Sudah satu minggu Marin di rumah tanpa keberadaan seorang ibu. Ia sudah mencari ke seluruh desa tetangga, namun hasilnya tetap nihil. Semenjak kepergian Ayahnya, Ibu Marin jadi murung. Sampai-sampai meninggalkan rumah seperti saat ini. Di usianya yang masih belia, ia harus hidup dan mencari ibunya seorang diri. Keberadaan tetangga yang jauh dari rumah, membuat tak ada seorang pun yang tahu akan keadaannya saat ini. Untungnya Marin sudah bisa menanak nasi dan memasak, berkat ibunya yang dulu pernah mengajarkan hal-hal tersebut.
Suatu hari, seorang tetangga menghampiri rumah Marin, tetangga itu bernama Pak Said, dan merupakan tetangga yang paling dekat dengan rumah Marin. Karena jarak rumah mereka yang lumayan jauh, membuat Pak Said tidak tahu akan keadaan keluarga Marin. Mereka berbincang-bincang mengenai keberadaan Ibu Marin. Tak segan, Pak Said mau membantu Marin mencari keberadaan Ibu Marin. Mereka mencari menuju Pasar Kota menggunakan motor butut milik Pak Said. Mereka sudah mencari dari pagi sampai malam, namun hasilnya tetap nihil. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing, mau tidak mau Marin juga kembali ke rumahnya.
Esok harinya, Pak Said datang kembali ke rumah Marin. Kini Pak Said mengajak Marin mencari ibunya ke Pusat Kota. Selama perjalanan, Marin meneteskan air matanya. Ia tidak tahu lagi harus mencari kemana. Dari kaca spion, Pak Said melihat Marin menitikkan air matanya di jilbab kecilnya. Sehingga membuat Pak Said menghentikan motornya di depan warung soto. Pak Said segera menenangkan Marin sambil mengajaknya sarapan di warung tersebut. Marin merasa mempunyai bapak baru, namun tetap tidak ada yang menggantikan bapaknya yang telah meninggal setahun yang lalu. Marin sangat berterimakasih kepada Pak Said. Ia tidak tahu dengan apa ia harus membalas jasa Pak Said.
Walaupun Marin belum menemukan ibunya, namun ia tahu perjuangan Pak Said yang telah membantunya mencari ibunya yang tengah hilang itu. Sampai kapanpun Marin tidak akan berhenti mencari ibunya yang tengah hilang entah kemana, dan tidak akan melupakan kebaikan Pak Said yang telah membantu mencari ibunya.***
(Latifah)











