DARI RAKYAT UNTUK WAKIL RAKYAT INDONESIA – SYAIR INI AKAN DIBACAKAN DI RUANG SIDANG DPR – RI …
By Bambang Oeban
Wahai wakil rakyat,
dengarlah suara yang lahir dari jalanan berdebu, dari pasar-pasar yang lengang, dari sawah-sawah yang pecah karena kemarau. Suara ini bukan datang dari ruang ber-AC, bukan dari kursi empuk yang meninabobokan.
Suara ini datang dari rakyatmu, mereka yang dulu engkau janjikan kesejahteraan ketika kampanye, mereka yang rela antri, meneteskan keringat, bahkan berdebat di warung kopi hanya untuk memilihmu.
Namun kini, setelah kursi empuk itu engkau duduki, apakah engkau masih ingat wajah-wajah mereka? Ataukah sudah kabur ditelan cahaya lampu gedung parlemen yang mewah?
Sajak ini lahir bukan dari kebencian, melainkan dari cinta kepada negeri. Karena cinta itulah, rakyat berani menegur, rakyat berani bersuara, rakyat berani mengkritik. Sebab apa artinya wakil rakyat tanpa rakyat yang diwakili? Apa gunanya kursi kekuasaan, bila hanya jadi singgasana untuk memperkaya diri sendiri? Rakyat sudah terlalu lama bersabar, menunggu janji yang tak kunjung nyata.
Mereka menonton sandiwara sidang yang penuh drama, penuh intrik, penuh teriakan, seolah-olah negara ini hanya milik segelintir orang. Padahal, sejatinya negeri ini adalah rumah bersama, tempat di mana setiap orang berhak atas kesejahteraan, keadilan, dan harga diri sebagai manusia.
Dengarlah jeritan nelayan yang kehilangan lautnya karena reklamasi. Dengarlah keluh kesah petani yang sawahnya kalah oleh mesin impor. Dengarlah tangisan buruh yang gajinya tak cukup menebus harga kebutuhan pokok. Dengarlah guru yang mengajar dengan gaji pas-pasan, sementara pejabat negeri ini hidup berkelimpahan.

Wahai wakil rakyat,
janganlah tuli terhadap suara yang membangunkan. Janganlah buta terhadap kenyataan yang terhampar di depan mata. Jangan jadikan rakyat sekadar angka dalam daftar pemilih tetap. Jangan jadikan rakyat sekadar tameng untuk meraih kekuasaan.
Sajak pamflet ini adalah cermin, agar engkau bercermin. Bila engkau melihat wajah rakyat yang letih, itulah wajahmu. Bila engkau melihat rakyat yang lapar, itulah tanggung jawabmu. Bila engkau melihat negeri ini masih pincang berjalan, jangan salahkan siapa pun, sebab engkau yang memegang kendali.
Maka, dengarlah, sebelum rakyat benar-benar berbalik badan, meninggalkanmu dalam kehampaan sejarah.
Rakyat kecil adalah wajah sejati bangsa. Mereka yang menjajakan dagangan di emperan pasar, berteriak menawarkan sayur mayur dengan suara parau. Mereka yang berdesakan di angkutan umum, menggenggam harapan untuk pulang membawa nafkah.
Mereka yang tubuhnya legam terbakar matahari, mengayuh becak atau mengangkut barang di pelabuhan. Mereka adalah denyut kehidupan negeri ini, denyut yang seringkali tak terdengar di ruang rapat para wakil rakyat.
Lihatlah pedagang kaki lima, yang setiap hari dikejar aparat penertiban, sementara pusat perbelanjaan raksasa tumbuh dengan mudah berkat izin dari tangan-tangan berkuasa. Si pedagang hanya ingin bertahan hidup, tapi selalu dipaksa menyingkir demi kepentingan para pemilik modal.
Di mana wakil rakyat ketika itu? Bukankah engkau dipilih untuk melindungi mereka? Tataplah wajah buruh pabrik yang lembur hingga larut malam. Mereka mengorbankan tenaga dan kesehatan demi memenuhi target produksi.
Gaji mereka sering tak sebanding dengan keringat yang jatuh. Namun suara mereka kerap ditenggelamkan oleh kebijakan yang berpihak pada pemodal. Rakyat kecil seperti buruh hanya menjadi angka dalam laporan, bukan manusia yang berhak hidup layak.
Dengarlah kisah petani.
