Berita  

Dua Perusahaan Rokok Stop Beli Tembakau – Petani Dan Ekonomi Daerah Terancam

Dua Perusahaan Rokok Stop Beli Tembakau - Petani Dan Ekonomi Daerah Terancam
Dua Perusahaan Rokok Stop Beli Tembakau - Petani Dan Ekonomi Daerah Terancam
Dua Perusahaan Rokok Stop Beli Tembakau - Petani Dan Ekonomi Daerah Terancam
Dua Perusahaan Rokok Stop Beli Tembakau, Petani Dan Ekonomi Daerah Terancam


Dua Perusahaan Rokok Stop Beli Tembakau, Petani dan Ekonomi Daerah Terancam – Dunia pertanian tembakau di guncang dengan kabar yang mengejutkan. Dua perusahaan rokok kretek besar, PT Gudang Garam dan Nojorono.

Telah menghentikan pembelian tembakau dari petani, khususnya di wilayah Temanggung, Jawa Tengah.

Keputusan ini di sorot tajam oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Agus Parmuji.

Menurut Agus, keputusan ini bukan hanya berdampak pada petani saja, tetapi juga menjadi kabut hitam bagi perekonomian nasional.

Pasalnya, tembakau dari daerah seperti Temanggung selama ini telah menyumbang perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar bagi ekonomi lokal hingga nasional.

Baca Berita Berikut:

Ia membeberkan bahwa sekitar 700.000 hingga 1.000.000 keranjang tembakau biasanya di serap oleh Gudang Garam setiap musim panen. Tembakau ini datang dari enam kabupaten, yakni Temanggung, Wonosobo, Kendal, Magelang, Boyolali, dan Kabupaten Semarang.

“Kalau satu keranjang saja di hargai Rp2,5 juta, maka potensi uang yang beredar bisa mencapai Rp2,5 triliun”, ungkap Agus.

Namun kini, karena penghentian pembelian tersebut, potensi dana yang mengalir ke masyarakat petani bisa hilang hingga Rp1,75 triliun. Bukan hanya petani yang terkena imbas, tetapi juga sektor lain yang terhubung langsung, mulai dari buruh tani, pengepul, sampai UMKM lokal.

Agus menambahkan, keputusan dua pabrikan besar ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi  pemerintah. Jika masalah ini tidak segera di carikan solusi, maka ribuan kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari tembakau akan terdampak secara langsung.

Bahkan terancam kehilangan mata pencahariannya.

Keprihatinan Pimpinan APTI

Keprihatinan ini mencuat seiring belum adanya jaminan apakah perusahaan lain bersedia menyerap tembakau dalam jumlah besar. “Kami bukan menuntut, kami hanya ingin suara petani di dengar. Ini bukan soal tembakau saja, tapi soal perut ribuan keluarga”, tegasnya.

Di tengah krisis pangan dan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, kabar ini menjadi Peringatan keras terutama di sektor pertanian yang harus di lindungi. Bukan justru di biarkan begitu saja sampai tenggelam dalam ketidakpastian dari pemerintah.

Baca Juga: Industri Rokok Nasional Turun, Legislator Khawatir Berdampak ke Tenaga Kerja