
Dari Sindiran Ke Simbol PSI, Prabowo, Dan Politik Yang Tak Lupa – Dalam politik Indonesia yang kerap diwarnai oleh retorika dan rekonsiliasi, pernyataan Presiden Prabowo Subianto di Kongres PSI 2025 menjadi sorotan tajam.
Dengan gaya khasnya yang santai namun menyentil, Prabowo melontarkan sindiran hangat: “PSI partai masih kecil kok di kabinet banyak sekali. Belum ganti logo aja pengaruhnya sudah kayak begini, gimana ganti logo?”.
Kalimat ini, meski dibalut tawa, menyimpan makna dalam tentang dinamika kekuasaan dan loyalitas politik.
Dari “Pembohong” ke Panglima
Ironisnya, PSI yang kini mendapat tempat istimewa di Kabinet Merah Putih, pernah menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap Prabowo. Pada 2019, PSI menganugerahkan “Kebohongan Award” kepada Prabowo.
Menuduhnya menyebarkan narasi pesimistis dan data yang tidak akurat. Pernyataan seperti “99 persen rakyat Indonesia hidup miskin” di anggap sebagai bentuk manipulasi emosi publik.
Namun, waktu dan kepentingan politik mengubah segalanya. Prabowo yang dulu di cap sebagai “tokoh dengan kebohongan terbanyak” kini dielu-elukan oleh PSI. Bahkan menyebut Grace Natalie adalah salah satu tokoh PSI yang pernah ingin bergabung dengan Gerindra.
Transformasi ini menimbulkan pertanyaan: apakah PSI sedang menelan kembali ludahnya demi eksistensi politik?
Baca Juga:

Apakah masih Bisa Percaya Dengan Sistem Peradilan jika Fakta Peradilan Diabaikan Dalam Kasus Tom Lembong https://sabilulhuda.org/masih-bisa-percaya-dengan-sistem-peradilan-jika-fakta-peradilan-diabaikan/
Gajah Simbol Baru, Narasi Baru?
Perubahan logo PSI dari mawar ke gajah bukan sekadar rebranding visual. Gajah di pilih sebagai simbol kekuatan, keteguhan, dan solidaritas. Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, menyebut gajah sebagai lambang politik yang “bergerak pelan tapi berdampak”.
Bahkan Prabowo mengaku gajah adalah binatang kesayangannya, menambahkan lapisan emosional pada simbol baru PSI.
Namun, tak sedikit yang menilai logo ini sebagai bentuk ambisi yang tak seimbang. Kritik muncul bahwa gajah berkepala merah tanpa telinga melambangkan kesombongan dan ketidakpekaan terhadap suara rakyat.
Di sisi lain, Jokowi menyebut gajah sebagai lambang pengetahuan dan kebijaksanaan sebuah narasi yang ingin PSI tanamkan di tengah sorotan publik.
Politik Etis Atau Pragmatis?
Masuknya tiga kader PSI ke cabinet setara dengan partai besar seperti PKB menunjukkan bahwa ukuran elektoral bukan satu-satunya penentu kekuasaan. Pengamat menyebut ini sebagai bentuk “politik balas budi” Prabowo kepada Jokowi, mengingat kedekatan PSI dengan keluarga mantan presiden.
Di tengah sindiran dan pujian, publik di hadapkan pada dilema: apakah PSI masih menjadi partai anak muda yang idealis, atau telah menjadi bagian dari arus pragmatisme politik yang tak segan berganti warna demi kekuasaan?
Oleh: Ki Pekathik













