Dulu Musuh Nabi, Kini Wafat Mulia: Kisah Abu Sufyan Yang Menggali Kuburnya Sendiri

Dulu Musuh Nabi, Kini Wafat Mulia Kisah Abu Sufyan Yang Menggali Kuburnya Sendiri
Dulu Musuh Nabi, Kini Wafat Mulia Kisah Abu Sufyan Yang Menggali Kuburnya Sendiri

Dulu Musuh Nabi, Kini Wafat Mulia: Kisah Abu Sufyan yang Menggali Kuburnya Sendiri – Dalam sejarah Islam, banyak kisah para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang penuh pelajaran berharga. Salah satu kisah yang menggetarkan hati adalah kisah Abu Sufyan bin Al-Harits, sepupu Nabi sekaligus sahabat yang dikenal gigih membela Islam.

Namun, yang membuat kisahnya begitu mengharukan adalah bahwa ia pernah menjadi musuh Nabi selama puluhan tahun, hingga akhirnya Allah membimbingnya kepada hidayah. Lebih menakjubkan lagi, sebelum wafat, Abu Sufyan menggali kuburnya sendiri.

Dari Sahabat Dekat Menjadi Musuh

Abu Sufyan bin Al-Harits adalah sepupu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ayahnya, Al-Harits, adalah saudara kandung Abdullah, ayah Nabi. Keduanya berasal dari keturunan Abdul Muthalib. Abu Sufyan bahkan menjadi saudara sesusuan Nabi karena sama-sama disusui oleh Halimah As-Sa’diyah. Usia mereka sebaya dan tumbuh bersama di lingkungan Bani Hasyim.

Kedekatan ini membuat Nabi mengira Abu Sufyan akan menjadi orang pertama yang menerima dakwahnya. Namun, ternyata sebaliknya. Saat Nabi mulai mengumandangkan Islam, Abu Sufyan justru menentangnya dengan keras.

Ia menggunakan kemampuan bersyair untuk mencela Nabi, memprovokasi Quraisy, dan memimpin serangan terhadap kaum muslimin. Permusuhan ini berlangsung selama 20 tahun.

Dulu Musuh Nabi, Kini Wafat Mulia Kisah Abu Sufyan Yang Menggali Kuburnya Sendiri
Dulu Musuh Nabi, Kini Wafat Mulia Kisah Abu Sufyan Yang Menggali Kuburnya Sendiri

Awal Hidayah Abu Sufyan

Menjelang peristiwa Fathul Makkah, berita kedatangan Nabi dan pasukan muslimin membuat Abu Sufyan resah. Ia merasa tidak punya tempat untuk berlindung. Istrinya menasihatinya untuk memeluk Islam, mengingat seluruh Arab telah tunduk kepada Nabi. Hatinya pun luluh, dan ia memutuskan pergi menemui Rasulullah.

Namun, perjalanan menuju penerimaan tidak mudah. Saat pertama kali bertemu Nabi, beliau memalingkan wajah, enggan menatapnya. Para sahabat pun bersikap dingin, mengingat luka lama akibat permusuhan Abu Sufyan.

Bahkan, Umar bin Khattab sempat mengingatkan keras tentang dosa-dosanya di masa lalu. Meski demikian, Abu Sufyan tidak menyerah untuk mendapatkan maaf Rasulullah.

Pembuktian Saat Perang Hunain

Kesempatan besar datang saat Perang Hunain. Saat itu, pasukan muslimin sempat terdesak oleh serangan gabungan kabilah-kabilah Arab. Banyak yang mundur, meninggalkan Nabi.

Namun, Abu Sufyan tetap bertahan di sisi beliau, memegang pedang dengan gagah berani, melindungi Rasulullah dari serangan musuh.

Keberaniannya membuat Nabi bertanya kepada Al-Abbas, “Siapa dia?” Al-Abbas menjawab, “Itu sepupumu, Abu Sufyan bin Al-Harits.” Mendengar itu, Nabi memaafkannya seraya berdoa, “Semoga Allah mengampuni semua permusuhannya terhadapku.”

Abu Sufyan menangis haru, mencium kaki Nabi, dan sejak saat itu menjadi salah satu pembela Islam yang terdepan.

Baca Juga:

Kisah Sa’ad Bin Abi Waqqas Mengapa Dia Dijamin Masuk Surga

Kisah Sa’ad Bin Abi Waqqas: Mengapa Dia Dijamin Masuk Surga https://sabilulhuda.org/kisah-saad-bin-abi-waqqas-mengapa-dia-dijamin-masuk-surga/

Hidup Penuh Ibadah

Setelah mendapatkan maaf, Abu Sufyan berubah total. Ia menjadi sahabat yang taat, rajin beribadah, dan menjauhi kemewahan dunia. Nabi pernah bersabda kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Itu Abu Sufyan bin Al-Harits, orang pertama yang masuk masjid dan terakhir keluar darinya.”

Saking malunya kepada masa lalunya, ia bahkan enggan menatap wajah Nabi secara langsung.

Menggali Kuburnya Sendiri

Di masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Abu Sufyan merasa ajalnya semakin dekat. Dengan tenang, ia menggali kuburnya sendiri menggunakan kedua tangannya. Tiga hari kemudian, ia benar-benar wafat, seolah sudah berjanji dengan kematian.

Menjelang akhir hayatnya, ia berkata kepada keluarganya, “Jangan menangisiku. Demi Allah, sejak aku masuk Islam, aku tidak pernah melakukan kesalahan yang mencelakakan.”

Kepergiannya membuat Umar bin Khattab dan para sahabat sangat berduka. Mereka menganggap wafatnya Abu Sufyan sebagai kehilangan besar bagi umat Islam. Setelah masuk Islam, ia menjadi tokoh penting yang berpengaruh dan setia membela agama hingga akhir hayat.

Hikmah Dari Kisah Abu Sufyan bin Al-Harits

Kisah ini memberikan banyak pelajaran berharga:

Hidayah adalah anugerah Allah

Seburuk apa pun masa lalu seseorang, pintu taubat selalu terbuka jika Allah menghendaki.

Kesungguhan membuktikan perubahan

Abu Sufyan tidak hanya mengucap syahadat, tetapi membuktikan kesetiaannya dengan pengorbanan di medan perang.

Memaafkan adalah kemuliaan

Rasulullah memberikan teladan luar biasa dalam memaafkan musuh lamanya.

Persiapan menghadapi kematian

Menggali kuburnya sendiri menunjukkan kesadaran Abu Sufyan akan kefanaan dunia dan kesiapan bertemu Allah.

Semoga kisah sahabat Nabi yang menggali kuburnya sendiri ini menjadi pengingat bahwa setiap kita bisa berubah menjadi lebih baik, selama ada tekad dan doa yang tulus.

Baca Juga: Jabal Uhud Saksi Bisu Perang Uhud