu kulo sak derenge nggih mboten tepang niku sinten.

[8/4 21.17] Ragil: Mungkin Allah yang menggerakkan untuk menolong anak anaknya.

[8/4 21.17] Ragil: Estu matur nuwun nggih yai.

Ki Pekathik mengetik balasan dengan tenang.

[8/4 21.18] Ki Pekathik: Islam bukan sekadar akidah yang diyakini, bukan hanya syariat yang dijalani. Islam adalah cahaya ilmu yang mencerdaskan, nafas budaya yang menghidupkan bangsa.

Ia adalah adab yang menyejukkan, peradaban yang mengangkat martabat insan. Islam adalah tamadun yang maju, dan risalah cinta bagi seluruh umat manusia.

Ragil membalas dengan emoji tangan berdoa. [8/4 21.18] Ragil: Estu nderek bungah kan lego 🙏

Ki Pekathik tahu persis apa yang dirasakan Pras. Beliau sudah banyak menangani orang-orang yang berada di ambang keputusasaan.

[8/4 21.23] Ki Pekathik: Pancen pun putus asa.

[8/4 21.24] Ki Pekathik: Alhamdulillah.

[8/4 21.24] Ki Pekathik: Insyaallah baik semua.

Ragil membalas lagi, menceritakan bagaimana ia mengantarkan Pras dan anak-anaknya ke pondok Ki Pekathik.

[8/4 21.24] Ragil: Beberapa kali saya hanya bisa bantu belikan makan buat anak anaknya, tak pikir kalo gak segera diberikan ke Ki Pekathik ra rampung rampung.

Mau wasap njenengan lih yai kok agak takut, akhirnya saya berikan nomer WA ke Pras sekalian lihat niat dan krentegnya, alhamdulillah di takdirkan Allah untuk ke sabilul huda.

[8/4 21.26] Ragil: Menghubungi hanya pas butuh minta tolong 😂

Ki Pekathik tersenyum. [8/4 21.26] Ki Pekathik: Tdk masalah to mas tugas hdp lung tinulung.

Pikiran Ki Pekathik sudah bergerak lebih jauh. Beliau ingin Pras tidak hanya sekadar bertahan, tapi bangkit.

[8/4 21.31] Ki Pekathik: Insyaallah besuk saya upayakan bantu cari kerja saya titipkan.

Namun, kemudian beliau berpikir ulang. Pras butuh dorongan untuk mandiri.

[8/4 21.32] Ki Pekathik: Saya mas Ragil itu kan hanya kesampiran takdir, ini adalah ketetapan yg hrs kita sikapi dg rasa sadar biso rumongso.

[8/4 21.33] Ki Pekathik: Anak2nya biar dipondok, bpknya berjuang.

[8/4 21.33] Ki Pekathik: Tdk usah mas, biar Pras bangkit semangatnya usaha mandiri.

Ragil setuju. [8/4 21.34] Ragil: Njih yai, itu dulu pernah sukses soalnya.

Ki Pekathik kemudian mengirimkan pesan yang menusuk, sengaja untuk membakar semangat Pras melalui Ragil.

[8/4 21.35] Ki Pekathik: Kalau putus asa, saya, siapkan pisau, sebelum bunuh diri, bunuh anak satu persatu terakhir kamu, aku saksikan.

Pesan itu mungkin terdengar kejam, tapi Ki Pekathik tahu, untuk orang yang sudah di ujung tanduk, kadang diperlukan kejutan ekstrem untuk menyadarkan.

Ragil membalas dengan pengakuan yang mengejutkan. [8/4 21.36] Ragil: Kemarin soalnya anak itu udah minum wipol, tapi gak mati.

[8/4 21.37] Ragil: Alhamdulillah ketemu saya gak sengaja gara gara saya beli sarung tangan kipernya.

[8/4 21.37] Ragil: Saya ya sempat pusing melihat anak anaknya.

[8/4 21.37] Ragil: Pikiran saya langsung ke Ki Pekathik, sepertinya yang paling welcome ya Ki Pekathik.

Ki Pekathik membalas dengan tenang. [8/4 21.37] Ki Pekathik: Saya dah banyak koq mas tangani org mau bundir.

[8/4 21.38] Ragil: Memang jalannya Ki Pekathik.

Ki Pekathik mengalihkan fokus ke anak-anak.

[8/4 21.39] Ki Pekathik: Anaknya langsung punya kawan sebayanya banyak.

[8/4 21.40] Ragil: Iya yai kasihan gak ada yang sekolah, buat makan sehari hari aja kemarin gak ada. Alhamdulillah.

Baca Juga: Pengabdian Anwar dan Kasidah Terakhir Bersama Abdul Kadir Jailani

[8/4 21.40] Ki Pekathik: Yg ruwet ortunya, anaknya tdk dosa.

[8/4 21.41] Ki Pekathik: Insyaallah utk.mkn dipondok berlimpah.

Bersambung