Dongeng Cindelaras Dan Ayam Ajaibnya Legenda Dari Jawa Timur

Dongeng Cindelaras Dan Ayam Ajaibnya Legenda Dari Jawa Timur
Dongeng Cindelaras Dan Ayam Ajaibnya Legenda Dari Jawa Timur
Dongeng Cindelaras Dan Ayam Ajaibnya Legenda Dari Jawa Timur
Dongeng Cindelaras Dan Ayam Ajaibnya Legenda Dari Jawa Timur

Cerita Dongeng Cindelaras dan Ayam Ajaibnya Cerita Legenda Dari Jawa Timur – Dahulu kala, di tanah Jawa Timur yang subur, berdirilah sebuah kerajaan besar bernama Jenggala. Rajanya, Prabu Raden Putra, memerintah dengan adil dan bijaksana.

Ia memiliki dua permaisuri, namun hanya satu yang benar-benar ia cintai, yaitu Permaisuri Pertama, wanita lembut yang setia dan berhati mulia.

Namun Permaisuri Kedua merasa iri dan tidak senang melihat kasih sayang sang raja tertuju kepada istri pertamanya. Dengan kelicikan dan bantuan tabib istana yang jahat, ia menuduh Permaisuri Pertama telah meracuni sang raja.

Sang raja yang murka tidak sempat menyelidiki kebenaran tuduhan itu. Ia hanya melihat racun di cawan yang di bawakan oleh Permaisuri Pertama, padahal racun itu sengaja di taruh oleh sang tabib atas suruhan istri kedua.

“Buang dia ke hutan! Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi!” perintah sang raja dalam amarah.

Pengawal kerajaan membawa Permaisuri Pertama jauh ke tengah hutan. Namun karena merasa kasihan, mereka tidak membunuhnya. Mereka meninggalkannya hidup di pondok kecil dekat lereng gunung.

Kelahiran Cindelaras

Tak lama setelah pengasingannya, Permaisuri Pertama melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Cindelaras. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas, rajin, dan berani, meskipun hidup hanya bersama ibunya di tengah hutan.

Cindelaras sering membantu ibunya mencari kayu bakar, memancing ikan, dan memetik buah hutan. Meski hidup sederhana, mereka penuh kasih sayang dan tidak pernah mengeluh.

Suatu hari, saat Cindelaras sedang mengumpulkan ranting di hutan, seekor elang besar terbang rendah dan menjatuhkan sebuah telur aneh yang bersinar kekuningan.

Baca Juga:

Dongeng Keong Mas Cerita Legenda Dari Jawa Timur

Dongeng Keong Mas Cerita Legenda Dari Jawa Timur https://sabilulhuda.org/dongeng-keong-mas-cerita-legenda-dari-jawa-timur/

“Wah, telur apa ini?” tanya Cindelaras.

Ia bawa pulang dan menetaskan telur itu di bawah tumpukan jerami hangat. Beberapa minggu kemudian, keluarlah seekor anak ayam jantan berwarna emas dengan sorot mata tajam dan jambul yang unik.

Sejak kecil, ayam itu sangat jinak dan cerdas. Ia selalu mengikuti Cindelaras ke mana pun ia pergi. Saat tumbuh dewasa, ayam itu mulai berkokok dengan suara yang aneh namun merdu:

“Kukuruyuk! Tuan Cindelaras, anak raja Jenggala! Kukuruyuuuk!”

Cindelaras dan ibunya kaget. Ayam itu terus mengulang kalimat itu setiap pagi. Awalnya mereka mengira itu hanya keajaiban ayam ajaib. Namun lama-lama, mereka mulai bertanya-tanya, benarkah Cindelaras anak raja?

Cindelaras Pergi ke Istana

Ketika usianya menginjak dua belas tahun, Cindelaras mulai merasa ada panggilan di hatinya. Ia berkata kepada ibunya, “Ibu… izinkan aku pergi ke kota. Aku ingin tahu apa arti kokok ayamku.”

Ibunya berat melepas, tapi ia tahu anaknya punya takdir besar.

“Pergilah, anakku. Tapi jaga dirimu dan jangan lupakan asalmu,” pesan sang ibu.

Dengan bekal sederhana dan di temani ayam ajaibnya, Cindelaras menempuh perjalanan panjang menuju istana Jenggala. Di sepanjang jalan, ia menjadi perhatian banyak orang.

“Lihat! Ayam anak itu bisa bicara!”

“Bukan hanya bicara! Ia mengatakan bahwa pemiliknya anak raja!”

Suara itu akhirnya sampai ke telinga Prabu Raden Putra. Sang raja penasaran dan memerintahkan agar bocah bernama Cindelaras di hadapkan padanya.

Adu Ayam di Istana

Saat tiba di istana, Cindelaras memberi salam sopan kepada raja.