Mereka menanam padi, jagung, sayur, dan buah untuk memberi makan bangsa. Tetapi justru kalah bersaing dengan produk impor. Harga gabah jatuh, pupuk sulit didapat, dan tanah warisan perlahan tergadai.
Bukankah wakil rakyat seharusnya berpikir bagaimana negeri ini berdikari? Tapi yang terjadi, petani dibiarkan berjuang sendiri, menatap langit sambil bertanya: “Untuk siapa aku menanam?” Rakyat kecil sering dianggap remeh.
Suara mereka tak pernah sampai ke gedung parlemen, kecuali ketika masa kampanye. Mereka didatangi dengan senyum manis, janji-janji manis, dan salam hangat. Tapi setelah pemilu usai, semua janji lenyap bagai kabut pagi yang menguap diterpa matahari.
Wahai wakil rakyat, jangan kau anggap mereka hanya bayangan. Mereka adalah daging dan darah negeri ini. Mereka yang bekerja tanpa pamrih, meski tak pernah merasakan manisnya hasil negeri yang kaya raya ini.
Jika engkau benar-benar wakil rakyat, lihatlah ke bawah. Jangan hanya menengadah ke langit kekuasaan. Dengarkan suara mereka, karena dari situlah engkau mendapatkan legitimasi. Tanpa rakyat kecil, engkau bukan siapa-siapa. Dan bila engkau melupakan mereka, maka sejarah akan melupakanmu.
Wakil rakyat,
Dua kata yang seharusnya sarat dengan kehormatan. Dua kata yang seharusnya membuat siapa pun yang menyandangnya merasa malu bila menyeleweng. Namun kini, istilah itu kerap terdengar hambar, bahkan sinis, di telinga rakyat. Sebab terlalu banyak sandiwara dipertontonkan, terlalu banyak janji ditaburkan, tapi terlalu sedikit yang ditepati.
Lihatlah gedung megah tempat engkau bersidang. Bangunannya menjulang, dindingnya berlapis marmer, ruangannya sejuk ber-AC. Di dalamnya ada kursi empuk, mikrofon berderet, dan layar yang menayangkan agenda sidang.
Dari luar tampak gagah, tapi dari dalam sering menjadi panggung drama. Ada yang berteriak lantang seolah-olah membela rakyat, padahal di belakang layar sibuk membela kepentingan kelompok. Ada yang tertidur pulas saat sidang, seolah-olah urusan bangsa bisa ditunda hingga ia selesai bermimpi.
Ada pula yang rajin tampil di media, namun minim aksi nyata di lapangan. Wakil rakyat sering kali lebih sibuk mengurus partai ketimbang rakyat. Lebih sibuk menghitung kursi kekuasaan ketimbang menghitung nasib petani.
Baca Juga:

PEDAGANG RONGSOK REPUBLIK INDONESIA https://sabilulhuda.org/pedagang-rongsok-republik-indonesia/
Lebih sibuk membagi proyek ketimbang membagi kesejahteraan. Mereka lupa bahwa kekuasaan hanyalah titipan, bukan hak warisan. Mereka lupa bahwa kursi yang diduduki bukan singgasana, melainkan amanah yang berat dipertanggungjawabkan.
Rakyat mendengar kabar tentang rapat-rapat penting yang batal hanya karena kuorum tidak tercapai. Rakyat melihat sidang paripurna yang lebih banyak kosong ketimbang penuh. Rakyat tahu ada undang-undang yang diputuskan terburu-buru, tanpa melibatkan suara rakyat.
Lalu, untuk siapa engkau bersidang? Untuk siapa undang-undang itu dibuat? Bila rakyat selalu jadi korban, maka engkau bukan lagi wakil rakyat, melainkan wakil kepentingan.
Tak jarang rakyat mendengar kabar tentang amplop yang berpindah tangan, tentang uang haram yang mengalir deras, tentang proyek yang digoreng demi keuntungan pribadi. Kata “korupsi” sudah terlalu akrab di telinga bangsa ini. Ironisnya, banyak pelakunya justru orang-orang yang dulu bersumpah setia pada rakyat dan konstitusi.
Wahai wakil rakyat, apakah engkau lupa pada janji yang pernah diucapkan saat kampanye? Janji untuk menyejahterakan rakyat, janji untuk memberantas korupsi, janji untuk membawa perubahan. Kini janji-janji itu ibarat daun kering: rapuh, hancur, dan mudah ditiup angin.
