by bambang oeban
Tuhan ..
hentikan dunia
dalam tempo sejenak
supaya tiap hati dan pikiran,
mengiringi sikap laku manusia
tak menjadi bola mengambang
di tengah abad kian terguncang
oleh budidaya badai tabiat buruk
seakan sengaja menyuruh-MU,
untuk memporakporanda alam
menutup kehidupan semesta,
hanya cukup satu kata …
K I A M A T!
Tuhan, yang aku maksud bukan itu, melainkan dunia berhenti sejenak, bukan berhenti berputar, sebab bila bumi betulan berhenti, tulang-belulang politikus dan pengusaha akan melayang lebih dulu sebelum rakyat sempat bilang aduh.
Yang kumaksud adalah jeda kecil, ruang kosong seukuran satu hela napas, agar manusia mau membaca dirinya sendiri. Bukan membaca status, bukan membaca laporan keuangan palsu, bukan membaca wajah orang lain sambil menyiapkan pisau retorika, melainkan membaca hati nurani yang sebetulnya sudah lama mengirim surat pengunduran diri.
Kadang aku merasa Tuhan duduk di sudut langit, mengusap kepala-Nya sendiri, jengkel tapi sabar, menonton manusia berkeliaran dengan hati setengah hidup seperti lampu jalan yang jarang diservis. Ada yang menyala, ada yang meredup, ada yang kedip-kedip seperti mau memberi kode morse tapi malah bikin kecelakaan.
Manusia diberi gelar khalifah, penjaga bumi, penjaga keseimbangan. Gelar sakral, tapi diperlakukan seperti stiker diskon yang bisa ditempel di jidat siapa pun asal berani kampanye keras. Dan bumi? Ia berusaha bersahabat, seperti tetangga lama yang tetap menyapa meski sering dituduh macam-macam.
Tapi kita, manusia yang merasa lebih pandai dari sejarah, suka mengacuhkan sapaan itu. Kita malah mengeruk isi perut bumi tanpa minta izin, lalu bertanya-tanya kenapa ia batuk gunung api dan demam iklim.
Coba bayangkan: andai bumi bisa menulis surat. Barangkali ia akan berkata, “Tolong, manusia, berhenti pura-pura lupa bahwa yang kalian injak ini bukan kasur busa raksasa.” Namun, manusia sekarang sibuk sekali. Sibuk marah, sibuk membela opininya sendiri, sibuk merasa paling benar. Lalu kesibukan itu dijadikan dalih untuk tidak memikirkan apa pun selain egonya.
Baca Juga:
Di kota-kota besar, nurani sering diparkir di pinggir jalan, ditinggal pemiliknya yang buru-buru mengejar jabatan. Orang-orang berjalan cepat, langkahnya seperti huruf kapital yang berusaha mengalahkan satu sama lain. Mereka melintas tanpa menatap, seolah setiap pasang mata adalah paparazzi yang akan mencuri rahasia mereka.
Dunia seperti parade wajah tegang: manusia takut miskin, takut tidak dianggap, takut tidak dipuja. Tapi yang paling ironis: mereka tidak takut menjadi tidak manusiawi.
Aku melihat banyak orang kini bermental “setengah manusia”. Setengahnya lagi diisi ambisi, kepentingan, kalkulasi. Hatinya menyempit seperti lorong bus kota jam sibuk, susah ditembus akal sehat. Mereka bicara tentang moral sambil memindahkan uang negara ke rekening lain.
Mereka berkhotbah tentang kemanusiaan sambil menandatangani izin menebang hutan yang masih belajar tumbuh. Mereka bangga dengan gelar kehormatan, tapi abai pada kehormatan hati sendiri.
Dan lebih lucu lagi, dalam arti ironis, orang-orang seperti ini sering disebut tokoh. Tokoh masyarakat, tokoh bangsa, tokoh peradaban. Padahal jika kata “tokoh” punya mulut, ia mungkin sudah menggugat pencemaran nama baik. Sementara itu, rakyat kecil tetap menggembala harapan.
Ada petani di daerah pinggir gunung yang setiap malam memandangi langit, bukan untuk mencari tanda-tanda mistik, tapi menebak hujan. “Semoga esok turun,” katanya, padahal ia tidak tahu bahwa kebijakan air untuk desanya sedang diperdagangkan pada meja rapat yang membahas bonus akhir tahun.
Di pasar, pedagang kecil tetap berdiri tegak meski harga melesat seperti anak panah tak terkendali. Mereka tetap bekerja, karena perut tidak mengenal istilah resesi global. Perut hanya tahu lapar. Sementara kaum elite menulis pidato panjang tentang masa depan bangsa.
