Hujan sedari pagi tak lelah turun meski gerimis kecil. Sedari pagi pula Dina masih berkutat dengan handphonenya hingga petang ini. Terlihat muka serius Dina yang sedang fokus membalas pesan-pesan di group chat. Bahkan kehadiran sang kakak tidak disadari oleh Dina.
“Din… Udah dulu, mandi sana bentar lagi maghrib”. Kata kakak Dina sembari menutup jendela kamar Dina.
“Hmmm ya kak, bentar lagi”. Kata Dina tanpa menoleh.
Mendengar jawaban Dina, sang kakak berlalu meninggalkan kamar. Kakak Dina bernama Rina. Sungguh sebuah anugerah bagi Dina memiliki kakak yang tak pernah lelah untuk terus mengingatkannya pada hal yang seharusnya ia lakukan. Namun, gadis berusia enam belas tahun itu sedang senang-senangnya mengikuti trend. Hari-harinya tak pernah lepas dari layar handphone dan kasur empuknya demi mencari tahu berbagai informasi atau sekedar bergelut dengan media sosialnya. Tak ketinggalan pula berbagai group ia ikuti demi mendapat info yang bisa mendukung keinginannya. Entah dalam sehari, dua hari atau lebih pasti ada barang baru yang ia beli.
Maklum saja, Dina adalah anak bungsu yang terlalu dimanja oleh kedua orangtuanya. Apa yang Dina minta pasti diberi walau harus mengeluarkan banyak biaya. Seperti sore itu, bukannya bergegas mandi seperti yang kakaknya ingatkan. Dina justru menuju kamar kedua orangtuanya meminta dibelikan barang branded import dari Korea.
“Mama cantik…. Dina mau ini”. Kata dina dengan nada manja sambil memperlihatkan layar handphone yang menunjukkan jaket ala Korea.
“Wah bagus itu, tapi kok mahal banget Din!” Protes Mama Dina.
“Lah ini kan barang branded import dari Korea ma, wajar aja kalau mahal. Beliin ya maaa… Plisss!!!” Pinta Dina
“Duh… Mama lagi bokek, ga ada uang segitu. Beli yang murah aja di pasar banyak lhoo. Nggak kalah mirip-mirip lah sama jaket itu. Kalau nggak coba aja minta sama papamu”. Saran Mama Dina.
“Ah aku maunya yang ini titik!!! Ya udahlah aku minta ke papa aja. Eh, papa kemana sih ma?” Tanya Dina
“Noh… Lagi benerin laptop di ruang kerja”. Jawabnya menunjuk ke arah pintu.
Tak menunggu lama, Dina pun bergegas hendak menuju ruang kerja. Belum sampai di ruang kerja papanya, Dina sudah melihat sosok papanya tengah duduk di ruang tamu beserta kakaknya. Dina penasaran dengan obrolan mereka yang begitu serius. Dina pun cepat-cepat menuju ruang tamu.
“Iya pa, saya sadar dan tau selama ini Dina kebanyakan beli barang, main hp terus, susah dibilangin… Tapi saya juga nggak pernah sekalipun lupa untuk mengingatkan dia”. Kata kakak Dina sambil berurai air mata.
Dina yang mendengar pembicaraan mereka dibalik pintu merasa ada yang aneh dengan kata-kata kakaknya. ‘kok kakak sopan banget sih bicaranya, mana lagi ghibahin aku pula… Pasti ada yang ga beres nih’ batin Dina.
“Itu dah jadi kewajiban kamu Rin, ingat! Posisi kamu dikeluaga ini tak lebih dari anak angkat. Saya terima kamu disini sebab saya mendapat amanah dari almarhum kedua orangtuamu. Saya sungguh minta tolong padamu untuk bisa membimbing anak saya!!! Saya nggak tega kalau melihat Dina meminta ini itu tapi nggak saya berikan. Lain dari kamu yang selalu bisa menahan hal-hal yang emang ga kamu inginkan. Dia anak saya, kamu juga anak saya. Tapi rasa kecewa selalu hadir tiap kali saya lihat anak kandung sendiri ga saya turutin kemauannya”. Ujar papa Dina panjang lebar.
“Iya pa Rina akan selalu ingat hal itu, tapi bolehkah Rina nanti jika sudah selesai kuliah izin keluar dari keluarga ini untuk merantau di kota asal saya?” Pinta Rina.
“Baiklah tapi saya harap kamu pikirkan hal itu lebih matang dulu. Jangan sampai kamu gegabah dan nantinya malah bikin masalah yang nggak kita inginkan yaaa!” Kata papa Dina
“Terimakasih banyak pa, atas semua kasih sayang yang pernah papa beri untuk saya. Saya mohon maaf jika selama ini tidak bisa membuat papa senang dan kecewa banyak atas ketidaksadaran diri saya di keluarga ini…” Kata Rina sebelum beranjak menuju kamarnya.
Dina yang sedang mencuri dengar, tak bisa berkutik lagi menyadari bahwa kakaknya bukan anak kandung dari kedua orangtuanya. Ia baru sadar jika memang selama ini, kakaknya itu tak pernah berbuat kesalahan. Ia selalu melihat sang kakak yang perfect, teguh pendirian dan tak pernah cengeng apalagi merengek meminta dituruti semua kemauannya seperti ia. Dina juga merasa bersalah begitu menyadari semua sikapnya selama ini yang tak pernah menghiraukan ajakan atau nasihat dari kakaknya itu.