Ingatlah,
rakyat tidak butuh pidato panjang. Rakyat tidak butuh drama di televisi. Rakyat hanya butuh bukti nyata: harga terjangkau, pendidikan murah, kesehatan mudah, pekerjaan layak, dan rasa aman di negeri sendiri. Bila engkau gagal memberikan itu semua, maka engkau bukanlah wakil rakyat, melainkan pengkhianat rakyat.
Dan sejarah bangsa ini akan mencatat, siapa yang benar-benar berdiri untuk rakyat, dan siapa yang hanya berdiri untuk dirinya sendiri.
Bangsa ini berdiri di atas darah dan air mata. Para pendiri negeri mewariskan sebuah cita-cita: kemerdekaan, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Namun kini, cita-cita itu kerap terasa jauh, seolah-olah hanya menjadi teks hafalan di sekolah, bukan ruh yang menghidupi bangsa.
Wahai wakil rakyat,
pernahkah engkau merenung, bagaimana para pejuang dulu rela mengorbankan nyawa demi selembar merah putih berkibar? Mereka berjuang tanpa gaji, tanpa fasilitas, tanpa jaminan, hanya berbekal keyakinan bahwa bangsa ini harus berdiri merdeka.
Mereka tidak berperang demi kursi, tidak berperang demi proyek, tidak berperang demi popularitas. Mereka berperang demi rakyat, demi tanah air, demi masa depan generasi. Bandingkanlah dengan hari ini. Semangat kebangsaan sering terkoyak oleh kepentingan sempit.
Politik identitas merajalela, rakyat diadu domba dengan isu suku, agama, ras, dan golongan. Padahal, bangsa ini berdiri di atas semboyan Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda tetapi tetap satu. Namun semboyan itu kerap dijadikan alat jualan politik, bukan pijakan moral untuk menjaga persatuan.
Kebangsaan kita terkoyak pula oleh kesenjangan sosial. Di satu sisi, segelintir elit hidup berlimpah harta, berkeliling dunia dengan mudah, makan malam di restoran mewah. Di sisi lain, jutaan rakyat antre beras murah, menahan lapar, atau bahkan mencari sisa makanan di tempat sampah. Apakah ini wajah bangsa yang diperjuangkan para pahlawan?
Lebih menyedihkan lagi, kekayaan alam yang melimpah justru lebih banyak dinikmati pihak asing. Hutan digunduli, tambang dikeruk, laut dicemari, sementara rakyat di sekitar sumber daya itu tetap miskin. Apakah ini yang disebut kedaulatan bangsa? Ataukah kita telah menjadi tamu di rumah sendiri?
Wahai wakil rakyat,
kebangsaan bukan sekadar menyanyikan lagu Indonesia Raya di awal sidang. Kebangsaan adalah keberanian menolak kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Kebangsaan adalah konsistensi membela kepentingan negeri, meski harus berhadapan dengan kepentingan asing.
Kebangsaan adalah keberpihakan kepada rakyat kecil, bukan kepada segelintir konglomerat. Jangan biarkan semangat bangsa ini terus terkoyak. Jangan biarkan sejarah memandang generasimu sebagai generasi yang gagal menjaga warisan perjuangan.
Karena kebangsaan bukan hanya warisan, melainkan amanah. Dan amanah itu berat, tidak bisa ditukar dengan uang atau jabatan. Ingatlah, bangsa yang besar bukan bangsa yang melupakan sejarahnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menjaga persatuan, memelihara keadilan, dan merawat martabatnya.
Wahai wakil rakyat,
sadarilah: kursi yang kau duduki bukan sekadar kayu berlapis busa, melainkan amanah yang akan kau pertanggungjawabkan di hadapan sejarah, di hadapan rakyat, bahkan di hadapan Tuhan. Amanah itu berat, sebab di dalamnya tersimpan harapan jutaan manusia, dari bayi yang baru lahir hingga orang tua yang menanti senja.
Engkau sering bersumpah atas nama rakyat, atas nama konstitusi, atas nama Tuhan. Tapi apakah sumpah itu hanya sekadar kata-kata yang dibacakan dengan lantang tanpa rasa gentar di hati? Sumpah bukanlah seremonial.
Sumpah adalah ikatan suci, pengingat bahwa setiap kebijakanmu, setiap tanda tanganmu, setiap keputusanmu akan berdampak pada kehidupan rakyat banyak.
Renungkanlah: ketika engkau memutuskan undang-undang, apakah engkau membayangkan wajah petani di desa yang bergantung pada tanahnya? Apakah engkau melihat wajah nelayan yang menatap laut luas dengan perahu kecilnya? Apakah engkau mendengar keluh kesah buruh yang hidup pas-pasan? Bila tidak, maka sesungguhnya engkau hanya menulis aturan untuk kepentingan dirimu sendiri.