Katanya: “Harus maju!” Tetapi bagaimanapun ia dihias, pidato tidak pernah lebih dari gulungan kata tanpa kaki. Ia hanya berjalan sejauh pembacanya melangkah. Dan banyak pembaca pidato itu lebih sibuk melangkah menuju kepentingan pribadi.
Kadang aku merasa bahasa moral di negeri ini seperti kembang plastik: terlihat cantik, tapi tidak punya aroma apa-apa. Ia dipajang di mimbar, ditaruh di brosur, dicetak ulang di baliho, tetapi tak pernah ditanam di tanah perilaku. Kita terlalu sering menagih perubahan dari orang lain, tapi lupa membersihkan rumah sendiri dari debu ego.
Namun, mari kita tidak hanya mengutuk gelap. Lebih baik kita menyalakan lentera, meski kecil, meski cahayanya setipis garis senyum anak sekolah di akhir bulan.
Baca Juga:
PERTAMA
Manusia harus kembali belajar mendengar. Bukan mendengar untuk membalas, tapi mendengar untuk memahami. Di era bising seperti sekarang, mendengar adalah laku spiritual tersendiri. Dengarlah keluhan tetangga, suara angin yang mulai panas, sungai yang makin dangkal. Semua itu adalah pengumuman singkat dari bumi.
KEDUA
Belajar bersyukur tanpa menjadi pasrah. Syukur bukan alasan untuk berhenti bergerak, dan kritik bukan izin untuk membenci. Keduanya bisa jalan bersama seperti sepasang sandal yang saling membutuhkan. Ketika manusia hanya memakai satu, jalannya menjadi pincang. Kita butuh syukur agar tidak menjadi mesin keluhan, dan kita butuh kritik agar tidak menjadi mesin kesombongan.
KETIGA
Mulailah dari yang paling dekat: diri sendiri. Ini kalimat tua, tapi tetap benar. Orang suka menuntut pemerintah jujur, namun dirinya sendiri masih menutupi kebohongan kecil. Orang suka mencaci pejabat korup, tapi ia sendiri tidak mau mengantre dengan tertib. Perubahan besar itu seperti gempa: ia hanya terjadi bila banyak retakan kecil bergerak bersama.
Lihatlah,
misalnya, anak-anak kecil.
Mereka bermain di tanah tanpa takut kotor. Mereka tertawa karena hal-hal sederhana: lihat kupu-kupu, lihat bulan yang tampak seperti koin di langit, lihat bayangan sendiri. Mereka belum tahu arti politik, belum tahu harga sembako, belum tahu kenapa orang dewasa mudah marah.
Mereka hanya tahu satu hal: hidup itu seharusnya tidak serumit kalkulator yang tombolnya hilang satu.Tapi suatu hari nanti, anak-anak itu akan mewarisi dunia.
Pertanyaannya: apa yang kita serahkan kepada mereka? Apakah kita memberi mereka langit yang masih berniat menurunkan hujan, sungai yang masih mau mengalir dengan jujur, dan tanah yang belum kehilangan akarnya? Atau kita hanya memberi mereka kumpulan puing kesalahan dewasa—seolah berkata: “Nak, maaf ya… kami sibuk saling membuktikan siapa yang paling benar, jadi kami lupa menjaga rumahmu.”
Aku berharap dunia berhenti sejenak agar manusia bisa menyadari bahwa semua ini sementara. Jabatan sementara, kekuasaan sementara, popularitas sementara. Yang tidak sementara hanyalah dampak perbuatan kita. Banjir tidak sementara. Udara panas tidak sementara. Hutan gundul tidak sementara. Luka sosial tidak sementara.
Kadang aku ingin menulis pengumuman besar dan menempelnya di setiap gedung pemerintahan:
“Bumi ini bukan milik kalian saja. Jangan bertingkah seperti begitu.”
Tentu saja itu tidak sopan. Tapi kadang kesopanan memang kalah oleh kebutuhan untuk bicara apa adanya. Ada pejabat yang berkata, “Kami bekerja untuk rakyat.” Namun rakyat jarang merasa ikut menikmati hasil kerja itu. Jalan jalan di desa tetap berlubang seperti ingatan masa lalu.
Baca Juga: Kemhan Gelar Upacara Peringati Hari Sumpah Pemuda ke – 96
Harga pangan naik turun seperti emosional investor. Pendidikan semakin mirip lomba memanjat yang hadiahnya hanya untuk mereka yang punya tangga sendiri. Sementara televisi dan media sosial membuat semua orang menjadi komentator.
