DISTORSI

Rabu, 26 Januari 2011 14:30 administrator E-mail Cetak PDF

Apa yang anda pikirkan?
Tahukah anda bahwa garis pada gambar 1 dan 2 sebenarnya adalah garis yang lurus? Jika tidak percaya ambilah penggaris untuk membuktikannya. Menurut anda orang yang berjalan di tangga pada gambar atas sedang berjalan naik atau berjalan turun? Jika dia naik lalu kapan turunnya? Percayakah anda bahwa lingkaran pada gambar motif sidik jari sebenarnya adalah lingkaran yang sempurna, tidak lonjong?
Ternyata manusia itu begitu mudah untuk mengalami distorsi dalam memandang sesuatu. Melihat sesuatu seolah-olah gambaran tertentu padahal kenyataannya jauh dari apa yang dipersepsikan. Inilah manusia yang sebenarnya sangat lemah dan bodoh, mudah tertipu, tetapi begitu sombong dan takabur. Inilah bukti kongkrit apa yang nampaknya secara logika benar tetapi sebenarnya salah sama sekali. Maka jangan sampai logika kita, perasaan kita, hawa nafsu kita semata-mata (tanpa pertimbangan dari aspek lain), sebagai penentu kebenaran dalam hidup kita.

…………….

Dan hal ini berlaku bukan hanya dalam gambar di atas saja. Sebenarnya ini juga terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Begitu banyak manusia yang memandang baik perbuatannya, padahal sebenarnya mereka sedang menghancurkan diri mereka. Contoh ekstrim, seorang penganut pergaulan bebas, memandang indah petualangan ‘cinta’nya yang sebenarnya menghancurkan tatanan sosial, kehidupan pribadinya dan kehormatan dirinya. Seorang pemadat memandang nikmat kebiasaannya menyalahgunakan obat terlarang, padahal dia sedang membunuh secara perlahan dirinya sendiri.
Jangan-jangan konstruksi nilai dalam diri kita secara pribadi maupun secara kemasyarakatan juga seperti itu. Ter-DISTORSI. Terdistorsi oleh kepentingan ekonomi, oleh kepentingan mayoritas, oleh kepentingan politis, oleh kata ‘tidak ngumumi’. Dan celakanya kita secara pribadi dan secara kemasyarakatan justru memandang indah hal itu.
Allah membahasakan dalam Al Qur’an
Al Fath 48 : 12
Dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa. (12)
Al Hijr 15 : 39
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (39)
Inilah kita. Kita ini selalu dikelilingi setan yang selalu berusaha keras untuk menggelincirkan kita. Maka jelas sekarang bahwa logika kita, perasaan kita sudah disusupi oleh tipuan syaitan, sudah tidak obyektif lagi. Maka kita tidak bisa menggunakan logika dan perasaan semata-mata untuk menilai, menentukan keputusan, segala hal dalam kehidupan.

………………

Kita memerlukan standar yang obyektif, yang pasti dan kekal kebenarannya. Allah memberi petunjuk dalam hal ini
Al Mukminun 23 : 71
Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (71)
Al Maidah 5 : 48 – 49
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (48)
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (49)

……………………

Maka jika ingin selamat hidup di dunia dan akhirat, hanya ada satu cara. Gunakan Al Qur’an sebagai satu-satunya standar untuk menilai kebenaran dan sebagai petunjuk dalam menjalani hidup. Lalu di mana logika kita? Logika kita pakai dalam menganalisa pilihan yang tersedia. Dimana standar kebenaran dan garis besar haluan hidup sebagai dasar untuk memilih dari banyak opsi kehidupan adalah Al Qur’an. Logika juga dipakai dalam memilih opsi dalam realisasi pilihan yang sudah dibuat. Memilih pilihan yang benar secara nilai dan optimal secara kemanfaatannya dan minimal mudharatnya. Bener dan Pener.
Wallahu A’lam.

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 27 Januari 2011 10:28

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *