Di Balik Kisah Delvyn

Di Balik Kisah Delvyn
Di Balik Kisah Delvyn
Di Balik Kisah Delvyn
Di Balik Kisah Delvyn

Di Balik Kisah Delvyn – Suatu ketika ditengah tengah uforia warga pondok Sabilulhuda yang sedang merayakan tradis nyate bareng atau lebih tepatnya malam tasyrik. Terlintas ada suara baru yang belum terdengar sebelumnya.

Seorang anak kecil berusia 4 tahun dengan langkah malu-malu berjalan menghampiri keramaian kemudian mulai berbaur dan bermain bersama.

Anak itu bernama Delvyn, pipinya tembem, badan berisi, mata sipit, mulutnya imut, membuat semua orang gemas melihatnya.

Malam itu Delvyn terlihat sangat gembira,  bermain, berlarian, makan, dan bercanda dengan teman- teman barunya. Sesekali ia menghampiri ayahnya kemudian kembali lagi bermain sampai tiba saat ayahnya berpamitan dan berkata “Ayah pulang dulu yaa, ayah mau kerja mencari uang, Delvyn jadi anak sholeh yaa, nanti ayah ke sini lagi ..”

Seketika anak ini terdiam seakan ingin menangis, namun dengan keramaian saat itu membuatnya lupa akan kata-kata ayahnya. Malam mulai larut kemudian perlahan sepi, Delvyn pun mulai mencari ayahnya yang sudah kembali ke rumahnya.

Dengan muka sedih dan bingung ia mencari ayahnya, memanggil berjalan kesana kemari hingga tangisanpun tak terbendung lagi. Ia hanya  berkata “ikut ayah..ikut ayah…” berulang-ulang kali hingga lelah dan mengantuk.

Waktu menunjukkan pukul 01.30  dini hari dan akhirnya ia tertidur. Delvyn tidak pernah tahu kenapa ayahnya hanya mengantar dan menitipkan ke pondok , yang ia tahu ayahnya  akan menjemput dan membawanya pergi.

Baca Juga:

Perjalanan Adaptasi: Dari Luka Ke Tawa

Hari berganti hari Delvyn mulai beradaptasi dengan lingkungan pondok dan ia tidak lagi merasa sendiri. Suasana pondok yang selalu ramai membuatnya merasa nyaman di tengah-tengah keluarga baru.

Delvyn kecil adalah anak tangguh dengan segala memori yang tak tersampaikan, saat marah sedih hanya terlihat raut sendu di wajahnya. Perlahan ia mulai cerita tentang perasaan, kesedihan, ketakutannya, dan rasa trauma yang begitu dalam.

Delvyn lahir di Denpasar pada bulan Mei, kemudian dia tinggal berpindah- pindah tempat sesuai pekerjaan orang tuanya. Pada usia 2,5 tahun, ibunya meninggal karena sakit, kemudian ia tinggal bersama ayah dan keluarga baru ayahnya. Banyak luka yang mendalam sehingga pada akhirnya membawa Delvyn ke pondok.

Delvyn tumbuh menjadi anak yang penuh keceriaan, tidak lagi menahan tangis saat terjatuh ataupun tertawa terbahak-bahak dengan segala kelucuaannya. Ia juga selalu menikmati setiap makanan yang ada tanpa memilih-milih.

Cita-citanya ingin menjadi pemadam kebakaran, selain itu Ia senang sekali bercerita dan gemar menggambar dengan keabsrakannya.

Selang sebulan lebih di pondok akhirnya Delvyn  sekolah dan untuk pertama kalinya ia belajar dan mulai berbaur bersama anak-anak KB lainnya. Banyak perkembangan yang terjadi padanya, ia mulai penasaran dengan hal-hal baru dan mulai bertanya tentang banyak hal.

Sepulang sekolah ia selalu menceritakan pengalaman yang dialaminya, tentunya ia sangat gembira tiada tara. Sesekali ia bertanya tentang keberadaan ayahnya yang sampai detik ini tidak ada kabarnya sama sekali.

Waktu terus berjalan, tak terasa sudah melewat tahun pertama Delvyn di pondok, hingga lupa  seberapa banyak moment seru yang terjadi.

Belajar Mandiri Dan Arti Sebuah Kasih Sayang

Diusia 5 tahun, Delvyn harus mulai belajar mandiri dan tidur bersama teman- teman sebayanya. Awal yang berat memang, butuh waktu beberapa hari sampai ia benar-benar menerima kondisi ini. Karena setahun lebih ia tinggal dengan salah satu keluarga di pondok.

Ia takut tak lagi mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan pelukan hangat. Namun kini Delvyn mulai memahami bahwa kasih sayang itu tidak harus selalu bersama, tetapi akan terus ada walaupun terpisah.

Hari demi hari ia mulai terbiasa dengan kondisi ini, dan ia masih tetap Delvyn yang tangguh.

Meskipun hidupnya sederhana, namun kita selalu mengajarkan untuk selalu bersyukur. Baginya kebahagiaan bukan tentang apa yang di miliki tetapi siapa yang di sekelilingnya. Teman- teman pondok adalah saudara dan para pengasuh adalah sosok orang tua yang selalu ada saat ia butuh pelukan .

Pondok kami mungkin bukan rumah mewah dengan mainan mahal, namun di dalamnya ada cinta kasih, ketulusan, canda tawa anak-anak. Selain itu juga semangat hidup yang tidak bisa di beli dengan apapun. Delvyn adalah bagian dari keluarga pondok yang memberikan keceriaan dan harapan di masa depan.

Tanggung Jawab Orang Tua

Kisah Delvyn sejatinya menjadikan pelajaran agar kita sebagai orang tua haruslah bertanggung jawab atas kasih sayang, perhatian, dan perlindungan serta rumah untuk anak-anaknya.