Mereka berteriak dari dalam layar, saling menunjuk, saling menuduh, saling menyeret satu sama lain ke lubang opini yang makin gelap. Di era ini, kebenaran sering kalah cepat dari sensasi. Kebenaran berjalan kaki, sedangkan sensasi naik motor tanpa plat.
Tuhan tidak meminta manusia menjadi suci. Tuhan hanya meminta manusia menjadi manusia—itulah amanah paling dasar. Tapi banyak yang gagal melakukannya. Mereka berjalan dengan hati setengah manusia dan pikiran setengah mesin kalkulator. Kepentingan pribadi dihitung dengan rumus yang rumit, tetapi kepentingan sesama ak pernah dimasukkan ke persamaan.
Padahal, bila kita mau jujur, dunia ini tidak meminta banyak dari kita: cukup jaga, cukup rawat, cukup hormati. Bumi tidak menuntut disembah. Ia hanya butuh ditemani dengan cara yang wajar. Tumbuhan ingin tumbuh, sungai ingin mengalir, angin ingin bergerak.
Alam punya caranya sendiri untuk hidup. Hanya manusia yang sering memaksakan kehendaknya seperti bos besar yang lupa bahwa ia hanya karyawan kontrak di planet ini.
Namun, jangan menyerah. Selalu ada ruang bagi perubahan. Selalu ada celah bagi akal sehat untuk menyelinap masuk. Di setiap kota, di setiap desa, selalu ada orang-orang yang bekerja diam-diam memperbaiki keadaan: guru yang sabar membimbing murid meski gajinya malu-malu, perawat yang tetap tersenyum meski jam kerjanya tidak wajar, relawan yang membersihkan sungai tanpa menunggu publikasi, seniman yang menulis pesan moral lewat karya tanpa mencari tepuk tangan.
Mereka adalah setetes harapan yang tidak memerlukan panggung. Bila kita punya lebih banyak orang seperti itu, dunia tidak perlu berhenti sejenak untuk membaca nurani kita—karena nurani itu sudah berbicara cukup keras lewat tindakan.
Dan kini sampailah pada bagian yang sering dihindari banyak orang: introspeksi. Ya, kata yang terdengar seperti obat pahit. Tapi tanpa itu, manusia hanya menjadi pengulang kesalahan dalam format yang lebih canggih. Introspeksi tidak membuat kita lemah—justru memperkuat. Ibarat membersihkan kaca, semakin jernih ia, semakin jelas masa depan terlihat.
Jadi, mari kita belajar menatap diri. Kita mulai dari pertanyaan pertanyaan sederhana:
Apakah kita sudah berperilaku sebagai penjaga bumi?
Apakah kita memperlakukan sesama dengan adil?
Apakah kita peduli pada yang lemah?
Apakah kita memilih jujur meski tidak ada yang melihat?
Apakah kita ingin dunia tetap layak ditinggali selepas generasi kita pergi?
Pertanyaan sederhana, tapi jawabannya bisa mengubah arah sejarah. Bumi tidak menunggu pidato. Ia menunggu tindakan. Dan manusia harus mulai belajar lagi: belajar rendah hati, belajar bersahabat dengan alam, belajar menjaga kepercayaan sesama manusia.
Jika satu orang mulai berubah, mungkin tidak terlihat. Tapi bila satu desa berubah, satu kota berubah, satu negara berubah maka dunia tidak hanya berhenti sejenak untuk membaca nurani kita. Dunia akan berjalan bersama kita, dengan langkah yang lebih baik, lebih jernih, lebih manusiawi.
Aku berharap kepada Tuhan, bukan untuk mengganti dunia secara ajaib. Yang kuharap adalah manusia diberi waktu, keberanian, dan kesadaran untuk membaca hati nurani masing-masing. Sebab ketika manusia kembali utuh, bukan setengah manusia—barulah amanah sebagai khalifah di muka bumi bisa terwujud sebagaimana seharusnya.
Dan saat itu tiba, barangkali untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—bumi akan tersenyum. Tidak dengan bibir, tentu saja, tetapi dengan musim yang kembali ramah, dengan sungai yang kembali jujur, dengan udara yang kembali segar seperti harapan yang tidak lagi takut dilupakan.
Sampai hari itu datang, kita tetap menulis. Kita tetap berdoa. Kita tetap bergerak. Karena perubahan tidak datang dari langit; perubahan datang dari hati nurani yang akhirnya BERANI DIBACA KEMBALI.
Dari Serang Timur
Kamis, 27 Nov 2025
02.34















