Dongeng Legendaris  Si Pahit Lidah Dan Si Empat Mata Dari Sumatra Selatan

Dongeng Legendaris  Si Pahit Lidah Dan Si Empat Mata Dari Sumatra Selatan
Dongeng Legendaris  Si Pahit Lidah Dan Si Empat Mata Dari Sumatra Selatan
Dongeng Legendaris  Si Pahit Lidah Dan Si Empat Mata Dari Sumatra Selatan
Dongeng Legendaris  Si Pahit Lidah Dan Si Empat Mata Dari Sumatra Selatan

Dongeng Legendaris  Si Pahit Lidah dan Si Empat Mata dari Sumatra Selatan – Dahulu kala, di tanah Sumatra bagian selatan yang masih berupa hutan lebat dan desa-desa kecil. Hiduplah dua orang sakti yang kekuatannya melebihi manusia biasa.

Mereka bukan sekadar orang kuat keduanya punya kesaktian yang mampu mengubah alam, membelah bukit, atau bahkan merubah manusia menjadi batu.

Yang pertama bernama Serunting Sakti, namun lebih dikenal sebagai Si Pahit Lidah. Julukan itu bukan tanpa alasan. Konon, apa pun yang ia ucapkan bisa menjadi kenyataan. Bila ia berkata “jadilah batu,” maka jadilah. Jika ia murka dan mengutuk, maka siapa pun bisa berubah bentuk.

Yang kedua adalah Aria Tebing, seorang pendekar sakti dari dataran tinggi yang memiliki penglihatan tajam melebihi manusia biasa.

Ia disebut Si Empat Mata, karena katanya ia bisa melihat hal-hal yang tak kasat mata. Mata batinnya terbuka, bisa membaca niat orang lain dan menembus rahasia semesta.

Keduanya sebenarnya bersaudara ipar. Aria Tebing menikah dengan adik perempuan Si Pahit Lidah. Tapi hubungan keluarga itu tak cukup kuat menahan api persaingan antara mereka.

Baca Juga:

Perselisihan yang Membara Antara Si Pahit Lidah Dan Si Empat Mata

Semula hubungan mereka baik. Mereka sering berburu bersama, mendaki bukit, bahkan bertukar ilmu. Namun seiring waktu, mereka mulai merasa iri satu sama lain. Si Pahit Lidah menganggap kekuatan ucapannya lebih berbahaya, sementara Si Empat Mata merasa penglihatannya lebih bijaksana dan suci.

Suatu hari, terjadi perdebatan kecil yang memicu permusuhan besar.

“Kau hanya bisa melihat, tapi aku bisa membuat dunia berubah dengan kata-kataku!” ucap Si Pahit Lidah.

“Tapi kata-katamu penuh emosi dan dendam. Tak semua yang bisa kau ubah layak diubah,” balas Si Empat Mata.

Perdebatan itu semakin panas hingga akhirnya Si Pahit Lidah berkata, “Kalau begitu, mari kita buktikan. Kita adu kekuatan. Lihat siapa yang lebih mampu menguasai tanah ini!”

Si Empat Mata mengangguk tenang. “Baik. Tapi ingat, kutukan bisa membekas bukan hanya di tanah, tapi juga di hati.”

Pertarungan Kutukan

Keesokan harinya, dua tokoh sakti itu berdiri di atas dua bukit yang saling berhadapan, memandang hamparan alam yang luas. Di bawah mereka, terbentang desa-desa kecil, sungai-sungai jernih, dan hutan yang belum disentuh tangan manusia.

Pertarungan mereka bukan dengan senjata, tapi dengan kekuatan spiritual—kutukan dan penglihatan.

Si Pahit Lidah melafazkan kutukan pertama. “Bukit di hadapanku, pecahlah dan jadilah danau!”

Seketika, bumi bergetar. Bukit itu terbelah, dan dari celahnya muncul mata air besar yang mengalir deras, menenggelamkan lembah. Danau yang luas pun terbentuk, kini dikenal sebagai Danau Ranau.

Tak mau kalah, Si Empat Mata menatap ke arah utara dan mengangkat tangannya. “Wahai pohon-pohon, tumbuhlah tinggi dan jalinlah akarmu seperti jaring penjaga desa!”

Dalam sekejap, hutan di daerah itu tumbuh lebat dan rapat. Daerah tersebut kini di kenal sebagai Hutan Bukit Barisan, membentang seperti pagar alami.

“Jika begitu,” seru Si Pahit Lidah, “aku akan jadikan desa yang sombong itu menjadi batu!”

Ia menunjuk sebuah kampung yang dulu menolak menyambutnya karena ia terlihat lusuh dan tak di kenal. “Jadilah batu seluruhnya!”

Tiba-tiba, seluruh desa membatu. Rumah, manusia, hewan, semuanya menjadi batu hitam. Warga percaya, itulah asal-usul Batu Raja.

Si Empat Mata menunduk pilu. “Kau terlalu mudah marah, Serunting. Kekuasaan bukan alat pembalasan.”