Yang Dina lakukan selama ini juga demi bisa menarik perhatian kedua orangtuanya. Ia ingin seperti kakaknya. Namun sungguh terasa berat Dina rasakan manakala memaksakan dirinya melakukan perubahan itu. Sehingga membuat ia bermalas-malasan dan melampiaskan segala ketidakberdayaannya dengan berbelanja, main hp sampai lupa waktu dan tak sedikitpun mengindahkan semua hal yang ada disekitarnya. Ia pikir dengan begitu, tak ada lagi rasa iri yang ia rasakan disaat melihat semua kesempurnaan kak Rina.
Kini Dina sadar jika apa yang ia lakukan sungguh salah. Ia justru membuat kakaknya itu kena marah oleh papanya. Gara-gara ia, kak Rina ingin merantau kembali ke asalnya. Ia pun berjanji mulai saat itu untuk tidak lagi berbuat seenaknya. Ia akan merubah semua sikap buruknya dan ia juga akan berbicara pada kakaknya untuk tetap tinggal di rumah ini. Saat itu juga, Dina ingat bahwa tadi kakaknya meminta ia untuk segera mandi. Ia pun bergegas balik arah dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Adzan Maghrib berkumandang merdu mengiringi langit senja yang berubah gelap. Dina dan keluarga, bersiap-siap untuk melaksanakan salat Maghrib berjamaah. Mama Dina yang biasanya harus berteriak memanggil anak manjanya, merasa terharu melihat Dina yang sudah lebih dulu ada di mushola rumah.
“Eh anak mama sudah di sini, baru aja mama mau teriak panggil kamu!” Kata mama.
“Hehe… Iya dong ma… Kan Dina mau berubah jadi lebih baik lagi”. Jawab Dina.
Tak berapa lama, papa dan kak Rina datang menyusul dibelakang mama. Mereka pun melaksanakan salat maghrib dengan khusyu.
Beberapa menit kemudian usai salat dan berdoa, Dina meminta maaf pada semua keluarganya atas sikap buruknya. Ia mengatakan pada mereka bahwa ia berjanji akan mengubah semua sikap buruknya selama ini. Suasana pun berubah menjadi syahdu penuh rasa haru. Terlebih lagi ketika Dina meminta Rina untuk tetap tinggal di rumah. Melihat adegan itu, papa dan mama Dina tak kuat menahan tawa. bahkan Rina kakak Dina pun akhirnya ikut tertawa terbawa suasana yang mulai pecah oleh tawa.
Dina yang melihat mereka bertiga tertawa-tawa padahal ia sungguh-sungguh serius berkata, merasa bingung dengan ulah mereka.
“Lho… Kok malah pada ketawa, salah ku apa coba?” Tanya Dina
“Haduh Dina emang siapa yang mau pergi, orang kakamu itu nggak kenapa-kenapa kok kamunya pakek nahan buat ga pergi?” Tanya mama
“Lah tadi pas akau mau minta papa buat beliin jaket aku denger kakak minta maaf terus bilang mau merantau gitu…???” Jelas Dina kebingungan
“Bwahaha…. Jadi gini lho ma, tadi tu sebenernya aku sama Rina lagi akting buat tugas drama yang mau dibikin sama temen-temen kuliah Rina. Lha terus itu kan ceritanya tentang derita seorang kakak tiri. Rina jadi tokoh utamanya itu. Nah ada bagian yang dia harus ngomong gitu sama papanya si anak kandung. Eh kebetulan papa lewat, liat Rinanya akting jelek banget ya udah tak bantuin”. Terang papa
“Ih iya bener gitu ma, tadi aku juga liat sih pas beranjak mau ke kamar ada Dina nyempil di pintu. Tapi aku biarin deh. Hehehe… Aku tadi pakek nama Dina tuh, abis mirip kali sifatnya kayak kamu Din. Yaa udah deh sekalian biar dapet feel-nya gitu. Eh ga taunya Dina ngira itu beneran. Hihihi…” Tambah Rina.
“Eits tapi mama seneng lho Din, kamu ngomong gitu…. Itu beneran kan kamu mau berubah? Kamu udah janji lhoo”. Harap mama
“Duh, kalau tau akting gitu kok kaya beneran sih. Kan baper akunya!!!” Kata Dina tak terima
“Lah yang namanya akting tu ya harus menjiwai. Tadi kamu ga liat sih pas aku tetesin obat mata, rasanya perih banget. Makanya aku tadi langsung buru-buru ke kamar buat ambil tisu”. Kata Rina membela diri.
“Sudah.. sudah… Gimana nih Din? Hijrah beneran yaa…” Kata mama memastikan.
“Insya Allah ma… Dina bakal berusaha buat lebih baik. Tapi…”
“Tapi???” Kata Papa, Mama dan Rina penasaran
“Beliin jaketnya ya pa… Itu jaket yang lagi trend di Korea. Ini yang terakihr kok pa, ma, kak…” pinta Dina sambil memamerkan senyum manisnya.
“Astaghfirullah…. Dah yok makan…. makan!!!” Canda Mama sembari berdiri dan berjalan menuju ruang makan.
“Hhhh hijrah yang bener baru tak bolehin deh beli jaket itu…” Kata papa beranjak berdiri menyusul mama.
“Duhh wes angel… angel…” Kata kak Rina sambil menirukan aksen kata yang sedang viral diucapkan di video-video trend saat ini.
Dina pun hanya bisa nyengir melihat respon keluarganya. Biarpun nyatanya ia salah sangka dengan akting kakak dan papanya, namun di dalam hatinya tetap melekat kuat janji yang ia ucapkan untuk berhijrah.***
(Isnawati)