“Siapa namamu, anak muda?” tanya raja.

“Hamba Cindelaras, Tuanku.”

Raja melihat ayam emas di tangan bocah itu. “Apa benar ayammu bisa berkata bahwa kau anak raja?”

Sebelum Cindelaras menjawab, ayam itu sudah berkokok:

“Kukuruyuk! Tuan Cindelaras, anak raja Jenggala! Kukuruyuuuk!”

Semua orang terdiam.

Raja menatap tajam. “Jika kau benar anak raja, buktikan dengan keberanianmu. Aku tantang ayammu melawan ayam juara istana.”

Cindelaras menerima tantangan dengan tenang.

Keesokan harinya, lapangan istana di penuhi rakyat. Ayam emas Cindelaras berdiri gagah di arena. Lawannya adalah ayam petarung besar dan garang dari istana.

Namun dalam satu kali sabetan, ayam istana roboh. Semua orang bersorak.

Raja tertegun. “Ayam ini luar biasa…”

Namun lebih dari itu, hatinya mulai terusik. Ia melihat wajah Cindelaras yang begitu mirip dengan… seseorang.

“Siapa ibumu, anak muda?” tanya raja.

“Ibuku… adalah permaisuri yang di asingkan ke hutan bertahun-tahun lalu,” jawab Cindelaras lirih.

Kebenaran Terungkap

Mendengar itu, Prabu Raden Putra memanggil para pengawal tua dan tabib istana. Ia menyelidiki kembali kasus racun yang dulu membuatnya murka.

Akhirnya, sang tabib mengaku bahwa ia di paksa oleh Permaisuri Kedua untuk menjebak permaisuri pertama. Sontak, kemarahan raja membuncah.

“Permaisuri Kedua telah membohongi kami semua!” serunya.

Ia segera memerintahkan penjemputan ke hutan. Permaisuri Pertama pun di bawa kembali ke istana dengan penuh kehormatan. Saat Cindelaras memeluk ibunya di hadapan raja, air mata kebahagiaan pun mengalir.

Raden Putra berlutut di hadapan istri dan anaknya.

“Ampuni aku… karena ketidakadilanku, kalian menderita.”

Namun Permaisuri hanya tersenyum lembut. “Yang penting sekarang, kebenaran telah pulang ke rumahnya.”

Akhir yang Bahagia

Permaisuri Pertama kembali mendampingi raja. Cindelaras diangkat menjadi pangeran resmi Kerajaan Jenggala. Ayam emasnya hidup damai di taman istana, di rawat dengan baik oleh seluruh penghuni istana.

Rakyat pun bersuka cita. Mereka kini tahu bahwa kejujuran dan kebenaran selalu menang pada akhirnya.

Pesan Moral dari Kisah Cindelaras

1. Kebenaran pada akhirnya akan terbuka, walau sempat disembunyikan.

2. Keberanian dan kesopanan akan membawa kehormatan.

3. Jangan mudah mempercayai fitnah, karena keadilan butuh ketelitian.

4. Anak yang baik adalah anak yang tidak dendam, meski pernah di sakiti.

Baca Juga: Buku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Doa Penutup Dongeng Cindelaras

اللَّهُمَّ أَظْهِرِ الْحَقَّ لِأَبْنَائِنَا، وَاجْعَلْهُمْ أَصْحَابَ صِدْقٍ وَشَجَاعَةٍ، وَارْزُقْهُمْ تَكْرِيمَ الْوَالِدَيْنِ، وَاحْفَظْهُمْ مِنَ الظُّلْمِ وَالْفِتْنَةِ، وَارْفَعْ قَدْرَهُمْ بِالْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ، كَمَا رَفَعْتَ قِصَّةَ سِنْدِلَارَاسَ بِكَلِمَاتِ حَقٍّ وَآيَاتٍ مُعْجِزَةٍ.

Latin:

Allāhumma aẓhir al-ḥaqqa li-abnā’inā, waj‘alhum aṣḥāba ṣidqin wa shajā‘ah, warzuq-hum takrīma al-wālidayn, wa iḥfaẓ-hum mina al-ẓulmi wa al-fitnah, warfa‘ qadrahum bi al-‘ilmi wa al-ḥikmah, kamā rafa‘ta qiṣṣata Cindelaras bi kalimāti ḥaqqin wa āyātin mu‘jizah.

Artinya:

Ya Allah, tampakkanlah kebenaran kepada anak-anak kami, jadikanlah mereka pecinta kejujuran dan keberanian. Karuniakan mereka sikap memuliakan orang tua. Lindungilah mereka dari kezaliman dan fitnah, dan angkatlah derajat mereka dengan ilmu dan kebijaksanaan, sebagaimana Engkau mengangkat kisah Cindelaras dengan kata-kata yang benar dan tanda-tanda keajaiban.

Oleh: Izzayumna