“Dan kau terlalu banyak bicara, Aria. Mari kita lihat siapa yang benar di akhir cerita.”

Kutukan Yang Membekas

Persaingan mereka terus berlanjut. Mereka menandai tanah dengan kekuatan mereka. Jika Si Pahit Lidah mengutuk sungai agar tak pernah kering, Si Empat Mata memberkahi lembah agar selalu hijau.

Tapi kekuatan mereka tak hanya membentuk alam. Lama-kelamaan, rakyat mulai ketakutan. Desa-desa menjadi tegang. Anak-anak tak berani bermain di luar rumah. Mereka takut berkata salah di hadapan Si Pahit Lidah, dan takut di selidiki niatnya oleh Si Empat Mata.

“Bumi ini tak kuat memikul dua orang yang terlalu sakti namun tak bersatu,” kata seorang kakek bijak dari pedalaman.

Akhirnya, para sesepuh dari berbagai desa berkumpul dan memohon agar kedua tokoh itu berdamai.

Pertemuan di Puncak Gunung

Di atas puncak gunung tertinggi, mereka di pertemukan kembali. Si Pahit Lidah datang dengan sorot mata tajam, Si Empat Mata datang dengan langkah tenang.

Seorang sesepuh berkata, “Wahai dua manusia terpilih. Tanah ini tak butuh kutukan atau ramalan. Tanah ini butuh kasih sayang dan keseimbangan. Jika kalian terus bertarung, maka bumi sendiri akan menangis.”

Si Pahit Lidah menatap saudaranya. Untuk pertama kalinya, ia melihat kelelahan dan kesedihan di mata Si Empat Mata.

“Aku mengutuk banyak hal,” katanya lirih. “Tapi kutukan terbesarku adalah hatiku sendiri yang penuh kemarahan.”

Si Empat Mata tersenyum. “Dan aku terlalu lama melihat kesalahan orang lain, hingga lupa menundukkan egoku sendiri.”

Akhirnya mereka saling bersujud dan berpelukan. Sebagai tanda damai, mereka memutuskan untuk meninggalkan dunia ramai dan bertapa di dua tempat berbeda. Si Pahit Lidah menghilang ke arah barat, dan Si Empat Mata pergi ke arah timur.

Mereka tidak pernah muncul lagi. Tapi jejak mereka abadi dalam bentuk bukit, sungai, dan batu-batu aneh yang tersebar di Sumatra Selatan.

Warisan Untuk Generasi Setelahnya

Masyarakat setempat meyakini, banyak nama tempat di Sumatra Selatan lahir dari persaingan dua orang sakti ini. Bukit yang terbelah, desa yang membatu, dan sungai yang tak pernah kering adalah bagian dari kisah tersebut.

Di beberapa daerah, masih ada tradisi lisan yang menceritakan bagaimana Si Pahit Lidah menyesali kutukannya, dan bagaimana Si Empat Mata menjadi pertapa yang di hormati.

Anak-anak diberi pesan oleh orang tua mereka:

“Jangan sembarang bicara, karena kata-kata bisa menyakiti. Dan jangan sembarang menilai, karena mata hati pun bisa salah.”

Pesan Moral Dari Dongeng Ini:

1. Kekuatan harus diiringi kebijaksanaan.

Baik kata-kata maupun penglihatan batin, jika tidak di kendalikan, bisa membawa kehancuran.

2. Persaingan tanpa kasih sayang akan merusak segalanya.

Bukannya membangun, justru menghancurkan.

3. Kata-kata memiliki kekuatan besar.

Maka gunakanlah untuk kebaikan, bukan untuk menghancurkan.

4. Pengampunan dan kerendahan hati menyembuhkan lebih banyak daripada kutukan.

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Doa Akhir Dongeng

اللَّهُمَّ عَلِّمْ أَبْنَاءَنَا حِكْمَةَ الْكَلِمَةِ، وَاجْعَلْ لِسَانَهُمْ طَيِّبًا، وَنَظَرَهُمْ نَقِيًّا، وَقُلُوبَهُمْ مَلِيئَةً بِالرَّحْمَةِ، وَابْعِدْهُمْ عَنِ الْغَضَبِ وَالْكِبْرِ، وَاجْعَلْهُمْ دُعَاةَ سَلَامٍ وَمَغْفِرَةٍ فِي الْأَرْضِ.

Latin:

Allāhumma ‘allim abnā’anā ḥikmata al-kalimah, waj‘al lisānahum ṭayyiban, wa naẓarahum naqiyyā, wa qulūbahum malī’atan bi al-raḥmah, wa ab‘id-hum ‘ani al-ghaḍabi wa al-kibri, waj‘alhum du‘āta salāmin wa maghfirah fī al-arḍ.

Artinya:

“Ya Allah, ajarkanlah kepada anak-anak kami kebijaksanaan dalam berkata, jadikanlah lisan mereka penuh kebaikan, pandangan mereka bersih, dan hati mereka di penuhi kasih sayang. Jauhkan mereka dari amarah dan kesombongan, dan jadikan mereka pembawa kedamaian dan pengampunan di bumi”.

Oleh: Izzayumna