Kebesaran seorang wakil rakyat tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang ia raih, tetapi dari seberapa besar ia memberi manfaat bagi rakyat yang memilihnya. Kebanggaan seorang pemimpin bukanlah berapa banyak harta yang ia kumpulkan, melainkan berapa banyak luka rakyat yang ia sembuhkan.
Bangsa ini tidak butuh wakil rakyat yang pandai berpidato tetapi miskin tindakan. Bangsa ini tidak butuh wakil rakyat yang pandai bermain kata tetapi gagap bekerja. Bangsa ini butuh wakil rakyat yang jujur, berani, rendah hati, dan sungguh-sungguh mencintai negeri ini.
Ingatlah, hidup hanyalah sementara. Jabatan hanyalah singgah. Kekuasaan hanyalah pinjaman. Pada akhirnya, semua akan kembali pada rakyat, dan rakyatlah yang akan mengingat: apakah engkau pemimpin yang setia, atau pengkhianat yang hanya berpura-pura.
Maka sebelum terlambat, dengarkan suara hati nurani. Bangunlah negeri ini di atas keadilan, bukan kepalsuan. Rawatlah bangsa ini dengan kasih, bukan kebencian. Tegakkan kebenaran meski terasa pahit, sebab itulah jalan yang akan menyelamatkan bangsa dari kehancuran.
Wahai wakil rakyat,
dengarlah baik-baik suara ini. Ini bukan sekadar kritik, bukan pula sekadar amarah. Ini adalah seruan aksi, panggilan nurani, agar engkau kembali kepada janji yang pernah kau ikrarkan di hadapan rakyat.
Ingatlah, engkau hanyalah wakil. Yang sejati pemilik negeri ini adalah rakyat. Engkau hanyalah pelayan, bukan penguasa. Engkau hanyalah perpanjangan tangan, bukan pemilik takdir bangsa.
Rakyat tidak menuntut istana emas. Rakyat tidak menuntut mobil mewah. Rakyat hanya menuntut keadilan, kesejahteraan, dan kebahagiaan sederhana yang seharusnya bisa dirasakan di negeri yang kaya raya ini.
Rakyat hanya ingin harga kebutuhan pokok terjangkau, pendidikan yang bisa digapai anak-anak mereka, pelayanan kesehatan yang manusiawi, dan pekerjaan yang layak tanpa harus merantau jauh.
Jangan lagi kau abaikan suara-suara kecil dari lorong-lorong gelap kampung, dari pinggiran rel kereta, dari gubuk di tepi sungai. Sebab suara-suara itulah yang akan menjadi badai bila terus kau bungkam.
Jangan lupa, sejarah bangsa ini berkali-kali membuktikan: bila penguasa lupa diri, maka rakyatlah yang bangkit mengoreksi. Maka, bangunlah kesadaran baru. Engkau dipilih bukan untuk menjadi raja, melainkan pelayan.
Engkau diangkat bukan untuk menguasai, melainkan untuk mengayomi. Jangan jadikan jabatan sebagai alasan menindas. Jadikan jabatan sebagai jalan pengabdian.
Dan kepada rakyat, janganlah lelah bersuara. Jangan biarkan suaramu padam hanya karena janji palsu. Kawal terus wakilmu, tegur bila ia salah, dukung bila ia benar. Demokrasi bukan sekadar mencoblos sekali lima tahun, melainkan mengawasi setiap detik perjalanan negeri ini.
Ingatlah,
negeri ini berdiri bukan karena kekuasaan segelintir orang, melainkan karena gotong royong seluruh rakyat. Bila rakyat bersatu, tidak ada kekuatan mana pun yang bisa menundukkan bangsa ini.
Maka, dari rakyat untuk wakil rakyat, dari rakyat untuk bangsa: jadilah pemimpin sejati yang bekerja dengan hati. Sebab bila engkau menutup telinga dari suara rakyat, maka sejarah akan menutup namamu dari lembar-lembar kejayaan bangsa.
Bangkitlah,
wakil rakyat! Sebelum terlambat. Sebelum rakyat benar-benar meninggalkanmu. Sebelum negeri ini menulis ulang kisahmu, bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai pengkhianat.
Dari Desa Singasari
Kamis, 1 Agustus 2025
Malam Kliwon
23.36













